#5 Dunia Blog ini Keras, Jenderal

Pagi itu, suasana di padepokan Ki Kawuryan agak lain dari biasanya. Para murid tampak sibuk membersihkan halaman padepokan. Ada juga yang mengepel lantai pendopo. Ada yang memperbaiki pintu gerbang. Ada pula yang sibuk memperbaiki genteng yang bocor. Di dapur, para murid juga tak kalah mengeluarkan semua kepandaian memasak. Semua tampak serius sekali. Ki Kawuryan tampak senang melihat tingkah laku murid-muridnya. Dalam hati ia ingin kejadian seperti ini bisa terjadi setiap hari, kalau tidak minimal setiap sebulan sekali lah. Penyebab kesibukan luar biasa tersebut adalah berita akan datangnya seorang Jenderal dari keraton. Dia adalah panglima dari pasukan Cakra yang terkenal memiliki kekuatan segelar-sepapan.

Ketika siang menjelang, penjaga gerbang padepokan mengabarkan bahwa sang Jenderal telah datang. Para murid seketika sibuk menata dirinya di halaman padepokan. Mereka ingin melihat bagaimana sang Jenderal dilihat dari dekat. Murid lain yang bertugas di bagian konsumsi mulai menata hidangan di dalam pendopo. Mereka terlihat gembira karena telah berhasil mempersiapkan makanan dalam jumlah besar. Seluruh pasukan sang Jenderal pun kalau datang ke sini pasti akan mendapatkan bagian, pikir salah seorang murid.

Para murid yang sudah menata diri di halaman berdebar jantungnya menunggu munculnya sang Jenderal dari pintu gerbang. Mereka berpikir pasti sang Jenderal dikawal pasukan di depan dan di belakangnya. Berapa banyak kira-kira pasukan yang dibawa sang Jenderal?, pikir mereka. Namun, mereka tidak mendengar ada deru ratusan kuda. Suara yang terdengar kok sepertinya hanya suara dari seekor kuda saja. Benar ternyata, sang Jenderal datang dengan menuntun kudanya seorang diri. Ia berpakaian layaknya pendekar yang sedang berkelana. Namun demikian, wibawa sang Jenderal masih terasa begitu besar.

Sang Jenderal ditemui oleh Ki Kawuryan di pendopo. Ki Kawuryan rupanya adalah teman lama sang Jenderal. Begitu datang, sang Jenderal langsung disuguhi beraneka makanan yang sudah dipersiapkan. Namun karena tamunya hanya satu orang, akhirnya Ki Kawuryan memerintahkan supaya makanan tersebut dibagi ke semua murid dan tetangga padepokan sekitarnya.

Sembari menyantap hidangan, sang Jenderal bercerita mengenai kisah masa muda dulu dengan Ki Kawuryan. Pada murid yang ingin mendengarkan semula takut-takut untuk mendekati mereka. Namun, setelah sang Jenderal mempersilahkan, para murid mulai mendekati dan ikut dalam pembicaraan.  Beberapa saat kemudian, Ki Kawuryan memerintahkan para murid untuk meninggalkan pendopo karena ingin berbicara masalah rahasia dengan sang Jenderal.

Sementara itu, di sisi lain padepokan, si Dudun tampak asyik menikmati makanan yang sejatinya untuk pasukan sang Jenderal. Kapan lagi dapat makan seperti ini, pikirnya dalam hati. Tiba-tiba, salah satu temannya datang menghampiri. “Dun, sampean dipanggil Ki Kawuryan”, kata temannya tadi. Waduh, kenapa lagi ini, kata si Dudun dalam hati. Dia segera menghabiskan makannya dan menuju ke pendopo.

“Ada apa Ki?”, tanya si Dudun.

“Ini ngger, sang Jenderal ingin bertemu denganmu..”, kata Ki Kawuryan.

“Ada apa Jenderal?”, tanya si Dudun.

“Katanya kamu sering blogwalking ya?”, kata sang Jenderal.

“Iya Jend, ada apa gerangan?”, tanya si Dudun lagi.

“Begini. Saya kan mulai ngeblog beberapa bulan lalu. Saya biasanya menulis tentang dasar-dasar ilmu pertahanan dan strategi perang.”, kata sang Jenderal.

“Lalu?”, desak si Dudun.

“Nah, tiba-tiba, ada pemberitahuan yang masuk kalau ada orang yang menulis tentang kejelekan strategi saya. Katanya strategi saya kuno, tidak berdasar, dan mudah untuk dihancurkan.”, kata sang Jenderal.

“Lalu kenapa Jenderal?”, tanya si Dudun belum paham.

“Yaa.. Saya tidak suka saja dengan cara dia menulis. Dia seolah-olah ingin menjatuhkan saya. Untung paman saya pernah berpesan kepada saya, jadi dia aman sampai sekarang.”, kata sang Jenderal.

“Kalau boleh tahu pesan apa itu Jenderal?”, tanya si Dudun.

Sang Jenderal pun bercerita tentang kehidupan remajanya. Dulu ia pemuda yang kuat dan cukup mahir dalam beladiri. Karena dia membutuhkan uang, suatu ketika ia nekat mengikuti turnamen beladiri ilegal di kotanya. Dia berhasil menjadi juara, namun ternyata ia tidak mendapatkan uang hadiah sesuai dengan yang seharusnya. Ketika ia ingin pergi meninggalkan tempat itu, sebelum keluar dari pintu, ternyata ada orang yang merampok uang si penyelenggara turnamen. Perampok itu berpapasan dengan sang Jenderal di depan pintu. Si penyelenggara berteriak untuk menyuruh sang Jenderal menghentikan perampok itu. Namun, karena dendam, sang Jenderal memilih melepaskan perampok itu.

Tak lama kemudian, di luar, terjadi kasus pengejaran perampok tersebut oleh pasukan kerajaan. Karena terdesak, perampok itu merampok sebuah kereta kuda dan membunuh pengemudinya. Sang Jenderal yang mengenali pengemudi itu sebagai pamannya, merasa sangat menyesal. Di pangkuannya, sebelum sang paman meninggal, ia mengucapkan pesan terakhir kepada sang Jenderal, “With great power comes great responsibility.” (lihat catatan 1 di bawah).

“Jadi saya berjanji tidak akan menyalahgunakan kekuasaan saya hanya karena tidak suka dengan orang tersebut”, kata sang Jenderal mengakhiri ceritanya.

“Oo.. Begitu. Lalu bagaimana dengan masalah blog tadi Jenderal?”, tanya si Dudun lagi.

“Menurutmu, apa yang sebaiknya saya lakukan untuk menghadapi orang tersebut? Apakah kamu pernah memiliki pengalaman seperti itu?”, tanya sang Jenderal.

“Dunia blog itu keras Jenderal. Saya pernah berkunjung ke padepokan Coding Horror dan menemukan kritik yang luar biasa pedas kepada tulisan blog lain”, kata si Dudun.

“Lalu apa yang terjadi?”, tanya sang Jenderal.

“Yaa.. Biasanya blog yang dikritik akan menulis lagi bantahan mengenai hal tersebut. Nantinya malah akan timbul diskusi yang menarik”, jelas si Dudun.

“Lalu mengenai yang kamu contohkan itu?”, tanya si Jenderal.

“Mereka akhirnya menjadi teman, dan malah sekarang bekerja sama dalam membuat beberapa proyek”, kata si Dudun.

“Ooo.. Begitu ya?”, sang Jenderal mengangguk-angguk.

“Dunia blog itu keras Jenderal. Tapi selama ada sisi positifnya, kenapa tidak?”, kata si Dudun.

“Begitu ya, kalau begitu saya langsung pamit saja sekalian”, kata sang Jenderal pada Ki Kawuryan.

“Loh, kok terburu-buru? Mau ke mana?”, tanya Ki Kawuryan.

“Saya mau mempersiapkan tulisan balasan untuk orang itu”, kata sang Jenderal.

(1) Dikutip dari cerita film Spider-Man oleh Columbia Pictures Corporation.

Credits: Ohm webcomic by Randall Munroe of xkcd.com.

Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

7 Komentar

  1. Komiknya bagus😀 Jadi inget quote temen di FB, “With great code comes great bugs. Remember that, Peter.”😀

    Btw ini sebenernya ngomongin apa sih?

    Balas
  2. wee keren rif cerita yg sampean buat..
    saya tunggu kisah dudun berikutnya🙂

    Balas
  3. @sigit:
    hahahaha…
    maksudnya jangan takut tulisan kita dikritik oleh tulisan lain.. malah bisa menjadi ajang diskusi yang baik..

    @hadi:
    sip..
    matur nuwun bang Hadi.. ^^
    Saya tunggu juga cerita sampean..

    Balas
  4. lukman

     /  Maret 13, 2010

    wah..kasi pesan koq mutar-mutar dulu..tapi asyik juga seh.

    Balas
  5. mantab ceritanya… analogi strategi perang dengan dunia blog. hehe, emang keras kok dunia blog, cuma di bawa santai aja.

    Balas
  6. @lukman:
    muter-muter ga jelas ya pak?? he3

    @hanif:
    iya.. saya santai kok..😀

    Balas
  7. emank kok keas tapi harus sabaar

    Balas

Ada apa di pikiranmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: