Menunggu

Sekarang sudah pukul setengah delapan, lewat tiga puluh menit dari waktu yang dijanjikan. Untunglah ada buku Olenka yang siap menemani melewati waktu tunggu yang membosankan. Beberapa orang jogging mondar-mandir melewatiku. Ada beberapa keluarga yang sedang asyik bercanda dan bermain bulu tangkis. Dan aku berlari-lari dalam pikiranku.

Aku merasa diriku sangat bodoh karena mau menunggu. Emang enggak punya kerjaan lain apa? Apakah menunggu itu salah? Terkadang aku bertanya, mengapa sekarang orang lebih suka menggunakan penilaian pintar dan bodoh dibandingkan benar dan salah. Misalkan, ketika ada orang yang mengantungi bungkus permen yang dimakannya. Orang sering berkata bahwa ia orang bodoh. Ngapain repot-repot mengantungi sampah, tinggal buang saja kenapa? Tetapi apakah itu perbuatan yang salah? Menurut norma jaman dahulu, yang mungkin sudah berubah sekarang, membuah sampah sembarangan adalah perbuatan yang salah. Yang mengakibatkan perbuatan orang pengantung bungkus permen menjadi perbuatan yang benar. Benar yang dinilai bodoh. Apakah yang benar selalu bodoh? Apakah yang pintar selalu benar?

“Bukan bukan. Sampeyan bodoh bukan karena menunggu itu perbuatan salah. Tetapi lebih karena sampeyan tidak mencoba menghubungi mereka untuk memastikan bahwa mereka menepati janjinya.”

“Wah pintar sekali sampeyan.”

Dan aku pun melangkah pulang meninggalkan tempat pertemuan.

Tinggalkan komentar

8 Komentar

  1. dan endingnya adalah…
    nggak ketemu:-/
    sabar ya rif^^

    Balas
  2. iya, knp gak telpon dulu orangnya? jd gak enak kan nunggunya? hmm… sabar yap.

    Balas
  3. btw…yang ditunggu sapa ya???🙂

    Balas
  4. @suaracahaya:
    yap thanks..

    @fadhilatul:
    yap.. sepertinya cuman miskomunikasi saja..

    @andrepro:
    datanglah… kedatanganmu kutunggu…
    (Ridho Roma mode: on)

    Balas
  5. untungnya sampeyan bawa buku rif.. jadi ada kerjaan hehe..

    Balas
    • untung saya ga bawa sapu..
      kalo saya bawa sapu, ntar saya nyapu.. ^^

      Balas
      • hadi

         /  Maret 16, 2010

        hahaa.. bisa aza sampeyan.. tp bagus juga tuh, calon dosen nyapu dijalan, contoh yg baik bukan?😀

      • amien deh… amien calon dosennya ya..:D

        kalo saya bawa kompor.. masak deh..

Ada apa di pikiranmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: