Email!

31 10 2009

AROBAZE

Aku percaya bahwa hidup itu adalah sebuah perjalanan. Perjalanan ini terdiri atas berbagai macam petualangan yang selalu dapat kita pilih sesuai dengan keinginan kita. Dari sekian banyak petualangan, ada satu petualangan yang ingin kubagi kali ini. Petualangan di dunia blog yang telah mengantarkanku membuka berbagai macam petualangan lain yang tak kalah mengasyikkan. Lalu kenapa judulnya Email? Sabar bung, silahkan berpetualang membaca tulisanku sampai selesai ^^.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, aku memiliki blog di sini (yang sedang anda baca sekarang). Selain itu, aku juga memiliki blog lain yang kugunakan untuk melatih kemampuan berbahasa Inggris. Blogku yang satu ini juga kugunakan untuk berpetualang dengan dunia WordPress. Aku belajar untuk instalasi dan mengatur WordPressku sendiri. Selain itu, aku juga berpetualang dengan dunia domain dan hosting yang berbayar. Sekedar untuk merasakan bagaimana caranya dan menggali ilmu dari mas-mas customer service yang senantiasa bersedia membantu (he3.. maaf telah merepotkan ^^). Baca entri selengkapnya »





Sebuah Cerita tentang Spam

28 06 2009

Kurang dari dua tahun yang lalu, aku dan teman-teman satu angkatan menerima pembekalan praktek lapang dari universitas. Di dalam satu ruangan tersebut kami mendapatkan berbagai macam penjelasan dan pengetahuan teknis agar kami tidak terlalu terkejut dengan kondisi di tempat kerja. Salah satu topik yang menarik perhatian adalah penjelasan mengenai spam.

“Snopes” webcomic is a courtesy of xkcd.com

Spam atau junk mail adalah penyalahgunaan dalam pengiriman berita elektronik untuk menampilkan berita iklan dan keperluan lainnya yang mengakibatkan ketidaknyamanan bagi para pengguna web (Wikipedia). Pengertian spam ini bersifat subjektif, orang per orang. Apabila sebuah email menimbulkan ketidaknyamanan atau tidak diinginkan oleh seseorang, maka orang tersebut boleh menganggapnya sebagai spam.

Spam sudah mendarah daging dalam sejarah email. Di manapun kita membuat email, spam pasti akan menghampiri. Meski demikian, pihak penyedia email memberikan fasilitas khusus untuk menangani spam sehingga dapat mengurangi gangguan spam. Email yang masuk akan difilter dengan menggunakan logika tertentu oleh sistem dan dimasukkan ke folder tertentu supaya tidak mengganggu email utama yang kita terima.

Sepanjang pengalamanku menggunakan email, aku selalu mengira bahwa sistem filter ini diterapkan hanya untuk email yang masuk. Namun, rupanya aku salah.

Beberapa hari yang lalu, aku melakukan upgrade engine pada aggregator blog angkatanku. Meski aku pernah sukses melakukan upgrade sebelumnya, entah kenapa pada situs ini aku mengalami kegagalan. Jadi, dengan modal backup data yang aku ambil sebelumnya, aku mulai memasukkan data ke dalam sistem yang terpaksa aku install baru. Karena berbagai pertimbangan pula, aku terpaksa me-reset semua password anggota yang sudah terdaftar di sana.

Sebagai pengelola yang bertanggung-jawab, aku pun mengirimkan email notifikasi ke semua pengguna terdaftar aggregator. Kebetulan aku menggunakan GMail untuk mengirimkan notifikasi tersebut ke kurang lebih dua puluh alamat email secara serentak.  Pesan sudah ditulis, alamat sudah dimasukkan ke kolom BCC, lalu klik Send.

Beberapa detik kemudian, muncul beberapa email ke dalam inbox secara beruntun. Email-email tersebut ternyata adalah notifikasi kegagalan pengiriman notifikasi yang aku lakukan sebelumnya.

You're spamming!!

You're spamming!!

Sistem memberikan penjelasan sebab gagalnya pengiriman dengan sebuah link. Ternyata sistem menganggap notifikasi yang kukirimkan tersebut adalah spam karena banyaknya jumlah pengirim. Dan satu hal lagi, GMail juga melakukan filter spam untuk email yang keluar dari sistem.

Akhirnya, aku pun mengirimkan email ke milis angkatan untuk memberitahukan notifikasi dan prosedur penggantian passwordnya. Pelajaran kita hari ini: sistem/program melakukan apa yang kita perintahkan kepada mereka, walaupun itu belum tentu yang sebenarnya kita inginkan.

Ga nyambung ya? Anyway, stop spamming!





AKOSS#1:Delapan Mahasiswa Bayangan (1)

22 07 2008

Prolog

Cerita yang akan anda baca ini merupakan catatan perjalananku saat mengikuti Lomba ICT aka AKOSS di Semarang. AKOSS merupakan salah satu lomba penunjang PIMNAS XXI 2008. Penyelenggaraannya sendiri merupakan kali pertama dalam sejarah PIMNAS dan diharapkan kelanjutannya dalam PIMNAS selanjutnya.

Catatan yang akan anda baca ini hanya berupa coretan pendek berisikan opini diriku mengenai perjalanan ini. Rencananya catatan perjalanan ini akan kubagi menjadi dua episode. Bagian ini merupakan episode pertama, berisikan persiapan lomba dan dua hari pertama di Semarang. Bagian kedua nantinya akan berisikan kejadian dua hari terakhir, Closing Ceremony termasuk di dalamnya.

DISCLAIMER

Tulisan ini ditulis dengan menggunakan sudut pandangku. Segala kenarsisan yang mungkin akan terdapat pada tulisan ini mohon untuk dimaklumi. Have a nice read!! :D

Hari 0

Hari ini, pukul delapan malam, rombongan PIMNAS IPB akan berangkat ke Semarang. Namun demikian, tim lomba ICT (rombongan Departemen Ilkom untuk lebih tepatnya) akan berkumpul terlebih dahulu pukul tujuh untuk mempersiapkan segala perlengkapan yang akan dibawa.

Rombongan IPB yang berasal dari Departemen Ilkom sebenarnya berjumlah tiga belas orang. Lima orang di antaranya mengikuti PKMT sedang delapan sisanya mengikuti lomba ICT. Dari tiga belas orang tersebut, satu orang dari tim PKMT tidak bisa ikut karena sakit (semoga lekas sembuh ya We..).Rombongan ini akan didampingi oleh dua orang dosen, yaitu Pak Firman dan Pak Hari.

Delapan orang peserta lomba ICT ini mendaftarkan diri ke dalam tiga kategori yang tersedia. Kategori tersebut adalah aplikasi Desktop, Web, dan kreasi Distro. Delapan orang dibagi ke dalam lima kelompok kecil. Tiga kelompok di kategori Web, dan satu kelompok pada kategori Desktop dan Distro.

Siang hari sebelum berangkat, aku membantu temanku yang masuk dalam kategori Distro untuk mempersiapkan komputer yang akan dia pakai. Insan, begitu ia dipanggil masih belum menemukan komputer Departemen yang cocok untuk menampilkan semua kemampuan distro INSANUX miliknya. Acara siap-siap ini untungnya mendapatkan dukungan dari Departemen, mulai dari Pak Jatmiko, Pak Firman, Pak Fatur, sampai Pak Pendi (Terima kasih banyak ya Pak!!). Acara ini akhirnya selesai mendekati Maghrib.

Badanku terasa segar setelah mandi. Rasa capek akibat acara siang hari tadi sudah berkurang. Aku masih punya waktu sekitar satu jam lagi sebelum kumpul di Departemen. Meski rombongan IPB baru akan berangkat pukul delapan, kami telah sepakat untuk berkumpul terlebih dahulu pukul tujuh. Kami mempersiapkan semua perlengkapan yang akan dibawa, lalu mengangkutnya ke GWW, titik keberangkatan.

Waktu satu jam yang tersisa kugunakan untuk mengecek email, blog, dan mempersiapkan barang-barang yang akan kubawa. Aku tak sabar untuk segera berangkat, karena kali ini, aku akan kembali ke kampung halamanku. Saat persiapan selesai, aku baru tersadar kalau bawaanku cukup banyak, satu buah backpack dan satu buah tas jinjing berisi pakaian. Untungnya, Syadid, teman satu kostku, berbaik hati mau mengantarku.

Ada empat orang Ilkom di kostku (ditambah dua orang penghuni gelap :p). Pandu, masuk dalam tim PKMT, dan aku akan ikut berangkat hari ini. Dua yang lain, Syadid dan Ferdi kebetulan memiliki kendaraan yang bisa dipinjam :D . Meski aku sudah memberitahu Pandu untuk berkumpul jam tujuh, ia memilih berangkat terlebih dahulu untuk mengerjakan urusannya.

Akhirnya aku pun berangkat ke Departemen. Syadid mengantarku dengan K 6441 YD-nya. Ketika melewati pintu masuk belakang IPB, Sebuah sepeda motor mencurigakan mengikuti kami. Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata itu adalah Ferdi!! Dia ternyata ikut juga untuk mengantarku. Rupanya ia memang sengaja membuat kami terkejut. Sambil tertawa-tawa karena berhasil mengejutkan kami, ia terus mengikuti kami. Ada rasa senang dan haru yang muncul ketika mengetahui mereka mengantarku (spesial terima kasih untuk Syadid and Ferdi).

Akhirnya, kami pun sampai Departemen. Hanya ada Mirza yang sudah datang, lain tidak. Pak Firman yang sedari siang menunggu di kantor mengatakan bahwa memang belum ada yang datang. Setelah memastikan ada anggota tim yang berada di GWW (which is Alvira), aku dan Mirza pun mengangkut perlengkapan kami ke sana. Dan sekali lagi, aku meminta bantuan para pengendara, Syadid dan Ferdi, yang bersedia menolong kami (Double Thanks!!).

Pukul delapan di GWW. Suasana masih agak sepi untuk ukuran jumlah orang yang akan berangkat dengan empat bis. Tidak adanya koordinasi sempat membuat bingung. Ada daftar yang bertuliskan nama dan bis yang akan dinaikinya. Rupanya tim ICT berbeda bis dengan tim PKMT. Delapan orang akan naik bis IV dan sisanya naik bis III. Meski demikian, kami masih sedikit kebingungan mengenai mekanisme pengangkutan perlengkapan. Pak Firman yang biasanya dapat kami tanyai tiba-tiba menghilang. Aku pun berinisiatif untuk menelepon beliau.

“Bapak sekarang ada di mana?”
“Saya sekarang sudah di dalam bis IV. Anak-anak suruh cepat masuk saja.”
gubrak!! Rupanya pak Firman sudah berada di dalam bis IV.

Dengan segera,aku mengajak rekan tim yang lain untuk mengangkut perlengkapan ke bagasi. Dan beberapa menit kemudian, kami pun sudah berada di dalam bis dan siap untuk berangkat.

Empat bis yang kami tumpangi adalah Pahala Kencana. Bis ini dikenal dengan bis yang menyediakan makan malam dalam separuh (atau seperempat ya?) perjalanan. Oleh karena itu, ketika official IPB memberikan makan malam, aku sempat curiga kalau bis ini nantinya tidak akan berhenti untuk makan malam. Teman-teman yang lain cuek dan langsung menghajar makan malam yang disediakan. Alih-alih makan, aku mencoba mengirimkan pikiranku ke alam mimpi secepat mungkin. I’m exhausted..

Bersambung…





Rabu yang Panjang

10 07 2008

Sehari sebelumnya..

“Menurut Pak Wisnu, kira-kira yang bisa menjadi penguji saya siapa Pak?”

Pak Irman mungkin ya. Siapa lagi ya?”

Pak Heru sepertinya juga bisa Pak..”

“Oh ya,, pak Heru juga bisa. Sebentar saya tanya Pak Hari dulu. (Pergi ke kantor dosen)”

“Pak Hari, Kalau Pak Heru bisa tidak jadi pengujinya si Arif?”

“Bisa kayanya Pak.”

“(Kembali) Ya udah, kalo dari saya, Pak Heru.”

Beberapa menit kemudian, ketika aku menghubungi Pak Hari, beliau menjawab serupa. Dosen penguji yang beliau sarankan adalah Pak Heru.

Rabu, 100708, 0600hrs

Aku sudah menjelajah dunia maya, menunggu Pak Heru OL. Beliau mempunyai kebiasaan OL pada malam dan pagi hari. Aku terlonjak kegirangan ketika mengetahui kalau Pak Heru sedang OL. Perlahan dan hati-hati, aku mengirimkan pesan melalui YM. Baca entri selengkapnya »





Pertandingan igo 4 negara ke 5: Berangkat (1/3)

21 12 2007

Berangkat

“Kis, besok minggu ada acara ga? ke JF yuk,, ada pertandingan igo”

Pesan singkat itu kukirim ke Kikis,, seorang temanku yang juga penggemar igo. Aku berharap ia akan mau menemaniku lagi. Penuh harap aku menunggu jawabannya. Nihil, tidak ada jawaban sampai keesokan harinya[1].

Siang hari berikutnya, aku bertemu dengan Kikis di sela-sela pergantian kuliah. Ia mengatakan akan pikir-pikir dulu. Aku akan dihubunginya nanti malam, yaitu Sabtu malam. Rupanua aku tak perlu menunggu selama itu. Sorenya ketika kami bepapasan, ia sudah menyanggupi untuk ikut ke JF. Aku bersorak dalam hati.

Keesokan harinya, 0730, aku menelepon Kikis. Kami mengatur pertemuan di BNI. Segera aku melangkahkan kaki menuju ke sana. Setelah menunggu beberapa saat di sana[2], kami pun berangkat mengendarai motor. Tujuan selanjutnya: Stasiun Bogor.

Sesampainya di stasiun, macet seperti biasa. Meski jalanan sudah diatur satu arah, namun kemacetan seolah tak dapat dihindarkan. Becak, gerobak, motor, dan angkot berbaur menjadi satu menumbuhkan kesemrawutan laten. Merangkak, akhirnya kami pun sampai di tempat parkir stasiun. Beberapa motor terparkir di sana. Penjaganya masih nampak muda, mungkin masih sekitar dua puluhan tahun. Ia menanyakan jam motor akan diambil. Dengan mantap Kikis menjawab, “Nanti sore mas”.

Stasiun BogorAntrian pembelian tiket tidak terlalu padat, bahkan bisa dibilang sepi. Ada seorang ibu-ibu yang hendak membeli tiket Pakuan Express di depanku. Dari percakapannya dengan mbak-mbak penjual karcis, aku tahu kalau kereta tersebut sudah datang dan akan segera berangkat. Segera aku memasukkan rupiah dan meminta dua lembar karcis.

Situasi dalam kereta sudah cukup ramai. Kami berjalan menyusuri gerbong sambil celingak-celinguk mencari bangku kosong. Tiba di gerbong berikutnya, kami beruntung: ada beberapa celah di antara penumpang. Saat hendak duduk, pandanganku melayang pada tiga orang yang duduk pada bangku lain yang sederet dengan bangku yang akan kami duduki.

Salah satu dari ketiga orang tersebut rupanya menyadari kehadiran kami. Ia memberitahu kedua temannya dan melambaikan tangannya kepada kami. Kami pun batal untuk duduk dan berjalan mendekati mereka bertiga. Ketiga orang tersebut adalah teman satu jurusan, satu angkatan, dan satu almamater kami: Maul, Indra, dan Riza. Setelah sedikit berbasa-basi, obrolan kami pun dimulai.

“Mau ke mana??”

“Mau ke Dufan..”

“Tumben.. emangnya kenapa?”

“mumpung lagi ada diskon..”

“Ooo..”

“Kalian mau ke mana??”

“Mau ke JF”

“JF??”

“Japan Foundation, Summitmas. Eh tahu ga Summitmas di mana??”

“Kata si Riku sih di Sudirman. Tahu ga Sudirman di mana??”

“Naik busway aja.. turun di mana ya?? Dukuh Atas kalau ga salah”

“Kalo ga coba tanya Khadi deh.. Kan rumahnya sekitar sana..”

Aku kemudian mencari nomor Khadi dan mengirimkan sms padanya.

Di, kamu tahu summitmas ga? Kalo naik busway turun di mana??

Menunggu balasan, obrolan pun mengalir.

“Eh rip, kamu blom pernah ke dufan kan? Ikut yuk”

“udah pernah kok.. kamu juga belum pernah liat lomba igo kan?? Ikut aja Ndra..”

“Emang lomba apa?”

“Katanya sih empat negara, tapi ga tau juga..”

….

BuswayTak terasa, akhirnya kami pun sampai di stasiun Jakarta Kota. Maul dkk. mengambil jalan ke kiri, sedangkan aku dan Kikis ke kanan. Keluar dari pintu stasiun, kami berbelok dan menyeberang jalanan yang ramai menuju halte busway. Di sekeliling, terdapat pagar seng yang menandakan bahwa area tersebut sedang direnovasi. Setelah membeli dua tiket, kami pun memasuki palang pintu masuk. Tiket busway tersebut sudah berwarna putih, hanya tampak bekas tulisan di sana. Saat memasukkan tiket, aku kebingungan mengenai posisi yang benar. Sisi manakah yang harus di atas, sisi mana yang harus di bawah[3]. Setelah diberi penjelasan sedikit (sangat sedikit) akhirnya aku pun berhasil melewati pintu dengan selamat diselingi senyum Kikis.

Meski jarak antara pintu masuk dengan pintu ke busway hanya sekitar satu meter, kami harus berjalan memutar sekitar lima meter untuk sampai ke sana. Ada bis yang sedang berhenti, sayangnya, saat kami sampai di pintu bis sudah berjalan. Kami pun menunggu giliran berikutnya. Beberapa menit kemudian, bis pun datang. Kami dengan penuh semangat memasuki bis yang lengang.

Bis busway berwarna merah dengan lambang garuda (atau elang?) di tubuhnya. Hawa sejuk menyelimuti kami ketika kami masuk. Ada petugas yang berjaga di depan pintu. Sekilas, bis ini seperti layaknya bis mini biasa. Bedanya, ada pendingin udara, tempat duduk di pinggir seperti di KRL, dan terawat (?). Kami pun duduk di kursi belakang menghadap ke depan. Saat bis berjalan, aku melayangkan pandanganku ke luar, melihat dan mencari apa yang membuat Jakarta bisa meningkatkan urbanisasi.

Tak terasa, kami pun sampai di Dukuh Atas. Kami pun turun dan bertanya-tanya. Ternyata Summitmas masih agak jauh. Kami seharusnya turun di Gelora Bung Karno. Alhasil, kami pun naik busway lagi[4]. Beberapa halte terlewati, hingga aku melihat gapura yang dituliskan dengan penuh kebanggaan.

GELORA BUNG KARNO

Kami pun turun dengan perasaan senang. Pada penjaga busway, kami bertanya mengenai Summitmas. Jawabannya membuat perasaan kami semakin bahagia, “Oh di sana mas. Naik jembatan penyeberangan ini saja, trus jalan sedikit ke sana.”, sambil menunjuk. Langkah kaki kami berdebam saat kami berjalan melewati jembatan logam. Di seberang, kami meloncat turun dan melanjutkan perjalanan kami yang tinggal sedikit.

Beberapa gedung tinggi kami lewati. Sampai pada akhirnya perjalanan kami berhenti di gedung Summitmas. Summitmas adalah dua gedung putih. Di tengah-tengahnya ada sebuah rumah makan yang menyediakan free hotspot area. Satu yang kulupa adalah di gedung yang manakah JF berada?? Satpam yang kami tanyai menunjukkan jalan. Kami harus melewati gang yang menjadi jalan pintas ke gedung tersebut. Satpam kedua menunjukkan arah pintu masuk gedung. Satpam yang ketiga menanyakan tujuan kami, “Mau kemana Mas?”

“Mau ke Japan Foundation di mana ya Pak??”

“Di lantai 2 mas. Oh tulis nama aja di sini Mas”, katanya sambil membuka stiker label.

“Saya perlu ga Pak?”

“Ga usah, satu aja. Oh ya ini dipakai”, sambil mengulurkan label.

“Dipakai di mana Pak??”

“Tempelkan aja di baju”

Label tersebut berstempel logo Japan Foundation dan kutempel di jaket.

“Mau main igo ya Mas??”

“Iya Pak.. terima kasih ya Pak”

“Iya Mas sama-sama”

Japan FoundationRupanya bapak ini tahu juga. Mungkin memang sudah terbiasa dengan anak-anak yang pergi ke JF untuk bermain igo. Kami masuk dan memencet lift untuk naik ke lantai 2. Hari libur, semua terlihat lengang. Lift pun kosong saat kami masuk. Setelah merasakan beberapa akibat hukum Newton, pintu pun terbuka. Mata kami disambut dengan dinding yang bertuliskan JAPAN FOUNDATION. Hawa igo semakin terasa ketika kami keluar dari lift. Kami berbelok ke kanan dan melihat pintu yang terbuka dan seorang petugas keamanan di dalamnya. Ia sedang duduk di depan sebuah meja dengan beberapa brosur di atasnya. Di samping kiri dan kanan terdapat spanduk sponsor. Kami pun masuk, mengambil beberapa brosur, dan terkejut.

BERSAMBUNG..

Sumber gambar:

Busway : http://jkt.detik.com/adv/busway/index.html

Japan Foundation : http://www.archivolto.it/contentmanager_data/images/F08112006142825.gif


[1] Maklum di kamar kost-ku ga ada sinyal.. :D

[2] Yang menunggu Kikis, bukan aku .. soalnya aku harus ambil uang dulu..

[3] Pertama, this is my first time using busway, Kedua, there’s no such as manual.. Don’t make me think..

[4] Untung belum keluar dari halte. Jadi ga usah beli tiket lagi..





lilinkecil(4)

30 08 2007


Yan opened the curtain, which was covering the booth. Slowly, he stepped in and took a sit on the plastic chair. He then logged into the computer, after entering his name. After challenging Bowie, he opened his browser and typed the site address. Minutes later, he finally found the room Bowie had been talking about. He enthusiastically entered his username and password then entering the Beginner Room. A small window popped up and he could see it was loading Applet .
It had been awhile when finally the Applet finished its loading. Yan could saw a vertical line separating the window into two sides, left and right. In the left side, there was a list of tables, either empty or not. On the right side, there was a horizontal line separating this side into two, upper and bottom. The upper right there was a list of online username and the bottom was a chat place.
After exploring the window for a while, Yan started opened an empty board. He then sent challenge letter to fight in nine by nine boards and gave the chance of picking the stone to mem_morris. Not long, he saw a small popup said that mem_morris had accepted his challenge. The battle had just started.

to be continued…





lilinkecil (3)

18 08 2007

The house was not big. There were fences surrounding it. On the left side, there was a gate door left opened. Inside it, you can call it a parking area because there were some motorcycles parked there. In the front of the gate, there was a small board with a blue writing on it. It said “Phi Vhi Internet and Game Center”. This house was the destination of these two boys.

Bowie parked his motor on the space inside, while Yan parked his near the gate. After make sure that their motor well locked, they were going inside. Entering the door, Bowie saw some small booths on the left side. On the right side, there were a refrigerator, a receptionist table, and a door that led to a room with more booths inside. A girl was in charge in the table. Bowie stepped closer to the table then spoke to the receptionist, “Are there any computers left?”. The question drew the girl’s attention. She glanced to Bowie and Yan for a second, then looked at her computer for a moment and said, “Yup, there were some. How many will you use?”. “We’ll take two”, Yan made a sound. “Okay, go to the booth number 9 and 12. They are yours.,” said the girl then. “Thanks a bunch”, smiled Bowie then walked to the second room on the right followed by Yan.

Bowie was entering booth 12 when he heard the voice of Yan. “Let’s take a battle, shall we?” said Yan who looked so excited. “Okay, but you must login first”, Bowie answered. After login into his account, Bowie entered into Games section and started looking for empty boards. Moments later, he started to play with many people. In the middle of the game, an invitation came into him. It was from mon_shoe. He challenged Bowie in nine by nine boards and gave the opportunity to Bowie to pick the stone. After picking the black, Bowie clicked his mouse pointer to the accept button.

to be continued…