Bogem

Rabu kemarin, saya diajak paman dan keluarganya untuk mengantarkan adik sepupu saya yang akan disupit (atau sunat, khitan). Mereka jauh-jauh datang untuk mengunjungi juru supit yang legendaris di Jogja, yaitu juru supit Bogem (dibaca: mBogem red.). Penasaran, saya memutuskan untuk ikut dan melihat tempat juru supit yang berdiri sejak tahun 1930-an itu. Siapa tau nanti kalau saya punya anak lelaki, bisa saya bawa ke tempat supit yang didirikan oleh Raden Ngabehi Notopandoyo tersebut.Juru supit Bogem terletak di Jalan Raya Solo KM 16. Kalau dari arah Jogja, lokasi juru supit Bogem berada di kiri jalan sebelum Candi Prambanan. Juru supit ini dalam sehari buka dalam dua shift, pagi pukul 07.00 – 09-00 dan sore pukul 15.00 – 17.00.

Saya beserta rombongan berangkat dari penginapan pukul 14.00. Mendekati lokasi juru supit, terlihat beberapa polisi yang menjaga keramaian. Setelah sampai di tempat parkir, kami pun segera menuju ke tempat pendaftaran.

Silahkan mendaftar di sini...

Proses supit di Bogem terdiri atas beberapa tahapan. Tahap pertama adalah pendaftaran. Orang tua si anak mengisikan data mengenai anak di petugas pendaftaran. Setelah itu, si anak disuruh untuk berganti menggunakan sarung di sebuah ruangan tertutup. Di ruangan tersebut juga dilakukan pengecekan apakah terdapat permasalahan atau tidak dengan kondisi yang akan disupit. Setelah selesai, si anak diberi nomor antrian yang dipasang di bajunya dan disuruh duduk di tempat duduk panjang bersama-sama teman-temannya yang akan disupit. Pada saat itu terlihat wajah-wajah tegang para anak layaknya akan dieksekusi. Ada beberapa anak yang memegang dadanya yang berdegup kencang, ada pula yang diam saja dan mencoba berani. Namun, tak jarang pula ada beberapa yang pucat dan mulai menangis ketakutan.

Dag dig dug...

Sesekali, pintu ruang eksekusi terbuka dan petugas berpakaian putih memanggil dengan suara lantang, “Nomor 10 sampai 19 masuk!”. Anak-anak pun bergeser mendekati pintu masuk ruang eksekusi. Anak-anak itu digiring masuk tanpa ditemani oleh orang tua mereka. Orang tua memang dilarang untuk mendampingi pada saat anak dieksekusi. Ini mungkin berguna juga untuk meningkatkan mental anak. Para pengantar hanya bisa menunggu di luar.

Anak-anak pemberani

Di luar, telah ada sebuah panggung lengkap dengan penyanyinya. Rupanya Bogem menyediakan panggung hiburan bagi para pengantar supit. Maklum, untuk menyupit satu anak, bisa jadi membawa keluarga satu kampung. Di situ juga terdapat foto anak-anak yang telah dieksekusi. Keluarga yang ingin mendapatkannya bisa membelinya sebagai kenang-kenangan. Foto-foto tersebut diambil saat anak-anak duduk menunggu masuk ke ruang eksekusi. Ekspresi anak-anak tersebut sungguh menarik.

Suasana ruang tunggu

Setelah beberapa saat, orang tua akan dipanggil untuk masuk ke Pintu A. Di pintu ini, orang tua diberi penjelasan bagaimana perawatan luka si anak hingga benar-benar sembuh. Setelah penjelasan dan diberikan paket obat, orang tua dan si anak akan keluar dari Pintu B, dan proses supit pun selesai. Sanak saudara yang telah menunggu di Pintu B pun menyambut si anak dengan ucapan-ucapan selamat. Pemandangan yang indah sekali.

Untuk sepupu saya yang telah disupit, “selamat menempuh hidup baru“.

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

23 Komentar

  1. oh iya.. saya pernah tau soal BOGEM ini… ooh, ternyata di Sleman toh.😀

    Balas
  2. haha.. bogem. kalo ingat bogem, saya pernah dikerjain temen saya waktu itu.

    jadi ceritanya, didepan bogem itu ada warung soto bakso. nah waktu itu saya makan lahap sekali *karenaditraktir. trus begitu selesai makan, saya baru nyadar kalo teman saya ternyata ndak pesen.

    trus waktu saya plonga-plongo kekenyangan, teman saya bilang:

    “enak? tadi itu potongan2 daging yang di soto mu itu diambil dari gedung belakang lho *nunjukbogem.”

    “heee???!! *mencoba memuntahkan tapi ndak bisa”

    “wkwkwk”

    Balas
  3. amin

     /  Juni 30, 2011

    bukan yang menikah aja ya mendapat kata “selamat menempuh hidup baru” si siputi juga..

    Balas
  4. amin

     /  Juni 30, 2011

    bukan yang menikah aja ya mendapat kata “selamat menempuh hidup baru” si supit juga..

    Balas
  5. weh, baru tahu ada yang begini hahahaha

    Balas
  6. AKIA

     /  Juli 1, 2011

    hehehe teringat masa lalu :D:D

    Balas
  7. raimenceng

     /  Juli 7, 2011

    Kayaknya kurang tepat kalo “Selamat menempuh hidup baru”.
    Yang lebih pas “Selamat menempuh bentuk baru”.
    Wakakaka.😀

    Balas
  8. bli gurka

     /  Desember 23, 2011

    ini cerita saya waktu itu tahun 1985 saya di sunat dibogem…dan pas mau disunat juru sunat menanyakan cita2 saya dn sy menjawab waktu itu klu cita2 saya mau jadi tentara setlh itu disuruh baca alfatiha ngak terasa sdh kelar…dn akhirnya cita2 sy terkabulkan..jd juga ne aminnn…skrg giliran putra saya yg mau sunat mudah2 tercapai cita2 aminnn

    Balas
  9. nih kayaknya tempat aku supit dah pada waktukecil

    Balas
  10. lilik pujiono

     /  Juni 27, 2013

    Udah lama….. Anak saya juga sunat di bogem . Memang benar tampil beda, sukses selalu….amin.

    Balas
  11. sunat enak tp dkter nya ngeselin

    Balas
  12. Isa

     /  Mei 6, 2014

    Saya penasaran, sama hasil bentukannya. Memang bentuk penis yang sunat biasa dan sunat bogem beda bentuknya gimana ya? Cuma tahu deskripsinya aja, yang katanya kalo dikulup bawah itu dikasih sisa kulit, dan kalo penis itu berdiri.., si sisa kulit itu akan berdiri sperti jengger ayam. Apa betul seperti itu? Terus apa benar ya, faktor tersebut sangat mmberi pengaruh positif, jika yang empunya berumah tangga, karena si istri bakal dpt sensasi yang berbeda.

    Ada yang bisa share perbedaan gbrnya kah? Gbr ilustrasi aja maksud saya. Nggak gbr asli.

    Balas
  13. ari

     /  Juni 20, 2014

    Pengen tau, sekarang biaya berapa ya?????

    Balas
  14. aku sunatnya di bogem lohh

    Balas
  15. Nung

     /  Januari 1, 2016

    Mohon bs dituliskan alamat lengkapnya krn renc mau khitankan anak sy… Suwun

    Balas

Ada apa di pikiranmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: