Sickened dan Sindrom Munchausen

Saat itu aku sedang duduk-duduk di sebuah ruang tunggu. Berbeda dengan indera yang lain, indera pendengaranku tidak dapat menahan diri untuk tidak mendengarkan apa-apa yang terjadi di sekitar tempat aku duduk.

“Iya Pak. Kemarin saya habis dari dokter. Katanya sih sudah agak parah. Ini besok saya sepertinya harus ke sana lagi”.

“Terus Pak? Tidak mencoba pengobatan tradisional?”

“Oh iya, kemarin saya melihat iklan pengobatan tradisional dari China di koran. Pengen juga sih Pak, saya ke sana, tapi katanya sih biayanya agak mahal. Tapi nanti sepertinya akan saya coba untuk datang ke sana”.

“Dicoba aja Pak, siapa tahu berhasil” . dst.

Aku melihat bapak-bapak yang sedang bercakap-cakap itu. Pandanganku menemukan bapak yang menceritakan dirinya yang sedang sakit. Pikiran aneh tiba-tiba datang menghampiriku. Mungkin aku termasuk orang jahat, karena aku bertanya dalam hati, mengapa bapak ini terlihat bangga saat menceritakan penyakitnya? Apakah bapak ini memiliki kepribadian membutuhkan kasih sayang (Need for affection) seperti yang dikategorikan oleh Abraham Maslow? Atau karena sebab yang lain?

Perlahan ingatanku menuntunku pada buku yang pernah aku baca beberapa bulan silam. Buku tersebut berjudul Sickened: The Memoir of a Münchausen by Proxy Childhood. Buku ini menceritakan kisah masa kecil Julie Gregory, si penulis, akan kehidupan masa kecilnya. Alkisah, Julie kecil sering sekali diajak ibunya untuk mengunjungi dokter dengan alasan bahwa Julie selalu sakit-sakitan. Di perjalanan, Julie kecil selalu dipandu ibunya untuk berperilaku sesakit mungkin. Di hadapan dokter, ibu Julie selalu melebih-lebihkan sakit Julie dan memaksa dokter untuk melakukan pemeriksaan mendalam mengenai diri Julie. Bahkan si ibu marah-marah ketika para dokter tidak mau melakukan operasi jantung terhadap Julie. Dokter beranggapan bahwa tidak ada yang salah dengan jantung Julie. Di rumah pun, Julie selalu diberi makanan yang sesuai dengan perintah dokter, obat untuk diminum setiap hari, dan disuruh bekerja di rumah peternakan mereka.

Beberapa tahun lamanya, akhirnya Julie menyadari ada yang salah dengan dirinya. Kesalahan tersebut adalah dia tidak sakit. Secara tidak sengaja saat ia mengikuti sebuah kuliah, ia mendengar mengenai sindrom Münchausen dan sindrom Münchausen by proxy.

Nama sindrom Münchausen didapatkan dari cerita mengenai Baron Münchausen. Dahulu kala, Baron Münchausen terkenal suka menceritakan kisah-kisah fantasi yang tidak mungkin yang terjadi pada dirinya. Nama ini pun diabadikan sebagai nama sindrom di mana seseorang mengeluhkan sakit atau trauma untuk mendapatkan simpati dari orang lain.

Berbeda dengan sindrom Münchausen, sindrom Münchausen by proxy bisa jadi lebih berbahaya. Dalam kasus ini, seseorang bisa secara sengaja menyebabkan luka atau sakit kepada orang lain (bisa juga terhadap anaknya sendiri) untuk mendapatkan perhatian dan keuntungan lainnya. Hal inilah yang terjadi pada diri Julie. Akhirnya dengan bekal pengetahuan tersebut dan usaha yang sangat keras, Julie bisa melepaskan diri dari ibunya. Kini ia mengajar dan turut membantu memberikan dukungan akan masalah-masalah kasus malpraktik.

Wah, kini aku merasa sangat jahat karena telah berpikir yang tidak-tidak. Maafkan diriku. Kudoakan semoga dirimu lekas sembuh wahai bapak yang sedang sakit di sana.

Credits: Sickened cover image by Goodreads.

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

3 Komentar

  1. ini belum ada yg komen atau memang sy yg pertamax…?
    hmm… pertama, sy sering menemui kasus yg sama seperti si bapak tsb. di sekitar, entah di manapun itu, entah kenapa, sy sering mendengar orang bercerita ttg hal yg agak personal thdp org yg tak dikenal sebelumnya. seringnya para pelaku adalah org yg sudah setengah baya atau agak lanjut. dan dikaitkan dgn teori Maslow… hmm, mungkin bisa jg.

    kedua, sy juga pernah baca buku yg dimaksud ketika msh kuliah. sy msh ingat sampai benci dgn tokoh ibu Julie. sepertinya sang ibu yg ‘sakit’. dan jika dikaitkan dgn psikologis (lagi)… sy prnh dengar asumsi2 yg bisa dikaitkan dgn kasus ini. tp khawatir nanti komennya jd lebih panjang, mending ga ush dipaparkan.:mrgreen:

    Balas
  1. Cara Pengobatan Sindrom Munchausen (pura-pura sakit padahal sehat) | My Blog

Ada apa di pikiranmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: