Berada di persimpangan takdir seperti saat ini melayangkan pikiranku kepada kenangan masa kecil. Dulu ketika masih duduk di bangku TK, aku (dan aku yakin anda juga) sering ditanyai oleh para guru.
…
“Anak-anak, kalian kalau sudah besar ingin menjadi apa?”
Serentak, anak-anak mengacungkan tangan. Berusaha merebut perhatian Bu Guru, bahkan beberpaa anak ada yang berdiri supaya terlihat lebih tinggi daripada yang lain. Bu Guru dengan wajah gembira menanyai mereka satu persatu.
“Kamu ingin jadi apa?”
“Saya ingin menjadi presiden Bu Guru. Saya ingin memajukan dan menyejahterakan bangsa!”
“Wah bagus..Kalau kamu pengen jadi apa?”
“Kalau saya ingin jadi dokter. Jadi nanti kalau Bu Guru sakit, saya bisa mengobati ibu..”
“Wah bagus sekali cita-cita kalian. Bu Guru punya pesan untuk kalian. Gantunglah cita-cita kalian setinggi langit. Terbanglah setinggi mungkin untuk menggapai cita-cita tersebut.”
…
Mengingat saat itu, ah betapa menyenangkannya. Ketika itu, kita masih belum banyak dibebani pikiran dan tanggung jawab. Kita masih bebas, polos, dan apa adanya.
Kembali lagi ke topik, untuk memotivasi diri sendiri, saat ini aku mencoba menuliskan kembali beberapa pekerjaan impianku. Pekerjaan impian di sini memiliki arti yang kurang lebih sama dengan istilah cita-cita yang diperkenalkan kepada kita ketika masih kecil. Berikut adalah beberapa pekerjaan yang menurutku asyik, walaupun mungkin tidak bisa kurasakan.
Forensik
Setiap hari menghadapi kasus pembunuhan yang unik. Setiap hari memasuki tempat kejadian perkara yang berbeda-beda. Mengendus setiap sudut TKP, mencari secercah petunjuk. Mengumpulkan sidik jari, mencari jejak kaki, menganalisis noda darah sepertinya pekerjaan yang mengasyikkan. Setelah semua petunjuk ditemukan, kemudian membayangkan, membuat simulasi bagaimana sebuah kejadian pembunuhan terjadi. Mungkin aku tertarik karena novel The Bone Collector-nya Jeffery Deaver dan beberapa game bertema CSI (Crime Scene Investigation).
Penulis
Dapat bekerja di mana saja ditemukan inspirasi. Merangkai kata untuk mengikat makna. Memberikan motivasi, dukungan, pelajaran, dan teladan dengan menggunakan rangkaian peristiwa fiktif yang dirangkai dengan bahasa yang apik. Buku yang baik adalah buku yang dapat memberikan pengaruh positif kepada orang yang membacanya. Menjadi seseorang yang dapat menyampaikan pesan-pesan di atas menurutku sangatlah hebat. Dan aku tahu, jalan yang harus ditempuh tidak mudah. Deadline yang selalu mengejar menjadi tantangan tersendiri. Di blog inilah aku belajar untuk menulis, siapa tahu nanti ada yang tertarik. He3
Penerjemah
Berbekal dua buah kamus besar di tangan kanan dan tangan kiri. Setiap hari membolak-balik halaman mencari dan menemukan padanan kata yang bersesuaian. Kemudian memadukan kata-kata tersebut menjadi sebuah kalimat, paragraf, bab, dan akhirnya buku yang sesuai dengan makna aslinya. Menyampaikan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca spesifik sesuai dengan bahasa yang kita bisa. Dibilang santai, ya santai, dibilang sibuk ya sibuk. Dan yang pasti pekerjaan yang tidak dibatasi oleh empat dinding dan satu pintu.
Game Tester
Duduk berjam-jam di depan komputer. Memainkan game terbaru sambil mencari kejanggalan. Memberi saran untuk pengembangan game selanjutnya. Saat istirahat ya istirahat, saat kerja, ya bermain game. Wonderful isn’t it? Hobi bermain game merupakan salah satu alasanku masuk ke jurusanku sekarang. Walau sekarang sudah bisa mengendalikan diri (untuk tidak terlalu sering bermain game), membayangkan bekerja seperti itu tetap saja membuatku ngiler. Tapi dengan skill game sekarang, kayaknya tidak mungkin kucapai. Well, it’s a dream job, though.
Reporter
Berkeliling dunia untuk mencari kebenaran akan sebuah kabar. Memberikan kabar mengenai peristiwa dari satu tempat ke seluruh pelosok dunia. Mengasah keterampilan untuk merangkai kata untuk menjelaskan peristiwa dengan benar, tanpa memihak, tanpa ditutupi, dan tanpa pengaruh dari pihak lain. Berpacu dengan waktu untuk menjadi pemberi kabar tercepat dengan kualitas yang tak turun. Di satu sisi, kita selalu dipacu dengan waktu. Namun, di sisi lain kita mendapatkan kesempatan untuk menjelajahi pelosok dunia. Menangkap keunikan dunia. Travelling is one of the best teacher.
Developer[1]
Berhadapan dengan klien yang memiliki banyak keinginan. Membuat desain sistem yang robust. Setiap hari duduk berjam-jam di depan komputer. Menelusuri berjuta-juta baris kode program. Bekerja sama dalam tim untuk mengembangkan sebuah sistem yang perfect, bug free, maintainable, dan scalable. Meskipun untuk menjadi seperti ini sangatlah susah, tetap itu bukanlah sebuah hal yang mustahil. Besides, it looks cool, right?
Pemain igo professional
Tak, tak, tak. Jari tengah dan jari telunjuk bersatu untuk meletakkan biji ke tempat yang dianggap memiliki posisi paling bagus. Menganalisis kifu[2] diri sendiri sebelumnya dan pemain-pemain hebat masa lalu. Mempelajari dan menambah kosakata joseki[3]. Mengikuti pertandingan bertaraf internasional dengan hadiah yang lumayan. Bersaing dengan para pemain lain untuk menjadi yang terhebat. Sesaat terdengar sangat keren. Namun, dengan kemampuanku sekarang, biarlah menjadi keinginan saja
.
Pengajar
Mempelajari sesuatu yang baru. Berbagi ilmu. Membuat sesuatu yang susah menjadi mudah untuk dipahami. Membangun generasi muda bangsa. Menitipkan pesan moral, motivasi, dan doa agar menjadi generasi yang lebih bermanfaat. Mencari dan memberi yang terbaik[4]. Aku memiliki sebuah keyakinan bahwa sebuah ilmu, bila kita bagikan kepada orang akan mendapatkan paling tidak dua manfaat. Pertama, kita akan menjadi lebih paham. Kedua, kita pasti akan mendapat tambahan pengetahuan dari arah yang tidak kita harapkan sebelumnya.
…
“Mas, mas..”
“iya?”
“Jangan lupa mas. Yang penting lulus dulu..”
End of Dream.
[1] Developer yang kumaksud di sini lebih mengarah ke software developer dengan arti yang lebih luas. Termasuk di dalamnya programmer, system analyst, system architect, dan kawan-kawannya.
[2] Kifu: catatan pertandingan
[3] Joseki: pola-pola yang menguntungkan kedua belah pihak
[4] Wah, kayak slogan IPB aja ya..
Tak terasa, akhirnya kami pun sampai di stasiun Jakarta Kota. Maul dkk. mengambil jalan ke kiri, sedangkan aku dan Kikis ke kanan. Keluar dari pintu stasiun, kami berbelok dan menyeberang jalanan yang ramai menuju halte busway. Di sekeliling, terdapat pagar seng yang menandakan bahwa area tersebut sedang direnovasi. Setelah membeli dua tiket, kami pun memasuki palang pintu masuk. Tiket busway tersebut sudah berwarna putih, hanya tampak bekas tulisan di sana. Saat memasukkan tiket, aku kebingungan mengenai posisi yang benar. Sisi manakah yang harus di atas, sisi mana yang harus di bawah
Rupanya bapak ini tahu juga. Mungkin memang sudah terbiasa dengan anak-anak yang pergi ke JF untuk bermain igo. Kami masuk dan memencet lift untuk naik ke lantai 2. Hari libur, semua terlihat lengang. Lift pun kosong saat kami masuk. Setelah merasakan beberapa akibat hukum Newton, pintu pun terbuka. Mata kami disambut dengan dinding yang bertuliskan JAPAN FOUNDATION. Hawa igo semakin terasa ketika kami keluar dari lift. Kami berbelok ke kanan dan melihat pintu yang terbuka dan seorang petugas keamanan di dalamnya. Ia sedang duduk di depan sebuah meja dengan beberapa brosur di atasnya. Di samping kiri dan kanan terdapat spanduk sponsor. Kami pun masuk, mengambil beberapa brosur, dan terkejut.
Komentar Terakhir