Pisang…

Satu sisir pisang tergeletak di atas meja. Pisang tersebut masih berwarna hijau, sepertinya masih keras dan mentah. Aku mendekati ibu penjaja yang duduk di dekat meja itu. Kataku, “Bu, boleh beli pisangnya?”. Si Ibu mengiyakan sembari membungkus pisang yang aku tanyakan. Aku sempat menanyakan apakah pisang tersebut sudah matang atau belum, namun si Ibu sepertinya tidak mendengar. Aku pun pulang dengan membawa si pisang hijau.
Sesampainya di rumah, aku penasaran. Sudah matangkah pisang ini?. Yah, kalau tidak dicoba, mana bisa tahu. Aku kemudian mengambil satu buah dan kukupas kulitnya. Bau getah pisang segera menghambur menyusup ke dalam ruang kosong di hidungku. Wah, ini masih mentah.. Coba dulu saja, siapa tahu sudah manis. Tak sadar, aku mulai menggigit si pisang. Ternyata masih keras dan sepet. Aku segera membuangnya ke tempat sampah.

Wah, berarti semuanya masih mentah! Aku kecewa. Masa sih pisang mentah dijual. Tak mungkin..  Tiba-tiba aku teringat pada pelajaran Biologi mengenai enzim. Sepertinya aku pernah mengingat bahwa ada enzim yang bisa mempercepat pematangan buah di tempat gelap. Aku pun segera membungkus buah pisang yang tersisa dengan plastik hitam. Kemudian, pisang tersebut kusimpan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung.

Keesokan harinya, aku membuka bungkusan pisang tersebut. Wah berhasil! Pisang mulai nampak berwarna kuning di pangkal dengan meninggalkan sedikit sisa-sisa warna hijau di ujung. Coba coba coba! Aku mengambil satu dan mulai menggigit. Hmm, manis!! Pisangnya sudah matang rupanya.

Jadi apa yang terjadi? Apakah itu karena enzim? Aku pun mulai melakukan penelusuran dan penyelidikan. Ternyata pelaku pematangan buah adalah enzim yang bernama Ethylene. Ethylene adalah gas hidrokarbon sederhana (H2C=CH2) yang diproduksi oleh buah yang sedang menuju pematangan. Gas ini menjadi pemicu untuk enzim-enzim lainnya. Misalnya amylase yang berfungsi memecah pati menjadi glukosa yang memberikan rasa manis. Ada juga pectinase yang memecah dinding sel dalam pisang, sehingga menjadi lebih lunak. Chlorophyle yang memberikan warna hijau kemudian dipecah dan dihasilkan pigmen baru kuning, merah, atau biru tergantung jenis pisangnya.

Pisang yang sudah lunak mudah sekali untuk mendapatkan memar ketika terbentur. Memar ini dapat menghasilkan enzim polyphenoloxidase yang dapat mempercepat proses oksidasi. Enzim ini menyebabkan pisang menjadi cepat berwarna kecoklatan. Oleh karena itu, pisang lebih tahan lama jika didistribusikan masih dalam keadaan berwarna hijau.

Lalu, bagaimana cara mempercepat pematangan pisang? Ternyata cara yang kulakukan di atas sudah benar. Pisang dibungkus sehingga gas Ethylene yang dihasilkan terkonsentrasi. Akibatnya, pisang akan menjadi matang sesuai dengan proses yang telah disebutkan. Jadi bukan tempat gelap yang penyebabnya, namun ruang tertutup.

Satu hal lagi yang menarik, pisang yang matang ternyata menghasilkan gas ethylene yang sangat banyak sehingga dapat membantu pematangan buah yang lain. Contohnya adalah pada buah pir dan alpukat. Bungkus pir dengan buah pisang, sehingga gas ethylene yang dihasilkan mempengaruhi enzim-enzim pada buah pir. Buah pir pun menjadi lebih cepat matang.

Ternyata, aku tidak lebih tahu daripada si Ibu penjaja buah pisang.

Hmm.. yummy..

Referensi:

Credits:

Platano de Catarias image by topicchio, licensed Creative Commons Attribution 2.0

Banana varieties by Timothy Pilgrim, licensed GNU Free Documentation License version 1.2 or later

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

6 Komentar

  1. nice info gan… mantap… menerapkan sains dlm kehidupan sehari-hari… like this…

    Balas
  2. hmm…. great posting.

    Balas
  3. oo gitu toh..
    baru tau sy..🙂

    Balas
  4. wah jadi jangan keburu dibuang ya,.. dibungkus dulu,.. trus klo kelupaan gimana?. he..he. sip lah.

    Balas

Ada apa di pikiranmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: