Naik Motor

Beberapa bulan belakangan ini, aku tidak mau jarang naik motor. Naik motor di sini memiliki arti mengendarai sepeda motor sebagai orang di balik stang. Ada beberapa alasan pribadi yang akan aku ungkapkan di sini.

Pertama, aku tidak punya SIM. Lebih tepatnya sih, SIM-nya tidak kubawa. SIM-ku sekarang berada di Semarang. Kemaren sewaktu mengurus perpanjangan SIM, ternyata SIM-nya tidak bisa dicetak saat itu juga karena ada beberapa masalah distribusi. Namun overall, pengurusan SIM di Semarang sekarang sangat mudah dan tertib. Dan sebagai orang yang mencoba menjadi WNI yang baik, maka aku tidak mengendarai sepeda motor.

Kedua, cara berkendara sepeda motor kendaraan lain. Di jalanan, hampir sebagian besar pengguna kendaraan sudah melupakan the ultimate rule of driving, yaitu drive safe. Tidak hanya aman untuk diri sendiri, namun juga aman untuk pengguna jalan yang lain. Contoh mudahnya, banyak sekali sepeda motor yang dimodifikasi kaca spionnya sehingga tidak dapat berfungsi dengan optimal. Padahal, kalau menurut pendapat pribadiku (CMIIW), kaca spion itu sangat berguna ketika kita hendak mendahului kendaraan lain, berbelok, atau memberikan jalan saat ada kendaraan lain yang lebih cepat daripada kita.

Ketiga, macet. Di sini (Bogor) terkenal dengan yang namanya macet. Hampir setiap hari di daerah tertentu pasti terjadi kemacetan. Hal ini mungkin berpengaruh juga pada alasan nomor dua di atas. Pada saat macet inilah skill para pengendara sepeda motor diuji. Mereka dengan lincah harus melewati kemacetan para mobil. Hingga terkadang hampir membahayakan diri mereka sendiri (dan orang lain).

Semua alasan di atas, murni alasan pribadiku dari apa yang kulihat di jalanan. Kondisi nyata mungkin berbeda-beda untuk tempat yang berbeda. Pesanku adalah berkendaralah secara aman, baik untuk diri anda, maupun bagi orang lain dan patuhilah peraturan lalu lintas.

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

7 Komentar

  1. martinbudi

     /  Agustus 17, 2008

    alasan g punya motor masuk nda😀

    Balas
  2. *jleb* wah dalem banget..
    bukan ga punya motor mas Martin.. Belum punya motor..

    kalo masalah motor, masih ada yang bisa dipinjem motornya.. tapi emang menjadi salah satu alasan, namun tidak krusial..😀

    Balas
  3. martinbudi

     /  Agustus 18, 2008

    salah lu…
    justru itu yang paling krusial…
    bayangpun kalo nda ada motornya…:P

    Balas
  4. cira

     /  Agustus 19, 2008

    wahahahah, untuk alasan yang spion, di tempatku dulu (pontianak), kebanyakan orang pada malu kalo spionnya dipasang gede-gede di kanan dan kiri. Kaya orang berdoa katanya. Tapi setelah digalakkan peraturan baru tentang helm dan spion serta seringnya razia, kendaraan2 yang berdoa terlihat dimana2. Hahahhaha

    Balas
  5. @martin:
    kalo ga ada motornya, ya naik angkot sajalah…
    he3, ga usah pusing2..

    @cira:
    sama… dulu waktu aku masih SMA juga sering diejekin motornya kaya orang berdoa..
    tapi cuek aja,.. itu bukan motorku, tapi milik orang tua.. jadi ga enak kalau dimodifikasi.. lagipula aku ngerasa masih perlu pake spion..😛

    Balas
  6. Insanul

     /  Agustus 19, 2008

    Boleh nambahin gak Rif? Keempat bensin. Harga BBM naik, uang kiriman tetap.

    Balas
  7. he3.. itu bisa masuk mas Insan..
    nambah lagi deh satu..😛

    Balas

Ada apa di pikiranmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: