Dan Hilanglah Seorang Blogger

Hari itu biasa saja. Matahari bersinar seperti biasa. Angin juga tidak terlalu kencang. Gunung Merapi juga masih diam tegak berdiri diselimuti kabut tebal. Benar-benar hari biasa, seperti hari-hari pada umumnya. Aku juga tidak melakukan tindakan yang luar biasa. Bangun tidur pada jam-jam biasa. Menghidupkan komputer dan berselancar di Internet seperti biasanya. Menghidupkan Seeismic dan menerima informasi dari Twitterverse seperti biasanya. Sampai sebuah tweet dari @purplehayz mengguncang dunia (well, duniaku sebenarnya). Berikut adalah tweetnya:

Spolsky blogicide note has great advice, and bad http://short.to/19pxn

Mungkin ada di antara pembaca yang bertanya, siapakah si Spolsky ini? Ada apa dengannya? Lanjutkan membaca “Dan Hilanglah Seorang Blogger”

Sickened dan Sindrom Munchausen

Saat itu aku sedang duduk-duduk di sebuah ruang tunggu. Berbeda dengan indera yang lain, indera pendengaranku tidak dapat menahan diri untuk tidak mendengarkan apa-apa yang terjadi di sekitar tempat aku duduk.

“Iya Pak. Kemarin saya habis dari dokter. Katanya sih sudah agak parah. Ini besok saya sepertinya harus ke sana lagi”.

“Terus Pak? Tidak mencoba pengobatan tradisional?”

“Oh iya, kemarin saya melihat iklan pengobatan tradisional dari China di koran. Pengen juga sih Pak, saya ke sana, tapi katanya sih biayanya agak mahal. Tapi nanti sepertinya akan saya coba untuk datang ke sana”.

“Dicoba aja Pak, siapa tahu berhasil” . dst. Lanjutkan membaca “Sickened dan Sindrom Munchausen”

Ronggeng Dukuh Paruk

Langit di timur mulai benderang ketika aku melangkah ke luar. Belum seorang pun di Dukuh Paruk yang sudah kelihatan. Langkahku tegap dan pasti. Aku, Rasus, sudah menemukan diriku sendiri. Dukuh Paruk dengan segala sebutan dan penghuninya akan kutinggalkan. Tanah airku yang kecil itu tidak lagi kubenci meskipun dulu aku telah bersumpah tidak akan memaafkannya karena dia pernah merenggut Srintil dari tanganku. Bahkan lebih dari itu. Aku akan memberi kesempatan kepada pedukuhanku yang kecil itu kembali kepada keasliannya. Dengan menolak perkawinan yang ditawarkan Srintil, aku memberi sesuatu yang paling berharga bagi Dukuh Paruk: ronggeng!
(Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari)

Aku masih ingat betul paragraf penggalan dari novel Ronggeng Dukuh Paruk di atas. Saat itu aku masih duduk di bangku SMP. Paragraf tersebut tertulis di dalam Lembar Kerja Siswa (atau lazim disebut LKS kala itu) mata pelajaran Bahasa Indonesia. Begitu lembar tersebut dibagikan, aku segera larut membaca potongan-potongan paragraf karya penulis terkenal Indonesia. Sampai akhirnya guruku yang memanggil-manggil tidak kuindahkan. Akhirnya oleh guruku tersebut aku diinstruksikan untuk menangani administrasi LKS ini di kelas sebagai hukuman. Wah, itu sudah lama sekali. Lanjutkan membaca “Ronggeng Dukuh Paruk”

Gara-gara Feynman

Feynman? Siapa tuh?

Sejujurnya aku juga tak tahu sebelumnya. Pertemuan pertamaku dengannya terjadi beberapa bulan lalu secara tak sengaja. Saat itu, aku sedang mencari-cari toko buku yang mirip dengan model toko buku Barnes & Noble. Model yang kumaksud adalah model toko buku di mana pembeli bisa memilih dan membaca buku yang diinginkan dengan nyaman. Aku mendengar beberapa kabar bahwa ada toko buku seperti itu di dekat tempat aku menumpang hidup. Namanya MP Book Point.

Aku mengajak temanku untuk berkunjung ke toko buku ini. Ternyata, namanya telah berubah menjadi Mizan Book Corner. Di depan toko buku ini ternyata sedang ada diskon buku murah. Setelah melihat-lihat sebentar, kami pun memutuskan untuk masuk ke dalam toko. Toko ini ternyata tidak terlalu besar. Di samping kanan pintu masuk, terdapat kafe kecil. Buku Perahu Kertas menghiasi display utama toko. Aku masuk terus ke dalam dan menemukan ruangan yang disekat menjadi dua. Sebelah kiri untuk bagian novel dan buku umum, sedangkan sebelah kanan berisikan buku untuk anak-anak. Selain kedua ruangan itu, ada satu lagi ruangan di dalam untuk kegiatan yang sering diadakan oleh pihak toko. That’s all. Tidak ada ruangan lain selain kamar mandi dan musholla kecil. Lanjutkan membaca “Gara-gara Feynman”

Area X

Saya bukanlah seorang ahli literatur. Saya hanyalah seorang biasa yang suka membaca. Menurut pendapat saya, ada tiga buah jenis novel berdasarkan isi ceritanya: novel sastra, novel fantasi, dan novel pengetahuan. Novel sastra, sesuai dengan namanya, adalah novel yang ditulis dengan aturan-aturan dalam sastra. Novel jenis ini biasanya sering diperbincangkan di kalangan ahli sastra. Novel fantasi bersifat lebih ringan, dibuat berdasarkan daya khayal penulisnya. Novel ini biasanya berisikan kisah petualangan dan makhluk-makhluk fantasi.

Novel pengetahuan memiliki unsur keilmuan di dalamnya. Membacanya dapat menambah pengetahuan kita mengenai hal tertentu. Jenis novel terakhir ini kadang berbaur dengan jenis novel lain dengan batasan yang tidak jelas. Beberapa novel fiksi sains (science-fiction) dapat dikategorikan di dalamnya. Pengarang novel jenis ini di Indonesia masih sangat jarang. Dan saya kebetulan berkesempatan membaca salah satu novel jenis ini. Lanjutkan membaca “Area X”

Beberapa webcomic untuk menemani hari

Menjalani aktivitas rutin harian, baik itu bekerja, belajar, atau bermain Facebook (^^) memang terkadang dapat membuat kita merasa bosan. Bolehlah di antara aktivitas tersebut kita mengambil waktu sebentar untuk refreshing, dengan harapan untuk meningkatkan produktivitas kita kembali. Salah satu cara yang biasanya kulakukan adalah dengan membaca webcomic yang banyak tersedia di Internet.

Webcomic adalah komik yang diterbitkan melalui website. Webcomic ini biasanya ditulis sendiri oleh seseorang sesuai dengan minat orang tersebut. Komik ini biasanya berisikan humor, sarkasme, atau sindiran yang bisa membuat kita tertawa atau menggaruk-garuk kepala karena tidak mengerti. Beberapa webcomic yang sukses, dalam artian banyak disukai oleh pembaca, biasanya kemudian akan diterbitkan dalam bentuk buku (meskipun tetap ada versi daring (online)-nya) atau menyediakan merchandise yang bisa dimiliki oleh penggemar. Lanjutkan membaca “Beberapa webcomic untuk menemani hari”

To Kill a Mockingbird

51FyYABgXaL._SL160_
To Kill a Mockingbird adalah sebuah novel yang ditulis oleh Harper Lee. Novel ini memenangkan Pulitzer pada tahun 1961 dan dapat disebut sebagai novel legendaris dalam sejarah literatur Amerika. Sampai saat ini, novel ini masih memiliki banyak penggemar, dan aku memasukkan novel ini ke dalam kategori wajib baca.

Novel ini berlatar belakang Amerika tahun 1930-an, di mana rasisme masih sering terjadi. Cerita mengalir dengan sudut pandang seorang anak perempuan bernama Scout Finch yang tinggal bersama ayah dan kakaknya. Suatu ketika, Scout dan kakaknya, Jem, berkenalan dengan Dill yang sedang berkunjung di musim panas. Mereka bertiga tertarik pada kisah misterius mengenai tetangga mereka yang bernama Boo Radley yang tidak pernah keluar dari rumah. Mereka mulai bermain-main untuk mencoba memancing Boo untuk keluar dari rumah. Lanjutkan membaca “To Kill a Mockingbird”

Ada apa di pikiranmu?

Legion of honor thinker

Pada suatu hari, ada seorang karakter penasaran yang mencoba untuk melakukan eksperimen unik. Ia ingin membandingkan hitungan detik di dalam pikirannya dengan waktu yang sebenarnya. Ia mencoba menghitung waktu yang ia perlukan untuk menghitung sebanyak 60 (jumlah detik dalam satu menit) di dalam pikirannya. Dari beberapa kali percobaannya, ia menemukan bahwa rataan waktu yang diperlukannya untuk menghitung sebanyak 60 adalah 48 detik.

Rasa penasaran membuatnya melakukan percobaan lanjutan. Ia kemudian mencoba mencari tahu apakah ada faktor yang mempengaruhi laju hitungannya terhadap waktu. Ia kemudian mengulang percobaannya, kali ini sembari naik-turun tangga (diiringi dengan tatapan aneh orang yang melihatnya), membaca, berlari, dan sebagainya. Rataan waktu yang ia dapatkan ternyata tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Anehnya, ia tidak bisa menghitung sambil berbicara, seolah-olah keduanya adalah pekerjaan yang harus dilakukan secara serial. Lanjutkan membaca “Ada apa di pikiranmu?”