Lomba iGo GJ-UI 13 : a long journey

“Kuliah kripto diganti hari Sabtu jam 8!!”

Waduhh.. Untung jam 8, semoga saja masih sempet. Rencananya hari Sabtu ini, aku akan pergi ke UI. Untuk apa? Ada lomba igo yang akan diselenggarakan dalam rangkaian acara Gelar Jepang, dan aku kebetulan sudah terdaftar menjadi salah satu pesertanya. Berarti setelah kuliah, kami (aku dan Kikis, peserta juga) akan berangkat ke sana. Sayangnya, beberapa hari menjelang hari-H, kami mendapat kabar bahwa kuliah kripto akan diundur menjadi jam 10. Ini membuat kami sedikit kehilangan semangat, tapi ya.. nothing to lose lah.. Akhirnya kami tetap akan berangkat setelah kuliah, semoga masih sempat..

Hari yang ditunggu pun tiba. Sebelumnya aku sudah menghubungi cp pertandingan di sana, bahwa mungkin kami akan terlambat karena ada kuliah mendadak. So, kalau misalkan memang sudah waktunya mulai, kami akan mengundurkan diri (WO). Sebelum masuk ke kelas, aku menitipkan peralatan untuk komunitas yang seharusnya aku hadiri jam 1 siang (maaf-maaf..) ke Uud. Kemudian aku menunggu di kelas yang masih tampak sepi walau waktu sudah mendekati pukul 10.

Lima belas menit kemudian, belum nampak tanda-tanda kehadiran dari bu Shelvy yang akan mengajar hari ini. Setelah melihat ke papan tulis, ternyata ada tulisan :

Bayu : “Hen, tolong kasih tahu ke anak-anak, ibunya telat”

Heni : “Toink, tolong tulis di papan tulis donk kalau ibunya telat”

Toink : “Iya, udah aku tulis”

Akhirnya, sekitar jam setengah sebelas, ibunya datang juga. Setelah persiapan, maka kuliah pun dimulai. Di sebelahku, si Khadi udah mulai terkantuk-kantuk.

“Jangan harap kau bisa tidur bila kau duduk di sebelahku..”

“Ampun.. Rif, abis ini g mau ke Cibinong naik motor. Entar kalau ngantuk gimana?”

“Ya berhenti, atau kalo nggak naik angkot aja.. Kan bisa sambil tiduran gitu”

“Entar kalo kelewat gimana?”

“Ya balik lagi.. Kan bisa sambil tidur lagi..”

Slide kuliah sudah mendekati penghujung (37/50) dan waktu sudah menunjukkan pukul 11.40. Nyampe ga ya?? Saat menghubungi cp kemarin, ia berkata kalau lombanya akan dimulai jam setengah satu setelah workshop jam dua belas. Kikis kemudian melambai-lambaikan hapenya. Ternyata sang cp meneleponnya. Ketika aku mengecek hapeku, ternyata tertulis “Insert SIM”, wah error lagi nih. Kurang 20 menit lagi.. Tak disangka, ibunya menceritakan tentang kasus pemalsuan dan penyalahgunaan bahan kimia yang sering terjadi belakangan ini.. Ayo dong bu, fokus ke pelajaran aja.. Pukul 12 teng, kuliah akhirnya selesai juga..

Bergegas, aku dan Kikis naik motor menuju ke Bank. Mau ambil uang dulu katanya. Beberapa menit kemudian, kami sudah melaju menuju stasiun Bogor. Kami tiba di stasiun jam satu kurang dua puluh. Dan KRL akhirnya bergerak juga jam satu pas.

Di dalam kereta, kami yakin kalau kami memang sudah tidak bakal sampai tepat waktu. So, kami santai-santai saja.. Sekitar jam dua, kereta sampai di stasiun UI.

Di UI, cepat-cepat kami menyusuri jalan. Walau sempat kesasar, akhirnya kami sampai juga di Pusat Studi Jepang. Kami masuk dan mencari tempat salat. Setelah salat, kami berjalan perlahan sambil melihat-lihat pertunjukan yang ada. Saat itu sedang ada pertunjukan bela diri karate yang ramai dikerumuni massa. Ada juga beberapa game Arcade semacam yang ada di Timezone. Kemudian kami pun berjalan menaiki tangga menuju lantai dua, tempat lomba igo digelar.

Ruang 215, di pintu kaca tertempel hiasan bertuliskan “lomba igo”. Kami pun bergegas masuk. Di sebelah kanan pintu terdapat papan bertuliskan tree sistem gugur berisi nama peserta. Wah, ternyata sudah sampai perdelapan final. Pesertanya ada 15 (seharusnya 16, jika Kikis dan aku jadi ikut). Di sebelah kiri ada beberapa meja. Ada sekitar 8 papan disana, ada yang 13×13 dan ada yang 19×19. Beberapa orang tampak sedang asyik bermain, salah dua-nya adalah Daniel dan Kairu. Aku pun bertanya pada si cp yang tampak sibuk (kasihan..). “Mbak, sudah di WO ya??”

“Oh, kirain siapa. Iya, maaf ya.. Kok baru datang”

“Oh maaf mbak, habis dari kuliah”

“Ya, udah kalau mau main, main aja. Ada papan yang kosong kok”

Setelah berkeliling melihat yang sedang bermain, aku pun mengajak si Kikis untuk bermain di baris kedua. Walau sempat direpotkan, aku pun berhasil mengalahkan Kikis dengan papan 13×13. Baru setelah selesai, orang yang sebelumnya duduk di baris pertama berkata, “udah selesai yah.. baru mau nonton”.Kikis pun mengajak (baca : menantang) pemain baris pertama tadi untuk bermain. Aku berpindah tempat duduk di samping Kikis untuk melihat permainan mereka.

Dari beberapa langkah awal yang diperagakan, aku tahu kalau pemain yang dihadapi Kikis ini sudah cukup lancar (baca : jago) bermain igo. Saat Kikis agak terdesak, aku keluar untuk pergi ke belakang. Di jalan, aku berpapasan dengan si cp yang menanyakan apakah sudah bermain. “Sudah..”, jawabku sekenanya. Setelah memenuhi panggilan alam di tempat yang menurutku cukup bersih (kalau dibandingkan dengan yang ada di IPB), aku pun kembali ke ruangan igo.

Sesaat melihat ke papan Kikis, ternyata keadaan sudah berbalik. Kikis berhasil membuat mata di sudut wilayah lawan. Waw.. nice shot.. Kami pun kemudian berkenalan dengan si pemain yang ternyata bernama Rifki. Si Rifki kemudian berusaha membuka peluang di sudut pertahanan Kikis, namun sayang, usahanya berhasil digagalkan Kikis. Sambil bermain, Rifki bergumam, “Wah jago.. untung ga jadi ikut.”. Aku dan Kikis pun hanya tersenyum simpul. Setelah pertandingan dinyatakan selesai oleh Daniel, ternyata Kikis menang sekitar 8.5 mata. Great game!! Karena Rifki harus melanjutkan pertandingan resminya, kami pun keluar untuk mencari makan.

Di luar, Kikis kebingungan ingin membeli makanan apa. Konomiyaki (CMIIW) sudah habis. Hanya tinggal Dorayaki dan berbagai macam hotdog yang tersisa. Sambil menentukan pilihan, kami melihat terlebih dahulu aksi para ninja memanjat pohon. Kemudian, kami pun akhirnya membeli hotdog seharga 15 ribu (wah, mahal banget..). Setelah makan dan berjalan-jalan sebentar, kami pun kembali ke lantai dua.

Di lantai dua, ruangan igo, tampaknya babak final akan segera dimulai. Pemain yang akan bertanding adalah Pipin melawan… Rifki? Wah, ternyata si Rifki lolos hingga ke babak final. Berbeda dengan babak sebelumnya, babak final menggunakan papan berukuran 19×19. Serentak perhatian semua orang tertuju pada pertandingan, ada Daniel, Sandan, Kairu, dan peserta lain. Setelah melihat beberapa langkah awal (langkahnya sudah mendekati pro..), aku pun mengajak Kikis bertanding lagi. Pertandingan babak final pun berakhir tak lama kemudian. Pemenangnya adalah Pipin. Setelah itu, diadakan pertandingan penentuan juara ketiga, sementara Pipin bertanding melawan Daniel. Saat itu, permainanku melawan Kikis masih belum selesai. Setelah melawan Daniel, sekarang giliran Sandan untuk bertanding dengan Pipin (kok jadi seperti test gitu yah??). Pukul setengah lima, semua pertandingan selesai, dan kami keluar menuju tempat salat.

Setelah salat, kami memasuki auditorium untuk melihat pameran lukisan dan foto Jepang. Walau tidak sampai berdesak-desakan, auditorium ini cukup ramai dihadiri pengunjung. Di setiap sisi, terdapat beberapa stand yang menjual asesoris dan pernak-pernik karakter dalam komik dan game. Di sudut, ada jasa penulisan nama dengan kaligrafi kanji. Setelah capek melihat-lihat, kami pun menuju ke stasiun untuk pulang.

Karena saat itu adalah hari Sabtu, kami memutuskan untuk menuju ke stasiun Gondangdia terlebih dahulu kemudian naik Pakuan menuju Bogor. Setelah membeli tiket dan salat di stasiun Gondangdia, kami menunggu kedatangan Pakuan. Di belakang stasiun, aku dapat melihat suasana gedung di Jakarta saat senja. Cukup indah ternyata… Di bawah stasiun aku melihat Pasar Gondangdia yang terlihat lengang.

“Pakuan express tujuan Bogor terakhir sedang tertahan di stasiun Gambir”

Wah, rupanya kereta kami hari ini terlambat datang. Setelah menunggu sekitar setengah jam, Pakuan pun akhirnya tiba. Kereta cukup ramai, namun masih banyak tersedia bangku yang kosong. Setelah mendapatkan tempat duduk, kami pun beristirahat menanti perjalanan menuju Bogor.

Sesampainya di Bogor, kami bergegas memacu kendaraan menuju kampus. Jalan ternyata macet dengan antrian yang cukup panjang. Kami pun sepakat melalui jalan menuju Karya Bakti dan menuju Cifor. Di tengah jalan, tak disangka ban motor Kikis bocor. Untung sudah dekat dengan tempat kostku. So, kami pun berpisah di sana. Sesampainya di kost, ternyata keadaan sepi, hanya ada Adid yang masih bangun. Perjalanan pun berakhir sampai di sini…

“Hidup harus berprinsip, jangan mudah terpengaruh”

Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

6 Komentar

  1. cira

     /  Mei 16, 2007

    hari yang panjang…
    dan seru!
    emang “waktu” itu ternyata adalah hal yang sangat penting

    Balas
  2. hiks.. hiks….
    nobody can’t stop the flow of time…

    Balas
  3. kgs player

     /  Mei 19, 2008

    hi arifin.. turut menyesal kamu ga jadi ikut lomba igo nya..

    btw.. account kamu maen di kgs juga ga??

    account kamu di kgs apa?

    Balas
  4. not arifin.. it’s arifn..😦

    sekarang sih udah agak jarang..
    nick di kgs: fallenOne..
    masih cupu kok kk..

    Balas
  5. LOL yg ikut tau lalu jago2 tuh. masa iya si pipin masuk grup pemula

    Balas
  6. iya..
    kemaren kan masalah pengkategorian dipertanyakan..

    kesimpulannya:
    pemula adalah orang yang belum pernah mengikuti kejuaraan igo sebelumnya..

    aku juga pemula deh..😀

    Balas

Ada apa di pikiranmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: