Paradox: Here and Now

Paradox atau paradoks.. sebuah kata indah yang diperkenalkan padaku oleh Andrea Hirata. Tak kusangka, aku akan menggunakan kata tersebut sekarang.

Beberapa minggu yang lalu,, aku berkunjung ke tempat kost salah seorang temanku. Seperti biasa, mataku secara sigap melihat-lihat semua buku yang ada di sana. Kebetulan temanku yang mendiami kamar tersebut tidak ada di tempat, dan aku ditemani oleh teman satu kost-an beda kamar. Di sana, aku melihat sebuah buku pelajaran,, atau lebih tepatnya sebuah modul,, pengajaran mengenai pembuatan web dengan PHP. Satu hal yang membuat aku sampai terpikir (mungkin sampai saat aku menulis ini) mengenai buku tersebut adalah buku itu berasal dari sebuah Lembaga Pendidikan Komputer yang ada di kota ini. Dengan kata lain, buku itu bisa didapat dengan cara menjadi murid (atau mungkin pengajar) di LPK tersebut.

Penasaran karena hal ini, aku menanyakannya kepada teman kost-nya (secara kebetulan, temanku juga).  Ia menjelaskan bahwa si empunya kamar memang sedang menuntut ilmu di LPK tersebut. Setiap beberapa kali dalam seminggu, ia menyempatkan waktu untuk pergi dan belajar ke sana. Tak lupa dengan menyertakan beberapa rupiah untuk dibayarkan kepada pihak LPK tersebut (yang pasti tidak gratis..)

Setelah mendengar penjelasan temanku tersebut, ingatanku melayang pada kejadian beberapa minggu sebelumnya. Saat itu (sampai saat aku menulis ini) aku mengikuti salah satu komunitas yang diselenggarakan oleh sebuah himpunan mahasiswa. Tujuan awal dari komunitas tersebut jelas, ingin meningkatkan kemampuan di bidang komputer. Itulah yang menjadi alasan mengapa aku mau bergabung dalam komunitas tersebut.

 Hari itu seperti hari biasa, kecuali bahwa anggota komunitas sedang berkumpul untuk menentukan langkah strategis untuk memperdalam ilmu kami  dengan jangka waktu komunitas yang tak lama lagi habis. Salah satu ide yang muncul adalah dengan teknik multilevel. Nantinya ada lima orang yang akan belajar secara langsung pada seorang guru (sudah ada), kemudian kelima orang tersebut akan mengajarkannya pada anggota lain yang telah ditentukan. Satu orang akan mengajarkan kepada lima sampai enam orang.

Setelah usulan tersebut disepakati (beberapa orang tidak hadir dengan alasan yang tidak jelas), tibalah saatnya untuk pemilhan kelima orang tersebut. Anehnya, tidak ada anggota yang bersedia. Melihat kesempatan ini, aku pun mengajukan diri, untuk memberi semangat pada yang lain. Nihil, masih tidak ada yang bersedia. Baru setelah dipaksa oleh beberapa pengurus, ada anggota yang mau. Itu pun kebanyakan adalah pengurus itu sendiri.

Sebuah paradoks, di satu sisi aku melihat ada temanku yang rela menghabiskan rupiah dan waktu untuk mendapatkan sebuah ilmu. Di sisi lain, aku melihat para anggota komunitas yang disodorkan ilmu tepat di depan hidung, tapi mereka malah menutup hidungnya. Apa yang terjadi??

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

10 Komentar

  1. insanul

     /  Desember 15, 2007

    Wah…kok bisa ya ! Padahal saat ini jarang ada yang gratis loh, apalagi menuntut ilmu. Apa ada pikiran bahwa yang gratis itu murahan?

    Balas
  2. mungkin aja.. tapi ga semua yang gratis itu murahan kan??
    contohnya aja Linux.. Gratis tapi ga murahan.. 😀

    ga tau tuh apa yang ada di pikiran mereka..

    Balas
  3. yup sekarang eranya opensource…belajar komputer sumbernya di internet jg banyak.malah aku heran ngapain ikutan lembaga pendidikan komputer segala.semua bisa dipelajari mandiri,baca2,tanya2 ahlinya,diskusi2 baik langsung ataupun via milis…

    nah yg perlu dibangun adalah paradigma,ttg arti penting ilmu tersebut…mau dipake apa ilmu itu nanti.utk kerja?atau utk sesuatu yg lebih besar.semangat n selamat menuntut ilmu…

    damai mas damai:)

    Balas
  4. wah mas ery ini.. bahasanya tingkat tinggi… jadi kalah..😀

    iya sih mas.. yang pasti tujuannya untuk sesuatu yang lebih baik..

    p.e.a.c.e…

    Balas
  5. ya mesti tinggi2 dong.kita kan mahasiswa.

    Balas
  6. asal jangan tinggi hati aja ya kang..

    Balas
  7. Kalo kamu peduli dengan orang lain, mereka mengacuhkanmu. Jika kamu tak peduli dengan orag lain mereka memohon kepadamu. Hanya sedikit logika di alam indonesia ini.

    Balas
  8. so what do u think should i do then??

    Balas
  9. Henri H.

     /  Januari 31, 2008

    Gw mau tuh jd yg blajarnya klo ga ada yg mau…:D

    Balas
  10. seneng aku masih ada yang mau belajar..

    Balas

Ada apa di pikiranmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: