Ronggeng Dukuh Paruk

Langit di timur mulai benderang ketika aku melangkah ke luar. Belum seorang pun di Dukuh Paruk yang sudah kelihatan. Langkahku tegap dan pasti. Aku, Rasus, sudah menemukan diriku sendiri. Dukuh Paruk dengan segala sebutan dan penghuninya akan kutinggalkan. Tanah airku yang kecil itu tidak lagi kubenci meskipun dulu aku telah bersumpah tidak akan memaafkannya karena dia pernah merenggut Srintil dari tanganku. Bahkan lebih dari itu. Aku akan memberi kesempatan kepada pedukuhanku yang kecil itu kembali kepada keasliannya. Dengan menolak perkawinan yang ditawarkan Srintil, aku memberi sesuatu yang paling berharga bagi Dukuh Paruk: ronggeng!
(Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari)

Aku masih ingat betul paragraf penggalan dari novel Ronggeng Dukuh Paruk di atas. Saat itu aku masih duduk di bangku SMP. Paragraf tersebut tertulis di dalam Lembar Kerja Siswa (atau lazim disebut LKS kala itu) mata pelajaran Bahasa Indonesia. Begitu lembar tersebut dibagikan, aku segera larut membaca potongan-potongan paragraf karya penulis terkenal Indonesia. Sampai akhirnya guruku yang memanggil-manggil tidak kuindahkan. Akhirnya oleh guruku tersebut aku diinstruksikan untuk menangani administrasi LKS ini di kelas sebagai hukuman. Wah, itu sudah lama sekali.

Oke, cukup memorinya. Kembali ke topik utama. Ronggeng Dukuh Paruk adalah sebuah trilogi klasik yang ditulis oleh Ahmad Tohari. Trilogi ini terdiri dari Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1984), dan Jantera Bianglala (1985). Novel ini cukup terkenal dan masuk ke dalam kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia, seperti yang kuceritakan sebelumnya. Para penikmat buku di Goodreads memasukkannya ke dalam daftar buku Indonesia sepanjang masa.

Trilogi ini berlatar belakang di Dukuh Paruk, sebuah dukuh fiktif, pada tahun 50-an. Novel ini mengisahkan cinta antara Rasus dan Srintil yang terhalang oleh keadaan. Terpilihnya Srintil sebagai ronggeng baru setelah 12 tahun Dukuh Paruk kehilangan ronggeng memaksa Rasus untuk rela berpisah dengan Srintil. Kecantikan dan keterampilan Srintil membuat Dukuh Paruk seperti mendapatkan durian runtuh. Dukuh Paruk yang semula miskin menjadi meningkat kesejahteraannya karena keberadaan Srintil yang kerap ditanggap di mana-mana.

Kepolosan dan ketidak-tahuan warga dukuh rupanya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Mereka dimanfaatkan oleh organisasi-organisasi politik tanpa mengetahui apa maksud mereka sebenarnya. Akibatnya, ketika terjadi pergolakan politik pada tahun 1965, beberapa warga dukuh termasuk Srintil yang diduga terlibat dalam organisasi politik yang dilarang oleh pemerintah ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.

Menjadi tahanan politik ternyata memberikan trauma mendalam pada diri Srintil. Ia kini tidak mau meronggeng lagi. Dia menginginkan menjadi wanita biasa, menjadi ibu. Namun ketika ia mulai menata hidupnya dan menemukan lelaki lain, dengan tiba-tiba Srintil kembali mengalami kepahitan hidup. Jauh lebih pahit dari sebelumnya. Rasus yang kembali dari kepergiannya menjadi tentara harus menemui Srintil yang telah tenggelam dalam kepahitan hidup.

Aku terhanyut ketika membaca novel ini. Cerita mengalir dengan ringan dan mudah dicerna. Namun demikian, akhir di cerita ini sangat berkesan di hatiku. Jika anda suka membaca novel-novel klasik Indonesia, anda wajib membaca novel ini.

Credit:
Gramedia.com untuk gambar cover buku.

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

7 Komentar

  1. hehe,,, beda banget sama gaya nulis saya yg lebih ABG-isme:mrgreen:
    cocok nih jadi penulis artikel khusus bagian review novel😀
    thx udah mengenalkan RDP pada saya… kapan2 rekomendasiin lagi buku2 yg bagus yup.🙂

    Balas
    • wew.. tulisanmu juga bagus kok..
      mendetail untuk setiap judulnya.. he3..

      nanti kalo ada lagi saya kasih tahu..

      Balas
  2. Putri Lizia

     /  Februari 14, 2010

    wew sy juga tertarik sama novel ini
    hmm rasanya kamu pernah cerita di forumnya novan
    klo kamu suka novel ini

    sy udah baca juga kok
    /lalala
    ini novel pernah dilarang gtu khan pas jaman suharto??
    atau di revisi,atau gimana saya lupa,
    gara2 ada pkinya gtu…

    Balas
  3. letnan

     /  Mei 28, 2011

    hihihi….novel ini membuka watak sejatinya bangsa…sayang sih banyak yang melenakan hihihi…emang gue pikirin….aku ya aku…huh enak saja…

    Balas
  1. Ketika Srintil Menari « radical[]rêveur

Ada apa di pikiranmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: