Opera, Web Standard, dan HTML5

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan menghadiri sebuah seminar yang diadakan oleh Opera Software yang bermarkas di Norwegia. Acara seminar ini merupakan salah satu rangkaian dari Opera University Tours yang diselenggarakan untuk memberikan pengetahuan mengenai browser dan teknologi web. Pembicara yang datang pada seminar ini adalah Bruce Lawson (Consumer Product Management Opera) dan Zhibin Cheah (Developer Relations Opera), ditemani oleh mbak Annisa Putri yang menjadi koordinator Opera Campus Crew Indonesia. Tema yang dibawakan dalam seminar ini adalah mengenai web standard, HTML 5 dan fitur-fiturnya, serta sedikit mengenai teknologi Opera browser.

Open Standard

Railway

Apa yang terjadi kalau rel kereta api memiliki lebar yang berbeda-beda?

Bruce Lawson pada sesi pertama membahas mengenai apa itu Open Standard, perbandingannya dengan Closed Standard, dan apa keuntungannya menerapkan Open Standard dalam dunia web. Open Standard adalah standar yang terbuka untuk siapa saja, bukan milik pribadi atau sebuah perusahaan tertentu. Open Standard memungkinkan anggota komunitas untuk turut berpartisipasi menyumbangkan buah pemikirannya untuk menjadikannya lebih baik dari sebelumnya. Di sisi lain, Closed Standard didefinisikan dan dimiliki oleh sebuah perusahaan atau perseorangan tertentu. Akibatnya dibutuhkan software tertentu yang sesuai dengan standar tersebut untuk melakukan sesuatu yang dibuat dengan standar tersebut. Ia memberikan contoh mengenai penggunaan Closed Standard di Korsel yang menyebabkan keharusan menggunakan browser tertentu hanya untuk melakukan pembelian online.

The KISS Principle

Keunggulan yang bisa didapatkan jika menggunakan Open Standard adalah membuat web yang kita bangun tetap simpel. Bruce mengingatkan penggunaan prinsip “KISS” dalam pembangunan sebuah web. KISS di sini adalah Keep It Simple, Stupid! sebuah ungkapan untuk membangun web dengan kode yang sesederhana mungkin. Ternyata membuat web dengan mengikuti standar dapat membuat kode kita menjadi lebih singkat. Seperti efek domino, kode yang lebih singkat membuat situs menjadi lebih cepat terbuka di browser. Situs yang lebih cepat dapat membuat pengunjung lebih betah. In the end, if you can save time, then you also save money!

Sedikit tentang HTML 5

Penyusunan standar yang sedang aktif saat ini di dunia web adalah HTML 5. Penyusunan standar ini diprakarsai oleh W3C  (World Wide Web Consortium) yang terdiri atas berbagai macam komunitas yang bekerja bersama-sama. HTML 5 memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan versi sebelumnya. Di antaranya adalah adanya tag khusus untuk menangani content, sidebar, gambar, dan video. Selain itu juga ditambahkannya tag canvas yang bisa jadi menggantikan peran Flash atau Silverlight di masa depan. Tag-tag ini memudahkan dalam desain dalam CSS dan embedding file media. HTML 5 saat ini masih dalam proses penyusunan, namun ada beberapa browser yang sudah mendukungnya. Browser-browser tersebut di antaranya adalah Mozilla Firefox, Safari, Google Chrome, dan tentu saja Opera.

SVG dan Canvas

Pada sesi selanjutnya, Zhibin mengungkapkan sedikit mengenai SVG embedding dan canvas disertai beberapa demo singkat. Kedua topik ini cukup menarik perhatianku. Topik yang pertama adalah mengenai SVG. SVG (Scalable Vector Graphic) adalah salah satu tipe data gambar yang berbasis vektor. Berbeda dengan tipe data raster seperti JPEG, GIF, atau PNG, gambar vektor memiliki beberapa keunggulan. Gambar vektor tidak pecah saat diperbesar. Hal ini disebabkan penggunaan perhitungan matematis untuk menggambar sebuah gambar vektor. Ketika gambar vektor diperbesar, gambar akan dihitung ulang. Berbeda dengan gambar raster yang berbasis piksel. Ketika gambar raster diperbesar, piksel akan semakin terlihat sehingga gambar terlihat pecah.

SVG adalah salah satu tipe gambar vektor berstandar terbuka di bawah W3C. SVG menggunakan XML untuk mendeskripsikan gambar tersebut. Salah satu software yang dapat digunakan untuk membuat gambar SVG adalah Inkscape. Kabar ini merupakan kabar menggembirakan untuk diriku. Aku biasa menggunakan Inkscape untuk membuat gambar. Namun selama ini, aku harus mengubah gambar tersebut ke format PNG sebelum digunakan di halaman web.

Topik kedua adalah mengenai canvas.  Canvas adalah sebuah tag yang memungkinkan penggunaan script dalam melakukan rendering sebuah gambar. Canvas ini pertama kali digunakan dalam komponen Mac OS X  webkit untuk membuat Dashboard widget. Selanjutnya, canvas diusulkan untuk masuk ke dalam HTML 5. Di masa yang akan datang, canvas memiliki potensi untuk menggantikan Flash dan Silverlight karena tidak memerlukan plugin tertentu untuk menjalankannya. Salah satu demo penggunaan canvas yang ditunjukkan oleh Bruce adalah sebuah simulasi game FPS (First Person Shooter) seperti Counter-Strike. Selain itu, Zhibin juga menunjukkan demo mengenai grafik batang yang dapat diubah secara real time menggunakan canvas.

Opera Turbo dan Opera Unite

Satu yang tidak terlupakan, promosi mengenai fitur terbaru dalam browser Opera. Opera ternyata merupakan browser yang memiliki sejarah yang cukup lama. Sekarang, Opera dapat ditemui di berbagai macam perangkat, mulai dari komputer desktop sampai ponsel. Dua teknologi baru pada Opera browser yang dipromosikan adalah Opera Turbo dan Opera Unite. Kedua teknologi ini cukup menarik, menurut pendapat pribadiku.

Opera Turbo, sesuai dengan namanya, berfungsi untuk mempercepat waktu load sebuah halaman web. Prinsip kerjanya cukup sederhana. Ketika browser memberikan permintaan terhadap sebuah halaman web tertentu, browser akan menghubungi sebuah server proxy milik Opera untuk meminta halaman tersebut. Server tersebut kemudian akan melakukan kompresi terhadap halaman yang diminta sebelum dikirimkan ke browser. 

Berbeda dengan Opera Turbo, ide Opera Unite memiliki fungsi lain. Idenya adalah menggunakan browser Opera kita sebagai web server. Apa gunanya? Jika kita ingin berbagi foto atau aplikasi dengan teman-teman kita, kita tidak perlu melakukan upload foto tersebut. Kita cukup memasangnya pada server kita sendiri. Kita kemudian bisa mengundang teman kita untuk melihat foto-foto tersebut. Karena browser Opera kita berlaku sebagai server, kita harus tetap online saat foto kita sedang diakses oleh orang lain. Cukup menarik bukan?

Wah, tulisannya panjang sekali. Semoga tulisanku kali ini bermanfaat. ^^

Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

14 Komentar

  1. Putri Lizia

     /  Desember 1, 2009

    Bagus infonya..
    Pengen ikut seminarnya juga hahhaa

    dapet sertifikat gak?
    *pertanyaan geje*

    Balas
  2. riza

     /  Desember 1, 2009

    rif lebih bagus lg klo ada demonya:)
    ditunggu ya

    Balas
  3. @putri lizia:
    terima kasih..
    oh iya.. saya lupa ambil sertifikatnya…
    terima kasih sudah mengingatkan..

    @riza:
    ditunggu gimana maksudnya??
    hahahaha..

    Balas
  4. nais inpo gan😀

    Balas
  5. waah.. sugoi ne..😀

    Balas
  6. Pengin tau lebih jauh tentang canvas niy…mas arif ada demo, source code atau contoh penggunaan canvas..saat ini RIA didominasi oleh flex (actionscript & mxml), silverlight (wpf -> klo ga salah)..mungkin akan tambah 1 lagi yaitu canvas..

    Balas
  7. ferdian

     /  Desember 4, 2009

    wew…😀

    Balas
  8. @irvan, hadi, & ferdian:
    hahahaha..
    thanks bro..

    @pandu:
    kalo ga salah ada proyek demo yang dikoordinir oleh Google Chrome.. cuman lupa alamatnya, nanti saya cari..

    Balas
  9. Di kampusku (IPB) udah dulu. Sayang nggak ikut😦
    Padahal bisa dapet tas lumayan keren🙂

    Balas
  10. Sepertinya di Indonesia, jarang ada yang menerapkan standardisasi Web di situsnya. Di kalangan kampus pun, sependek yang saya catat, hanya ada 2-3 perguruan tinggi besar yang memiliki panduan standar Web untuk pengembangan situs di lingkungan kampusnya.

    Balas
    • jangankan di Indonesia mas, di dunia juga masih banyak kok situs-situs yang belum memenuhi standar web..
      Permasalahannya adalah meskipun struktur HTML dan CSS nya tidak valid, browser terkadang masih “mengampuni” dan bisa menampilkannya dengan benar.. Jadi kadang ada yang berpikir, kenapa harus valid kalo yang ga valid aja bisa nampak..

      Balas
      • Bener juga ya. Masih banyak yang menganggap standar Web itu sekadar valid X/HTML & CSS. Padahal juga ngga ada jaminan.

      • iya mas.. valid X/HTML dan CSS hanya satu di antaranya..

Ada apa di pikiranmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: