Mengejar Deadline: Budaya Bangsa?

Tulisan ini dipersembahkan untuk kawan-kawan panitia Pesta Sains 2006, khususnya tim khusus..

“Kita harus bersiap-siap mengejar deadline”, kata salah seorang seniorku. “Lagipula, mengejar deadline itu sudah menjadi budaya bangsa kita sejak jaman dahulu kala”, tambahnya lagi.

Saat itu, kami berdua baru saja selesai menggelar rapat koordinasi pada sebuah lomba yang akan diselenggarakan oleh BEM fakultas. Lomba ini terdiri atas berbagai bidang yang meliputi hampir seluruh departemen yang terdapat pada fakultas kami. Diriku saat itu kebetulan menjadi koordinator seksi khusus untuk lomba pemrograman, sedangkan sang seniorku tadi adalah koordinator seksi khusus untuk semua bidang lomba. Dengan kata lain, beliau adalah koordinator pusat dari para koordinator sub lomba. Seksi khusus adalah seksi yang bertugas untuk menyediakan soal dan memberi nilai para peserta lomba.

“Kok bisa mas?”, tanyaku penasaran. Perkataannya yang unik tersebut mampu menarik perhatianku. Beliau menjawab dengan sebuah pertanyaan ringan, “Tahu cerita tentang Roro Jonggrang?”

.…

Candi Prambanan

Roro Jonggrang dan seribu candi adalah salah satu cerita rakyat yang ada di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Roro Jonggrang adalah putri dari Prabu Boko, raja kerajaan Boko. Suatu ketika, Prabu Boko mengerahkan pasukan untuk menginvasi ke kerajaan Pengging. Bandung Bondowoso yangmerupakan pangeran dari kerajaan Pengging menghadang pasukan Prabu Boko. Setelah pertarungan sengit, Bandung Bondowoso berhasil membunuh Prabu Boko. Di atas angin, Bandung Bondowoso terus maju menyerang ke kerajaan . Namun, dia mendapati bahwa putri kerajaan ternyata sangat cantik, dan jatuh hatilah ia kepada sang putri. Putri tersebut tak lain adalah si Roro Jonggrang.

Datanglah Bandung Bondowoso ke hadapan Roro Jonggrang. Ia mengungkapkan keinginannya untuk mempersunting sang putri. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sang putri tidak berkenan dengan Bandung Bondowoso. Sang putri pun akhirnya memberikan syarat kepada Bandung Bondowoso agar bisa menikahi sang putri. Roro Jonggrang menginginkan Bandung Bondowoso untuk membangun candi sebanyak seribu buah untuk dirinya dalam satu malam. Jika syarat ini dapat dipenuhi, sang putri akan menerima pinangan Bandung Bondowoso.

Bandung Bondowoso menyanggupi syarat tersebut dan bergegas untuk segera mulai membangun candi tersebut. Ia mengerahkan kesaktiannya, memanggil bala tentara jin miliknya untuk membantu memenuhi syarat dari sang putri. Dengan segera, para jin tersebut bekerja untuk mengejar deadline, yaitu saat matahari terbit esok hari.

Sementara itu, Roro Jonggrang berharap-harap cemas, apakah Bandung Bondowoso berhasil membangun seribu candi yang ia minta. Ia mendapatkan laporan bahwa Bandung Bondowoso hampir berhasil memenuhi persyaratan yang ia minta. Saat itu hanya tinggal beberapa jam saja sebelum matahari terbit. Roro Jonggrang kemudian memerintahkan seluruh wanita dalam kerajaannya untuk bangun dan memukul alu (alat penumbuk padi). Para ayam jago yang sedang nyenyak tertidur merasa terusik dengan suara alu tersebut. Para ayam ini mengira bahwa matahari sudah terbit dan secara serempak berkokok. Roro Jonggrang berhasil memajukan waktu deadline.

Bandung Bondowoso tertegun mendengar suara kokok ayam tersebut. Ia kemudian menghentikan aktivitas pembangunan candinya. Roro Jonggrang pun datang dan mulai menghitung candi yang telah dibuat oleh sang pemuda. Ternyata, jumlah candi yang telah berhasil dibangun adalah sebanyak 999 buah. Karena syarat tidak bisa terpenuhi, Roro Jonggrang pun menolak pinangan Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso marah dan tidak terima dengan keputusan si Roro Jonggrang. Dengan kesaktiannya, akhirnya dia mengubah Roro Jonggrang menjadi batu untuk melengkapi candi-candi menjadi seribu buah.

Candi-candi ini beserta patung Roro Jonggrang dapat ditemui di daerah Prambanan,Yogyakarta.

Aku menanggapi pernyataannya itu dengan skeptik. Di dalam hati aku yakin bahwa semua akan bisa terselesaikan jauh sebelum deadline. Aku mulai menyusun rencana untuk memastikannya. Namun, ternyata aku salah.

Menurut rencana yang telah aku dan timku susun, pelaksanaan babak final lomba akan diselenggarakan di Cyber. Cyber adalah tempat akses Internet untuk seluruh mahasiswa di kampusku. Pelaksanaan final lomba adalah hari Minggu, dan kami telah berhasil mendapatkan ijin untuk itu. Kami juga telah membuat agenda untuk mempersiapkan komputer yang dibutuhkan untuk lomba pada hari Sabtu, H-1 dari pelaksanaan final.

Roro Jonggrang?

Beberapa hari sebelum hari Sabtu, aku dan seorang temanku dari seksi perlengkapan datang ke Cyber untuk memberitahukan penggunaan komputer untuk hari Minggu. Kami bertemu dengan petugas yang berada di sana dengan membawa surat ijin yang dibutuhkan. Petugas Cyber mengatakan bahwa kami baru boleh melakukan persiapan untuk hari Minggu itu pada hari Sabtu tepat setelah jam buka Cyber habis. Sialnya, pada hari Sabtu Cyber buka lebih lama dari hari biasanya, yaitu sampai dengan pukul 1 pagi besoknya. Kami berdua berusaha untuk melobi petugas Cyber untuk mempercepat penutupan Cyber. Namun pihak Cyber menolak dengan alasan bahwa Cyber adalah fasilitas umum untuk seluruh mahasiswa kampus. Kami pun dengan segera membuat janji dengan petugas Cyber untuk menentukan waktu kami akan datang untuk mempersiapkan komputer tersebut. Aku merasa menjadi Bandung Bondowoso yang tengah berhadapan dengan Roro Jonggrang. Dengan beberapa pertimbangan, kami bersepakat untuk datang pada pukul 3 pagi hari Minggu.

Semua ternyata baru saja dimulai. Hari Sabtu merupakan hari pelaksanaan babak penyisihan lomba. Sabtu pagi buta kami datang ke tempat pelaksanaan lomba, mempersiapkan soal-soal, dan mengawasi pelaksanaan lomba hingga tengah hari. Setelah babak penyisihan selesai, kami mulai memeriksa jawaban seluruh peserta lomba dan menghitung siapa saja yang berhak untuk mengikuti babak final. Deadline untuk memberitahukan finalis adalah pukul empat sore. Untungnya, kami berhasil menyelesaikan penghitungan sebelum deadline tersebut.

Malam harinya, aku dan para panitia yang lain menghadiri rapat yang diadakan oleh panitia pusat. Sebelumnya aku telah membuat janji kepada timku untuk berkumpul pada pukul 3 pagi di Cyber. Rapat selesai kira-kira pukul 11 malam, aku dan temanku dari seksi perlengkapan membuat janji untuk bertemu pukul 1 pagi, siapa tahu Cyber sudah bisa dipersiapkan.

Tidur serasa hanya beberapa detik, aku pun berangkat ke sekretariat pukul 1 pagi. Di sana sudah ada beberapa temanku dan panitia lain yang menginap di sekretariat. Setelah memastikan bahwa kami belum bisa melakukan persiapan di Cyber, kami memutuskan untuk merebahkan kepala sejenak di sekretariat sampai pukul 3 pagi.

Tepat pukul 3, kami bergerak menuju Cyber. Di sini kami mulai mempersiapkan segala keperluan final. Mulai dari non-aktifkan DeepFreeze sampai instalasi program dan compiler. Untunglah tidak ada Roro Jonggrang di sini untuk mempercepat deadline. Walau sempat terjadi beberapa masalah kecil, akhirnya kami selesai juga mempersiapkan komputer untuk final.

Inti dari cerita tersebut adalah manusia bisa merencanakan, namun selalu ada hal-hal lain yang berada di luar kekuasaan manusia. Budaya bangsa atau tidak, itu tidaklah penting. Hal yang utama adalah bagaimana kita mempergunakan waktu luang yang ada sebelum datang waktu sempit. Jangan sampai mengejar deadline..

Yesterday is a cancelled check; tomorrow is a promissory note; today is the only cash you have-so spend it wisely ~ Kay Lyons

Credits:

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

25 Komentar

  1. Teman

     /  November 19, 2009

    Pengalaman yang hebat dan datang dari orang hebat, orang hebat bukanlah seorang yang bisa membuat suatu yang hebat. tetapi seorang yang bisa membuat orang lain menjadi hebat….

    hebat sob, i’am so proud of you…

    Balas
    • terima kasih banyak teman..
      maaf saya tidak menulis namamu di atas sana..
      namun, namamu telah saya tulis di hati saya..

      terima kasih atas semuanya.. ^^

      Balas
  2. linatussophy

     /  November 23, 2009

    hm… seeeeeeeep…
    ajarin nulis dunk Rif… ;))

    Balas
  3. wow nice artikel gan…nggak nyangka masih kuat banget rif ingatanmu…jangan2 ditulis semua y?hehe…sepakat dan setuju dengan kesimpulannya rif..

    Balas
  4. well, great experience. bersyukurlah bisa seperti itu, klo gak, gak akan ada hikmah yg bisa diambil.🙂

    Balas
  5. @linatussophy:
    ah, tulisan mbak juga bagus-bagus kok..^^

    @adidm:
    yo’i bro…
    terima kasih supportnya waktu itu..😀

    @fadhilatul:
    alhamdulillah..
    he3.. walau badan hancur, tapi selalu ada nilai yang bisa dipetik..:)

    Balas
  6. suaracahaya

     /  November 25, 2009

    wah, sudah teridentifikasi saya.
    *like this!*
    (ga ada tombolnya ya rif, he he)

    Balas
  7. hmmm….hidup deadline, kalo ga gitu kadang kita males2an….
    ambil positifnya…mo legenda apapun kalo itu menginspirasi kita buat menjadi lebih baik…do it…!!!
    hehhehee….

    ajarin nulis panjang donk…xixiixixi…

    Balas
  8. iya.. tapi akan lebih baik kalo kita mengerjakan deadline tidak pada saat mepet.. tapi dari jauh hari sebelum deadline..

    Balas
  9. wah rasanya pengalaman yg sama deh, saya juga lagi ikut suatu kepanitian di kampus.😀

    Balas
  10. bagus artikelnya ya…salam kenal

    Balas
  11. bener banget… kita cuma merencanakan saja. karena selalu ada hal lain di luar kendali kita yang membuat waktu itu terulur.

    Balas
  12. Setuju sob. Mengejar deadline itu menurut saya hanya memperhalus kata “males” :p

    Balas
    • hmm.. ga juga sebenernya…
      di cerita itu saya menunjukkan bahwa terkadang ada hal-hal tertentu yang membuat kita terpaksa untuk mengejar deadline, meski sebenarnya kita sudah berusaha untuk melakukannya di awal..

      Balas
  13. oalah klo di fikir2 dari cerita itu bener juga
    klo saya sih dah kerja setengah edan dari awal tetep aja ngejar dead line:mrgreen:

    Balas
  14. Kadang waktu menjadi sempit dan mendesak karena kita mengulur-ulurnya.

    Balas
  15. nice story…. *sambilngetiktugas-yang-deadlinenya-besok*

    Balas
  16. kalau nikah itu di deadline ga ya mas?

    Balas
  17. bukan cuma budaya bangsa indonesia saja kok, mengejar deadline itu budaya manusia seluruh dunia, orang kantoran di newyork, komikus jepang, semuanya ngejar deadline, kecuali orang yg stres mau bunuh diri, dia berusaha menciptakan ‘dead-line’ sendiri… hehe

    Balas

Ada apa di pikiranmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: