Pertandingan igo 4 negara ke 5: Berangkat (1/3)

Berangkat

“Kis, besok minggu ada acara ga? ke JF yuk,, ada pertandingan igo”

Pesan singkat itu kukirim ke Kikis,, seorang temanku yang juga penggemar igo. Aku berharap ia akan mau menemaniku lagi. Penuh harap aku menunggu jawabannya. Nihil, tidak ada jawaban sampai keesokan harinya[1].

Siang hari berikutnya, aku bertemu dengan Kikis di sela-sela pergantian kuliah. Ia mengatakan akan pikir-pikir dulu. Aku akan dihubunginya nanti malam, yaitu Sabtu malam. Rupanua aku tak perlu menunggu selama itu. Sorenya ketika kami bepapasan, ia sudah menyanggupi untuk ikut ke JF. Aku bersorak dalam hati.

Keesokan harinya, 0730, aku menelepon Kikis. Kami mengatur pertemuan di BNI. Segera aku melangkahkan kaki menuju ke sana. Setelah menunggu beberapa saat di sana[2], kami pun berangkat mengendarai motor. Tujuan selanjutnya: Stasiun Bogor.

Sesampainya di stasiun, macet seperti biasa. Meski jalanan sudah diatur satu arah, namun kemacetan seolah tak dapat dihindarkan. Becak, gerobak, motor, dan angkot berbaur menjadi satu menumbuhkan kesemrawutan laten. Merangkak, akhirnya kami pun sampai di tempat parkir stasiun. Beberapa motor terparkir di sana. Penjaganya masih nampak muda, mungkin masih sekitar dua puluhan tahun. Ia menanyakan jam motor akan diambil. Dengan mantap Kikis menjawab, “Nanti sore mas”.

Stasiun BogorAntrian pembelian tiket tidak terlalu padat, bahkan bisa dibilang sepi. Ada seorang ibu-ibu yang hendak membeli tiket Pakuan Express di depanku. Dari percakapannya dengan mbak-mbak penjual karcis, aku tahu kalau kereta tersebut sudah datang dan akan segera berangkat. Segera aku memasukkan rupiah dan meminta dua lembar karcis.

Situasi dalam kereta sudah cukup ramai. Kami berjalan menyusuri gerbong sambil celingak-celinguk mencari bangku kosong. Tiba di gerbong berikutnya, kami beruntung: ada beberapa celah di antara penumpang. Saat hendak duduk, pandanganku melayang pada tiga orang yang duduk pada bangku lain yang sederet dengan bangku yang akan kami duduki.

Salah satu dari ketiga orang tersebut rupanya menyadari kehadiran kami. Ia memberitahu kedua temannya dan melambaikan tangannya kepada kami. Kami pun batal untuk duduk dan berjalan mendekati mereka bertiga. Ketiga orang tersebut adalah teman satu jurusan, satu angkatan, dan satu almamater kami: Maul, Indra, dan Riza. Setelah sedikit berbasa-basi, obrolan kami pun dimulai.

“Mau ke mana??”

“Mau ke Dufan..”

“Tumben.. emangnya kenapa?”

“mumpung lagi ada diskon..”

“Ooo..”

“Kalian mau ke mana??”

“Mau ke JF”

“JF??”

“Japan Foundation, Summitmas. Eh tahu ga Summitmas di mana??”

“Kata si Riku sih di Sudirman. Tahu ga Sudirman di mana??”

“Naik busway aja.. turun di mana ya?? Dukuh Atas kalau ga salah”

“Kalo ga coba tanya Khadi deh.. Kan rumahnya sekitar sana..”

Aku kemudian mencari nomor Khadi dan mengirimkan sms padanya.

Di, kamu tahu summitmas ga? Kalo naik busway turun di mana??

Menunggu balasan, obrolan pun mengalir.

“Eh rip, kamu blom pernah ke dufan kan? Ikut yuk”

“udah pernah kok.. kamu juga belum pernah liat lomba igo kan?? Ikut aja Ndra..”

“Emang lomba apa?”

“Katanya sih empat negara, tapi ga tau juga..”

….

BuswayTak terasa, akhirnya kami pun sampai di stasiun Jakarta Kota. Maul dkk. mengambil jalan ke kiri, sedangkan aku dan Kikis ke kanan. Keluar dari pintu stasiun, kami berbelok dan menyeberang jalanan yang ramai menuju halte busway. Di sekeliling, terdapat pagar seng yang menandakan bahwa area tersebut sedang direnovasi. Setelah membeli dua tiket, kami pun memasuki palang pintu masuk. Tiket busway tersebut sudah berwarna putih, hanya tampak bekas tulisan di sana. Saat memasukkan tiket, aku kebingungan mengenai posisi yang benar. Sisi manakah yang harus di atas, sisi mana yang harus di bawah[3]. Setelah diberi penjelasan sedikit (sangat sedikit) akhirnya aku pun berhasil melewati pintu dengan selamat diselingi senyum Kikis.

Meski jarak antara pintu masuk dengan pintu ke busway hanya sekitar satu meter, kami harus berjalan memutar sekitar lima meter untuk sampai ke sana. Ada bis yang sedang berhenti, sayangnya, saat kami sampai di pintu bis sudah berjalan. Kami pun menunggu giliran berikutnya. Beberapa menit kemudian, bis pun datang. Kami dengan penuh semangat memasuki bis yang lengang.

Bis busway berwarna merah dengan lambang garuda (atau elang?) di tubuhnya. Hawa sejuk menyelimuti kami ketika kami masuk. Ada petugas yang berjaga di depan pintu. Sekilas, bis ini seperti layaknya bis mini biasa. Bedanya, ada pendingin udara, tempat duduk di pinggir seperti di KRL, dan terawat (?). Kami pun duduk di kursi belakang menghadap ke depan. Saat bis berjalan, aku melayangkan pandanganku ke luar, melihat dan mencari apa yang membuat Jakarta bisa meningkatkan urbanisasi.

Tak terasa, kami pun sampai di Dukuh Atas. Kami pun turun dan bertanya-tanya. Ternyata Summitmas masih agak jauh. Kami seharusnya turun di Gelora Bung Karno. Alhasil, kami pun naik busway lagi[4]. Beberapa halte terlewati, hingga aku melihat gapura yang dituliskan dengan penuh kebanggaan.

GELORA BUNG KARNO

Kami pun turun dengan perasaan senang. Pada penjaga busway, kami bertanya mengenai Summitmas. Jawabannya membuat perasaan kami semakin bahagia, “Oh di sana mas. Naik jembatan penyeberangan ini saja, trus jalan sedikit ke sana.”, sambil menunjuk. Langkah kaki kami berdebam saat kami berjalan melewati jembatan logam. Di seberang, kami meloncat turun dan melanjutkan perjalanan kami yang tinggal sedikit.

Beberapa gedung tinggi kami lewati. Sampai pada akhirnya perjalanan kami berhenti di gedung Summitmas. Summitmas adalah dua gedung putih. Di tengah-tengahnya ada sebuah rumah makan yang menyediakan free hotspot area. Satu yang kulupa adalah di gedung yang manakah JF berada?? Satpam yang kami tanyai menunjukkan jalan. Kami harus melewati gang yang menjadi jalan pintas ke gedung tersebut. Satpam kedua menunjukkan arah pintu masuk gedung. Satpam yang ketiga menanyakan tujuan kami, “Mau kemana Mas?”

“Mau ke Japan Foundation di mana ya Pak??”

“Di lantai 2 mas. Oh tulis nama aja di sini Mas”, katanya sambil membuka stiker label.

“Saya perlu ga Pak?”

“Ga usah, satu aja. Oh ya ini dipakai”, sambil mengulurkan label.

“Dipakai di mana Pak??”

“Tempelkan aja di baju”

Label tersebut berstempel logo Japan Foundation dan kutempel di jaket.

“Mau main igo ya Mas??”

“Iya Pak.. terima kasih ya Pak”

“Iya Mas sama-sama”

Japan FoundationRupanya bapak ini tahu juga. Mungkin memang sudah terbiasa dengan anak-anak yang pergi ke JF untuk bermain igo. Kami masuk dan memencet lift untuk naik ke lantai 2. Hari libur, semua terlihat lengang. Lift pun kosong saat kami masuk. Setelah merasakan beberapa akibat hukum Newton, pintu pun terbuka. Mata kami disambut dengan dinding yang bertuliskan JAPAN FOUNDATION. Hawa igo semakin terasa ketika kami keluar dari lift. Kami berbelok ke kanan dan melihat pintu yang terbuka dan seorang petugas keamanan di dalamnya. Ia sedang duduk di depan sebuah meja dengan beberapa brosur di atasnya. Di samping kiri dan kanan terdapat spanduk sponsor. Kami pun masuk, mengambil beberapa brosur, dan terkejut.

BERSAMBUNG..

Sumber gambar:

Busway : http://jkt.detik.com/adv/busway/index.html

Japan Foundation : http://www.archivolto.it/contentmanager_data/images/F08112006142825.gif


[1] Maklum di kamar kost-ku ga ada sinyal..😀

[2] Yang menunggu Kikis, bukan aku .. soalnya aku harus ambil uang dulu..

[3] Pertama, this is my first time using busway, Kedua, there’s no such as manual.. Don’t make me think..

[4] Untung belum keluar dari halte. Jadi ga usah beli tiket lagi..

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

7 Komentar

  1. o kamu utusan indonesia di pertandingan igo internasional ya… ternyata game SMA mbiyen berguna juga…🙂

    Balas
  2. Ooo.. engga er.. ak masih blom sehebat itu..
    maybe one day..😀

    berguna.. untuk menenangkan pikiran, menajamkan dan menambah kecepatan berpikir..

    Balas
  3. ow yeah? well2, sukses ya mikirnya😀

    Balas
  4. iya.. buktinya aku bisa menebak sejauh mana mas Ery membaca tulisan saya..😀

    no offense..

    Balas
  5. thevemo

     /  Januari 1, 2008

    hebat, erik bisa menang. Salut YIC

    Balas
  6. Henri H.

     /  Januari 31, 2008

    Ko naek kereta turunnya di Stasiun kota??kejauhan mas…:D

    Balas
  7. namanya juga ga tahu.. ya ngasal aja…
    emang ada yg lebih deket ya?? kasih tau donk..

    Balas

Ada apa di pikiranmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: