Ada apa di pikiranmu?

Legion of honor thinker

Pada suatu hari, ada seorang karakter penasaran yang mencoba untuk melakukan eksperimen unik. Ia ingin membandingkan hitungan detik di dalam pikirannya dengan waktu yang sebenarnya. Ia mencoba menghitung waktu yang ia perlukan untuk menghitung sebanyak 60 (jumlah detik dalam satu menit) di dalam pikirannya. Dari beberapa kali percobaannya, ia menemukan bahwa rataan waktu yang diperlukannya untuk menghitung sebanyak 60 adalah 48 detik.

Rasa penasaran membuatnya melakukan percobaan lanjutan. Ia kemudian mencoba mencari tahu apakah ada faktor yang mempengaruhi laju hitungannya terhadap waktu. Ia kemudian mengulang percobaannya, kali ini sembari naik-turun tangga (diiringi dengan tatapan aneh orang yang melihatnya), membaca, berlari, dan sebagainya. Rataan waktu yang ia dapatkan ternyata tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Anehnya, ia tidak bisa menghitung sambil berbicara, seolah-olah keduanya adalah pekerjaan yang harus dilakukan secara serial.

Pada sebuah kesempatan, karakter ini bertemu dengan seorang koleganya. Kepadanya ia bercerita mengenai percobaan yang ia lakukan. Di akhir cerita, ia mengatakan keheranannya tentang mengapa ia tidak bisa melakukan percobaannya saat sedang berbicara. Si kolega pun mencoba melakukan percobaannya. Anehnya, si kolega ini ternyata bisa melakukannya sambil berbicara namun tidak pada saat membaca. Ia pun mengungkapkannya kepada si karakter. Ternyata, si kolega ini membayangkan proses penghitungan seperti sebuah pita bertuliskan bilangan bulat. Di setiap hitungannya, pita-pita ini bergeser menuju bilangan selanjutnya yang lebih besar. Itulah sebabnya ia tidak bisa melakukannya sambil membaca. Berbeda dengan si kolega, si karakter menyebutkan bilangan tersebut di dalam pikirannya. Kiranya hal inilah yang menyebabkan dirinya tidak bisa berbicara saat melakukan percobaan itu.

Cerita tersebut membuatku menyadari bahwa pikiran kita adalah sesuatu hal yang sangat privat sehingga tidak ada orang yang mengetahuinya. Anehnya pula, setiap orang memiliki representasi yang beragam mengenai masalah yang ada di sekitar mereka dan bagaimana pikiran mereka bereaksi terhadapnya. Seperti si karakter dan si kolega, keduanya memiliki representasi dan cara berpikir yang berbeda dalam menghadapi masalah sederhana, yaitu berhitung. Seperti setiap orang memiliki cara berpikirnya masing-masing.

Creepy (xkcd.com)

Creepy (xkcd.com)

Kali ini aku akan mencoba menceritakan apa yang ada di dalam pikiranku ketika ada seseorang di sekitarku yang menyebut sebuah bilangan. Bilangan, di dalam pikiranku, direpresentasikan oleh beberapa garis bilangan yang memiliki skala yang berbeda. Aku memiliki garis bilangan berskala satuan untuk bilangan 0 sampai 10, berskala puluhan untuk 10-100, dan seterusnya. Jadi, ketika ada orang yang menyebutkan bilangan kepadaku, aku dengan segera menggunakan garis bilangan terdekat, lalu pada garis bilangan tersebut aku memperkecil skalanya hingga satuan untuk mendapatkan representasi posisi dari bilangan tersebut. Misalnya, ketika ada yang menyebut harga Rp 7.200, aku menggunakan garis bilangan ribuan untuk mendapatkan angka 7000. Kemudian di dalam jangkauan 7000-8000, aku menggunakan garis bilangan ratusan untuk mendapatkan angka 200. Meski terlihat cukup merepotkan, sebenarnya proses ini kurasakan sangat cepat.

Begitulah kurang lebihnya bagaimana aku merepresentasikan angka. Mungkin masih ada banyak lagi cara pikiranku merepresentasikan masalah yang lainnya. Mungkin ada pula cara lain yang lebih efisien dalam merepresentasikan angka. Seperti yang telah aku sebutkan sebelumnya, setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri. Lalu bagaimana dengan anda?

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya … hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”
Harper Lee — To Kill a Mockingbird

Credits:

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

13 Komentar

  1. Saya malah g pernah mikir gmn otak saya mikir mas *garuk-garuk kepala* =p

    Balas
  2. wah, seru Rif bacanya😀
    TFS!
    (btw, gimana caranya aku tau gimana otakku merepresentasikan bilangan? kayaknya nggak pernah terbayang garis bilangan seperti punya arif, tapi rasanya nggak yakin juga seperti apa isi otakku… jadi bingung.)

    Balas
    • thanks..

      gimana cara tau merepresentasikan bilangan??
      hmm.. entahlah.. kalau aku selalu ada bayangan garis bilangan ketika melakukan sesuatu dengan angka..

      yah, mungkin akunya saja yang terlalu aneh..😀

      Balas
  3. ehem2 mentang2 udah dapet indonesia mockingbird, dipake tuh quote-nya. well… bapak yg satu ini..😉

    well yg ada dipikiranku ialah, *tadi sih*… apa yaa… haha… soal hubungan sesama jenis (gara2 liat sepasang laki2 barusan di sebuah Cafe di bilangan Tebet), ternyata laki2 dgn laki2 mengutarakan cintanya dengan perasaan lebih halus daripada wanita. tapi klo wanita dengan wanita, katanya siih, lebih kepada fisik yg kuat malah kekuatannya sama dengan laki2. hmm… tapi klo laki2 dengan wanita, ya biasa, laki2 memegang porsi kuat di logika dan wanita di perasaan. knp bisa begitu yaa…

    see mine again on http://dhila13.wordpress.com/2009/10/02/hipotensi/ thx🙂

    *oia, satu lagi, mau komen soal komik xcdc-nya… haha, ternyata laki2 dan perempuan itu memiliki gengsi yg sama2 besar yaa… hoho. tapi itu benar adanya. mungkin inilah kenapa ada akibat SALAH PAHAM antara laki2 dan perempuan.

    Balas
  4. kebetulan aja quotenya nyambung.. jadi dimasukin aja sekalian..
    wah, pikiran peneliti.. trus bagaimana angka direpresentasikan dalam pikiranmu??

    untuk yang komik,, mungkin bukan gengsi, tapi malu dan takut.. kira-kira begitulah yang mungkin ada dalam pikiran sebagian besar lelaki..

    Balas
  5. Allah🙂

    Balas
    • Sebenarnya tulisan ini lebih ke “bagaimana kita berpikir”,, mungkin saya yang salah memberi judul.. hehe😀

      Balas
  6. Dalam laut bisa dijajaki, kecuali segitiga bermuda kali ya…? dalamnya hati siap tahu…?

    Balas
  1. TPA dan Bilangan di dalamnya « radical[]rêveur
  2. TPA dan Bilangan di dalamnya – Ilkomerz 101001
  3. Gara-gara Feynman | Ilkomerz 101001

Ada apa di pikiranmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: