Ayo Bicara

200px-Talk_face.svgPada suatu malam yang indah, diterangi cahaya matahari yang dipantulkan oleh bulan, aku pergi ke luar untuk makan malam. Aku menuju ke sebuah warung lesehan di depan sebuah gang. Tempat ini kupilih karena memungkinkanku untuk mencerna makanan sembari memandangi indahnya cahaya bintang.

Tak tahu kenapa, aku mulai berpikir tentang teman-temanku yang telah mendapatkan kesempatan untuk menjelajah dunia lain. Apakah mereka juga melihat bintang yang aku lihat di sini. Aku pun lalu teringat pada obrolan dengan salah satu temanku yang sedang berada di belahan dunia lain.

aku : hi, I was just wondering about having a conversation. I mean the ‘real’ conversation, not just chatting.
temanku : well, you can try talking to your mind. It’ll always worked.
aku : yeah, right. I always use sworn language when I talk to myself.
temanku : hahaha..

Aku pun mulai mencoba membayangkan sebuah situasi. Di tempatku makan sekarang, muncullah beberapa orang asing. Mereka kemudian memesan makanan dan mulai duduk di sekitarku. Mungkin mereka juga ingin menikmati keindahan cahaya bintang?

Tak lama, aku memutuskan untuk mendekati mereka. Aku berusaha untuk mengajak mereka bercakap-cakap. Mulai dari kalimat perkenalan seperti “Hi sir, would you mind if I …” dan seterusnya. Aku pun mulai terhanyut dalam percakapan imaji ketika peristiwa itu terjadi.

Sebuah sepeda datang memasuki gang. Sepeda itu ternyata dikendarai oleh seorang wanita asing. Dia berhenti dan mulai memesan makanan. Pikiranku meyakinkanku bahwa tak mungkin ia akan makan di tempat. Dia pasti akan membungkus makanannya. Tapi kali ini ternyata pikiranku salah.

Setelah memesan makanan, ia membawa makanannya dan duduk tak jauh dari singgasanaku. Pikiranku lalu mulai berteriak-teriak, “You must be kidding, right?“. Aku memperhatikannya beberapa saat. Melihat sepedanya, apa yang dibawanya, dan reaksinya ketika bapak pemilik warung mengantarkan minuman. Setelah mendapatkan semua parameter yang kubutuhkan, kuputuskan untuk melakukan langkah selanjutnya.

Aku berdiri.

Lalu pergi ke kasir dan membayar makananku.

Selanjutnya berjalan pulang sambil menikmati udara malam.

Jika para pembaca budiman sekalian mengalami apa yang aku alami, apa yang akan saudara lakukan?

Ada yang ingin berlatih conversation denganku?

Credits:

Tinggalkan komentar

6 Komentar

  1. hmm… garis besar artikel ini hampir sama dengan artikel baru yg saya buat. well, teman, seperti teori mimpi yg udah populer saat ini, kita wajib membayangkan mimpi itu semampu kita. bayangkan, bicara pada pikiran kita, lalu visualisasikan. yakinlah, apa yg kita ingnkan akan tergapai. dengan usaha sungguh2 pastinya. bukankah kesuksesan instan itu tidak ada rasanya? tetapi kenikmatan datang dari kesulitan yg menyertai proses itu. udah pernah baca dan tonton film the secret? udah pernah baca buku quantum ikhlas? jika blum, coba cari tau.

    well, smua itu BUKAN SEMUA MIMPI. ya toh? *hehe, maaf, sekalian promosi new posting*😉

    Balas
  2. Apakah bisa dikatakan bahwa setiap orang basically mempunyai sifat autis. Tapi kadar tiap orang berbeda.🙂

    Balas
  3. martinbudi

     /  Oktober 18, 2009

    hi hi
    ilustrasinya lucu banget

    tapi kalo gua jadi lu mungkin gua juga ngelakuin hal yang sama😛

    Balas
    • iya tin.. ada beberapa faktor yang mendasari aku tidak jadi membuka percakapan..
      salah satunya mungkin gara-gara aku sudah membaca komik itu sebelumnya..
      hahahaha..

      Balas

Ada apa di pikiranmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: