Aku dan Workspace

Setahun belakangan ini, aku sedang membiasakan menggunakan sistem operasi Linux untuk keperluan sehari-hari. Sebelum kulanjutkan cerita ini lebih jauh, aku tegaskan bahwa posisiku dalam perang dingin Open Source dan proprietary software adalah netral. Maksud netral di sini adalah aku menganggap masalah perang dingin ini adalah masalah pilihan, pilih sistem yang tepat sesuai dengan kebutuhan.

Oke, kembali ke cerita utama. Setahun belakangan ini, aku sedang membiasakan menggunakan sistem operasi Linux. Dari beberapa pilihan distro (distribusi) Linux yang beraneka ragam, ada tiga distro favorit yang pernah kugunakan, yaitu OpenSUSE, Fedora, dan Ubuntu. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku pun memilih distro favorit sejuta umat, yaitu Ubuntu.

Salah satu hal yang menarik pada sistem operasi Linux adalah adanya workspace yang lebih dari satu. Workspace adalah tempat di mana kita menjalankan beberapa aplikasi. Ibaratnya, workspace itu seperti meja belajar kita. Di meja belajar ini, kita bisa gunakan untuk mengerjakan PR, membaca buku, menggambar, duduk, dan sebagainya. Ada kalanya, ketika kita mengerjakan PR, kita memerlukan referensi dari berbagai macam buku. Jika buku ini berjumlah banyak, maka meja belajar kita pun akan menjadi penuh dengan buku-buku tersebut, sehingga kita memerlukan meja belajar tambahan.

Di dalam desktop komputer, ketika kita membuka banyak sekali aplikasi, aplikasi tersebut akan memenuhi desktop kita. Kita memang bisa menyembunyikannya, namun kita akan mengalami kesulitan untuk membuka aplikasi tersebut bila menggunakan shortcut alt+tab karena jumlahnya yang terlalu banyak. Keterbatasan ini terdapat pada workspace tunggal seperti pada sistem operasi Windows. Di Linux, keterbatasan ini diatasi dengan adanya workspace yang bisa ditambahkan sesuai kebutuhan.

Desktopku dengan empat workspace

Sebelumnya, aku belum mendapatkan ide bagaimana workspace ini bagaimana memanfaatkan multiple workspace ini secara maksimal. Dan tiba-tiba ide ini muncul (kenapa ide ini tidak muncul dari dulu?). Karena aku terbiasa melakukan pekerjaan sembari bermain, maka aku menggunakan dua workspace untuk setiap kegiatan. Satu workspace khusus untuk bermain dan satu workspace khusus untuk bekerja. Seperti yang dapat teman lihat pada gambar di atas. Workspace sebelah kiri kugunakan untuk bermain. Di sana, aku membuka browser untuk membuka situs yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, membuka IM, Twitter desktop client, musik, dan sebagainya. Sementara di workspace kanan, aku gunakan untuk membuka aplikasi yang berkaitan dengan pekerjaan, seperti browser untuk mencari referensi, text editor seperti Scribes, dan sebagainya. Jika aku merasa sedikit lelah bekerja, maka aku tinggal kembali ke workspace bermain. Dan apabila sedang tidak bermain, aku kembali ke workspace bekerja. Karena ada pembagian aplikasi ke dua workspace, aplikasi yang masuk ke shortcut alt+tab dapat berkurang sesuai dengan jumlah aplikasi dalam workspace tertentu saja.

Bagaimana dengan teman-teman? Teknik apa yang teman-teman gunakan untuk memaksimalkan bekerja dan bermain?

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

10 Komentar

  1. martinbudi

     /  Juni 24, 2010

    he he
    ni comment dari lucid
    tumbenan dia baekan sama modem “su-8300” ha ha

    kalo di tempat kerja
    pasti bos bos ngga pada tau kalo pegawainya
    maennn mulu
    akibat multiple workspace tuu😀
    eh shortcuts di ubuntu apa yah untuk ganti workspace
    *sebagai panic button😛

    Balas
  2. dianadelia

     /  Juni 24, 2010

    wah hebat…benar kata martin nanti para bos kaga tau para pegawainy main mulu kerjaanya coz setiap bos datang pasti workspace kerjaan yang akan di buka hihihihi

    tapi sayang d kantor gw all windows

    Balas
  3. hmm, awak mana ngerti beginian. :mrgreen;

    Balas
  4. @martin:
    tuh kan.. begitu aku posting, langsung baikan antara lucid ama su-8300 nya..
    he3..
    shortcut untuk ganti workspace (kalau compiz aktif) ctrl+alt+arah panah

    @dianadelia:
    he3..
    tapi kalo bosnya pake linux, ntar tetep ketauan semua..

    @dhila13:
    gpp..
    yang penting udah komen,,.. terima kasih..🙂

    @abdul muiz:
    salam kenal juga..

    Balas
  5. halida ernita

     /  Juni 24, 2010

    sama kayak divista gitu bukan sih?

    Balas
  6. Lah kok theme nya sama Rif??
    Satu selera nih kayaknya. :p

    Balas
  7. @halida:
    di Vista ada virtual workspace ya?
    aku ga tau karena blum ubek2 vista..

    @andreas:
    iya nih.. nyobain theme barunya WP..
    sering muncul theme yang baru dan bagus-bagus..😀

    Balas
  8. Henri H.

     /  Juli 13, 2010

    Mantap rif..
    numpang komeng…
    buat di Windows bisa install software buat multiple desktop, e.g. Yodm3D..
    ato alt+tab dienhance pake TaskSwitch gt biar milihnya aktif program kaya di Mac..

    gw gak multiple desktop..monitornya yg multiple..tp leher jd pegel muter2😦

    Balas
  9. hoo…
    nice inpo gan…

    kudos..😀

    Balas

Ada apa di pikiranmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: