Budaya, Bahasa, dan Matematika

Beberapa hari belakangan ini, saya sedang membaca sebuah buku yang menarik. Buku tersebut berjudul Outliers: the Story of Success yang ditulis oleh Malcolm Gladwell. Sebenarnya saya sudah mulai membaca buku ini sejak dulu, namun baru kali ini ada niatan untuk menyelesaikannya sampai tuntas. Hal yang menarik dari buku ini adalah ia mampu mengambil beberapa fakta menarik dari segala kejadian yang menimpa orang-orang sukses. Ternyata, untuk menjadi orang yang sukses itu dipengaruhi beberapa faktor yang bisa dibilang unik, seperti kapan dan di mana anda dilahirkan, bagaimana latar belakang kebudayaan anda, apakah anda mendapatkan kesempatan, dan sebagainya. Intinya, sukses itu bukanlah sebuah kebetulan belaka, namun sebuah peristiwa yang terdiri atas beberapa kejadian beruntun yang teratur.

Ada beberapa kisah menarik yang ditulis di dalam buku tersebut. Mulai dari mengapa para pemain hoki profesional di Kanada kebanyakan lahir di awal tahun, mengapa Bill Gates, Steve Jobs, dan Bill Joy lahir pada saat yang tepat untuk sukses di bisnis komputer, bagaimana kisah Chris Langan yang meski jenius namun belum diakui kalangan akademisi, kisah para pengacara sukses di New York yang ternyata mengalami persamaan latar belakang, mengapa Korean Airlines dahulu memiliki catatan keselamatan penerbangan yang buruk, dan kisah Gladwell dari Jamaika. Dari semua kisah tersebut, aku hanya akan menyampaikan satu kisah saja yang cukup unik, yaitu mengapa orang Asia (khususnya Cina) dapat dikatakan lebih pandai dalam bidang Matematika.

Sawah dan Kebiasaan Bekerja Keras

Tidak ada orang yang bangun sebelum subuh tiga ratus enam puluh hari dalam setahun yang gagal untuk membuat keluarganya kaya raya

Apakah perbedaan antara negara-negara di Amerika, Eropa, dan Asia? Ketiga benua tersebut memiliki lahan pertanian. Perbedaannya adalah pada luasan dari teknik budidaya yang mereka gunakan. Di Amerika dan Eropa, lahan pertanian milik keluarga berukuran sangat besar, sehingga mereka menggunakan alat bantu mekanik untuk memudahkan pekerjaan mereka. Selain itu, berdasarkan jenis tanaman yang mereka tanam, ada kala di mana tanah harus diistirahatkan terlebih dahulu supaya hasil panen tidak menurun pada musim berikutnya.

Berbeda dengan di kedua benua tersebut, di Asia (dalam kasus ini Cina), lahan persawahan berbentuk petak-petak kecil yang diurus oleh satu keluarga. Tanaman yang ditanam adalah padi, salah satu jenis tanaman yang membutuhkan perhatian ekstra untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Berbeda dengan persawahan di Amerika dan Eropa, para petani mempergunakan beberapa teknik pengairan, pemupukan, dan sebagainya sehingga dapat menghasilkan panen yang bagus dan melimpah. Perhatian yang khusus untuk jenis tanaman padi ini menyebabkan para petani harus bangun pagi-pagi buta dan bekerja keras hingga tengah hari. Bahkan ada pepatah Cina yang mengatakan, “Tidak ada orang yang bangun sebelum subuh tiga ratus enam puluh hari dalam setahun yang gagal untuk membuat keluarganya kaya raya“. Marilah kita simpan budaya bekerja keras ini sebagai sebuah variabel yang akan kita mainkan nanti di bagian akhir tulisan ini.

Bagaimana Menyebut Sebuah Bilangan?

Pertanyaan yang cukup sederhana. Bagaimanakah kita menyebut sebuah bilangan dalam bahasa kita? Menggunakan bahasa Indonesia, kita membilang dengan menggunakan satu, dua, tiga, sepuluh, dua puluh, seratus dua puluh tiga, dan seterusnya. Terus kenapa?

Dalam sebuah contoh dalam buku The Number Sense yang ditulis oleh Stanislas Dehaene, seperti dikutip dalam Outliers, penyebutan bilangan dalam bahasa Cina sangatlah sederhana. Contohnya adalah 4- disebut “si” dan 7-disebut “qi”. Untuk menyebutkan bilangan ini rata-rata memerlukan waktu seperempat detik. Berbeda dengan bahasa Inggris. Untuk menyebutkan 4-“four” dan 7-“seven” diperlukan waktu yang lebih lama, sekitar sepertiga detik. Perbedaan tipis ini ternyata dapat meningkatkan kemampuan rata-rata orang Cina dalam mengingat angka, hingga 10 digit.

Perbedaan lainnya adalah mengenai struktur penyebutan untuk bilangan di atas sepuluh. Pada bahasa Inggris, bilangan belasan disebutkan dengan menyebut bilangan satuan terlebih dahulu. Contohnya eleven, twelve, fourteen, fifteen. Untuk bilangan di atas 20, berbeda lagi penyebutannya, twenty-one, twenty-two, fifty-five. Di sini dapat kita lihat ketidakkonsistenan dalam penyebutan bilangan.

Pada sistem bilangan Cina, Jepang, dan Korea, ketidakkonsistenan tersebut tidak ditemukan. Pada bahasa mereka, 11 disebut sepuluh-satu, 12 disebut sepuluh-dua, 22 disebut dua-puluh-dua, dan seterusnya. Penyebutan bilangan seperti ini ternyata dapat memudahkan dalam mencerna sebuah persoalan bilangan. Misalkan untuk menjumlahkan dua buah bilangan dua digit, akan lebih mudah untuk menjumlahkan sepuluh-satu dengan dua-puluh-tiga dibandingkan dengan sebelas dengan dua-puluh-tiga. Perbedaan bahasa yang sederhana ini ternyata memberikan faktor kedua dalam bidang matematika.

Budaya + Bahasa = Matematika

Faktor budaya dan faktor bahasa ini ternyata memiliki efek pada keahlian matematika. Kebudayaan bekerja keras menyebabkan orang-orang Asia memiliki ketahanan yang tinggi ketika diminta mengerjakan soal matematika. Faktor penyebutan bilangan juga menyebabkan mereka lebih cepat dan mudah dalam mengerjakan perhitungan matematika. Dua buah faktor sederhana yang ternyata memiliki efek yang besar.

Ada beberapa kisah menarik dan berbeda mengenai orang sukses lain yang dapat kita ambil hikmahnya dari buku ini. Terlepas dari benar atau tidaknya argumentasi yang dikemukakan, satu hal yang pasti adalah kesuksesan itu tidak bisa diraih dengan mudah. Kita tidak bisa hanya tidur-tiduran dan ketika kita bangun, tiba-tiba kita telah sukses. Kesuksesan memerlukan perjuangan, semangat, dan doa.

Sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya.. ^^

Image credits:

Pos Sebelumnya
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

8 Komentar

  1. hmm…. *mikir*

    Balas
  2. Wah, keren banget.. Sayangnya kayaknya masih ga da hubungan dengan Bill Gates dkk yang dituliskan di atas🙂

    Balas
  3. mas arif, sebenarnya komen ini sudah saya post di sebuah posting tapi sy takut ga kebaca..(Butuh banget.. ngemis mode: on)

    pertanyaan saya adalah:
    gimana merepair hardis saya??

    seminggu yang lalu, ketika saya sedang bermain kompi, tiba-tiba restart sendiri dan muncul tulisan yang berbunyi +- “KERNEL_INPAGE_ERROR” dan minta di restart.

    setelah restart ternyata hasilnya sama aja, hardisk malah tidak terdeteksi. dan saya yakin 100% hardisk itu yang bermasalah karena saat saya coba di komputer temen juga tidak terdeteksi…
    selanjutnya sampai sekarang saya tidak bisa berinternet ria dirumah..

    tolong kesediaan mas arif membantu saya.
    reply lewat email ya mas,, coz saat ini saya paling internetan pake hp aja..(memelas banget yak..?:)
    sekali lagi tolong mas..:(

    Balas
  4. Si Paijah

     /  Mei 28, 2010

    saya juga sedang mikir @_@a

    Balas
  5. Si Paijah

     /  Mei 28, 2010

    sama. Saya kok juga mikir @_@a
    *kurang pinter emang😀

    Balas
  6. @dhila & si paijah:
    dorr!! he3…

    @miftahgeek:
    kalo yang Bill Gates dkk, itu tentang pengalaman 10,000 jam..
    Coba cari bukunya aja mas.. *promo mode: on*

    @eghojansu:
    email sent…

    Balas
  7. sama dg pkiran sayaa..
    (http://rior06.student.ipb.ac.id)

    Balas

Ada apa di pikiranmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: