Cita-cita

Berada di persimpangan takdir seperti saat ini melayangkan pikiranku kepada kenangan masa kecil. Dulu ketika masih duduk di bangku TK, aku (dan aku yakin anda juga) sering ditanyai oleh para guru.

“Anak-anak, kalian kalau sudah besar ingin menjadi apa?”

Serentak, anak-anak mengacungkan tangan. Berusaha merebut perhatian Bu Guru, bahkan beberpaa anak ada yang berdiri supaya terlihat lebih tinggi daripada yang lain. Bu Guru dengan wajah gembira menanyai mereka satu persatu.

“Kamu ingin jadi apa?”

“Saya ingin menjadi presiden Bu Guru. Saya ingin memajukan dan menyejahterakan bangsa!”

“Wah bagus..Kalau kamu pengen jadi apa?”

“Kalau saya ingin jadi dokter. Jadi nanti kalau Bu Guru sakit, saya bisa mengobati ibu..”

“Wah bagus sekali cita-cita kalian. Bu Guru punya pesan untuk kalian. Gantunglah cita-cita kalian setinggi langit. Terbanglah setinggi mungkin untuk menggapai cita-cita tersebut.”

Mengingat saat itu, ah betapa menyenangkannya. Ketika itu, kita masih belum banyak dibebani pikiran dan tanggung jawab. Kita masih bebas, polos, dan apa adanya.

Kembali lagi ke topik, untuk memotivasi diri sendiri, saat ini aku mencoba menuliskan kembali beberapa pekerjaan impianku. Pekerjaan impian di sini memiliki arti yang kurang lebih sama dengan istilah cita-cita yang diperkenalkan kepada kita ketika masih kecil. Berikut adalah beberapa pekerjaan yang menurutku asyik, walaupun mungkin tidak bisa kurasakan.

Forensik

Setiap hari menghadapi kasus pembunuhan yang unik. Setiap hari memasuki tempat kejadian perkara yang berbeda-beda. Mengendus setiap sudut TKP, mencari secercah petunjuk. Mengumpulkan sidik jari, mencari jejak kaki, menganalisis noda darah sepertinya pekerjaan yang mengasyikkan. Setelah semua petunjuk ditemukan, kemudian membayangkan, membuat simulasi bagaimana sebuah kejadian pembunuhan terjadi. Mungkin aku tertarik karena novel The Bone Collector-nya Jeffery Deaver dan beberapa game bertema CSI (Crime Scene Investigation).

Penulis

Dapat bekerja di mana saja ditemukan inspirasi. Merangkai kata untuk mengikat makna. Memberikan motivasi, dukungan, pelajaran, dan teladan dengan menggunakan rangkaian peristiwa fiktif yang dirangkai dengan bahasa yang apik. Buku yang baik adalah buku yang dapat memberikan pengaruh positif kepada orang yang membacanya. Menjadi seseorang yang dapat menyampaikan pesan-pesan di atas menurutku sangatlah hebat. Dan aku tahu, jalan yang harus ditempuh tidak mudah. Deadline yang selalu mengejar menjadi tantangan tersendiri. Di blog inilah aku belajar untuk menulis, siapa tahu nanti ada yang tertarik. He3 😀

Penerjemah

Berbekal dua buah kamus besar di tangan kanan dan tangan kiri. Setiap hari membolak-balik halaman mencari dan menemukan padanan kata yang bersesuaian. Kemudian memadukan kata-kata tersebut menjadi sebuah kalimat, paragraf, bab, dan akhirnya buku yang sesuai dengan makna aslinya. Menyampaikan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca spesifik sesuai dengan bahasa yang kita bisa. Dibilang santai, ya santai, dibilang sibuk ya sibuk. Dan yang pasti pekerjaan yang tidak dibatasi oleh empat dinding dan satu pintu.

Game Tester

Duduk berjam-jam di depan komputer. Memainkan game terbaru sambil mencari kejanggalan. Memberi saran untuk pengembangan game selanjutnya. Saat istirahat ya istirahat, saat kerja, ya bermain game. Wonderful isn’t it? Hobi bermain game merupakan salah satu alasanku masuk ke jurusanku sekarang. Walau sekarang sudah bisa mengendalikan diri (untuk tidak terlalu sering bermain game), membayangkan bekerja seperti itu tetap saja membuatku ngiler. Tapi dengan skill game sekarang, kayaknya tidak mungkin kucapai. Well, it’s a dream job, though.

Reporter

Berkeliling dunia untuk mencari kebenaran akan sebuah kabar. Memberikan kabar mengenai peristiwa dari satu tempat ke seluruh pelosok dunia. Mengasah keterampilan untuk merangkai kata untuk menjelaskan peristiwa dengan benar, tanpa memihak, tanpa ditutupi, dan tanpa pengaruh dari pihak lain. Berpacu dengan waktu untuk menjadi pemberi kabar tercepat dengan kualitas yang tak turun. Di satu sisi, kita selalu dipacu dengan waktu. Namun, di sisi lain kita mendapatkan kesempatan untuk menjelajahi pelosok dunia. Menangkap keunikan dunia. Travelling is one of the best teacher.

Developer[1]

Berhadapan dengan klien yang memiliki banyak keinginan. Membuat desain sistem yang robust. Setiap hari duduk berjam-jam di depan komputer. Menelusuri berjuta-juta baris kode program. Bekerja sama dalam tim untuk mengembangkan sebuah sistem yang perfect, bug free, maintainable, dan scalable. Meskipun untuk menjadi seperti ini sangatlah susah, tetap itu bukanlah sebuah hal yang mustahil. Besides, it looks cool, right?

Pemain igo professional

Tak, tak, tak. Jari tengah dan jari telunjuk bersatu untuk meletakkan biji ke tempat yang dianggap memiliki posisi paling bagus. Menganalisis kifu[2] diri sendiri sebelumnya dan pemain-pemain hebat masa lalu. Mempelajari dan menambah kosakata joseki[3]. Mengikuti pertandingan bertaraf internasional dengan hadiah yang lumayan. Bersaing dengan para pemain lain untuk menjadi yang terhebat. Sesaat terdengar sangat keren. Namun, dengan kemampuanku sekarang, biarlah menjadi keinginan saja :D.

Pengajar

Mempelajari sesuatu yang baru. Berbagi ilmu. Membuat sesuatu yang susah menjadi mudah untuk dipahami. Membangun generasi muda bangsa. Menitipkan pesan moral, motivasi, dan doa agar menjadi generasi yang lebih bermanfaat. Mencari dan memberi yang terbaik[4]. Aku memiliki sebuah keyakinan bahwa sebuah ilmu, bila kita bagikan kepada orang akan mendapatkan paling tidak dua manfaat. Pertama, kita akan menjadi lebih paham. Kedua, kita pasti akan mendapat tambahan pengetahuan dari arah yang tidak kita harapkan sebelumnya.

“Mas, mas..”

“iya?”

“Jangan lupa mas. Yang penting lulus dulu..”

End of Dream.


[1] Developer yang kumaksud di sini lebih mengarah ke software developer dengan arti yang lebih luas. Termasuk di dalamnya programmer, system analyst, system architect, dan kawan-kawannya.

[2] Kifu: catatan pertandingan

[3] Joseki: pola-pola yang menguntungkan kedua belah pihak

[4] Wah, kayak slogan IPB aja ya..

That’s so Close

Free-write mode: on

Perjalananku ke Semarang kali ini terasa sedikit berbeda. Pada perjalanan ini, entah mengapa sebuah hal mengenai igo tiba-tiba menyembul.

Saat itu aku sedang meng-upload file. Sambil menunggu file terupload[1], aku iseng membuka YM. Tanpa sengaja, salah seorang pengurus organisasi igo yang ada di Semarang tiba-tiba muncul.

“Lagi di smg atw di bgr?”

“Lagi di smg. Knapa?”

“Wah kebetulan. Nanti jam 3 ada pertemuan igo di audit pleburan.”

“Yang bener?”

“Iya. Datang ya..”

“Jumlah pesertanya berapa orang?”

“Ada banyak kok.”

“Yang ngajar sapa? km?”

“Iya. Anda meragukan kemampuan saya?”

“Hmmm…”

Pukul tiga kurang tiga puluh. Angin menderu kencang di luar ketika ponselku tiba-tiba berteriak. Rupanya dari sang Pengurus.

“Rif, kayaknya ga jadi deh..”

“Emang kenapa?”

“Kayaknya mau hujan. Di sini anginnya udah kenceng banget.”

“Emang di sana udah ujan ya? Di sini baru angin doang.”

“Iya. Kayaknya anak-anaknya juga ga pada datang. Soalnya ujan.”

“Oh ya udah.”

ARGGHH!!, teriakku dalam hati. Gagal deh rencana kali ini.

Sehari setelahnya, aku mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi kota gudeg, Jogja. Di kota ini, ada sebuah organisasi igo daerah yang bernama YIC (Yogya Igo Club, CMIIW). Dari data yang aku dapat, YIC mengadakan pertemuan rutin pada hari Minggu sekitar jam 3 sore. Waktu yang tepat sekali.

Jadi, aku dan temanku yang kebetulan kost di Bogor menuju ke tempat pertemuan rutin tersebut, UPT perpustakaan UGM. Di sana, suasana sepi. Saat memarkir motor di pintu depan, hanya ada dua orang yang sedang duduk-duduk di pintu depan. Temanku tersebut memberitahukan padaku untuk melewati pintu samping.

Sebelum pintu samping, terdapat sebuah tempat parkir yang berisi beberapa buah sepeda motor. Di sana, ada dua orang yang terlihat seperti penjaga. Orang yang pertama duduk-duduk di dekat motor diparkir. Sedang orang yang kedua tampak sedang sibuk, entah apa yang dikerjakannya. Orang kedua melihat kami dan mulai mengajukan pertanyaan.

“Mau ke mana mas?”

“Mau ke lantai 2.”

“Ada acara apa?”

“Mau ke acara igo itu lho pak.”

“Oh ga ada orang mas di atas. Ga ada pengunjung.”

Dengan kecewa, kami pun pergi.

Dua hari berlalu di Yogya[2]. Hari Selasa datang. Ketika sedang online, ada request add dari seseorang yang belum aku kenal. Setelah aku approve, aku pun mulai bertanya.

“Maaf ini siapa ya?”

“Oh aku dapet idmu dari situs IGO”

“Ooo.. Aslinya mana?”

“Dari Muntilan”

“Km tahu ttg YIC ga? Biasanya pertemuannya hari Minggu kan?”

“Iya dulu pernah ikut. Biasanya hari Minggu.”

“Ini ada anak YIC yang lagi OL. Add aja, trus tanya ke dia”

“Thanks”

Setelah aku mendapatkan ID YM tersebut, segera aku meng-addnya. Setelah beberapa kali usaha[3], akhirnya ID tersebut sukses aku tambahkan ke daftar Messenger-ku.

“Salam kenal, km anak YIC kan?”

“Iya. Salam kenal.”

“Kemaren Minggu ada kumpul YIC ga?”

“Ada kok.”

“Loh kemaren aku datang kok g ada?”

“Km datang jam brp?”

“Jam 3.”

“Oh. Biasanya anak-anak baru pada datang jam 4-an.”

ARGGHH!! Gagal lagi[4]!


[1] Well, koneksi internetnya belum begitu kencang.

[2] Perjalananku di Jogja ‘mungkin’ akan kuceritakan nanti.

[3] Undangan pertama langsung ditolak. Baru setelah aku beri tambahan pada undangan kedua, ia baru menerima.

[4] Aku lupa dengan salah satu kebudayaan bangsa kita, suka nelat. Nelat? Maksudnya dengan sengaja telat.

Pertandingan igo 4 negara ke 5: Berangkat (1/3)

Berangkat

“Kis, besok minggu ada acara ga? ke JF yuk,, ada pertandingan igo”

Pesan singkat itu kukirim ke Kikis,, seorang temanku yang juga penggemar igo. Aku berharap ia akan mau menemaniku lagi. Penuh harap aku menunggu jawabannya. Nihil, tidak ada jawaban sampai keesokan harinya[1].

Siang hari berikutnya, aku bertemu dengan Kikis di sela-sela pergantian kuliah. Ia mengatakan akan pikir-pikir dulu. Aku akan dihubunginya nanti malam, yaitu Sabtu malam. Rupanua aku tak perlu menunggu selama itu. Sorenya ketika kami bepapasan, ia sudah menyanggupi untuk ikut ke JF. Aku bersorak dalam hati.

Keesokan harinya, 0730, aku menelepon Kikis. Kami mengatur pertemuan di BNI. Segera aku melangkahkan kaki menuju ke sana. Setelah menunggu beberapa saat di sana[2], kami pun berangkat mengendarai motor. Tujuan selanjutnya: Stasiun Bogor.

Sesampainya di stasiun, macet seperti biasa. Meski jalanan sudah diatur satu arah, namun kemacetan seolah tak dapat dihindarkan. Becak, gerobak, motor, dan angkot berbaur menjadi satu menumbuhkan kesemrawutan laten. Merangkak, akhirnya kami pun sampai di tempat parkir stasiun. Beberapa motor terparkir di sana. Penjaganya masih nampak muda, mungkin masih sekitar dua puluhan tahun. Ia menanyakan jam motor akan diambil. Dengan mantap Kikis menjawab, “Nanti sore mas”.

Stasiun BogorAntrian pembelian tiket tidak terlalu padat, bahkan bisa dibilang sepi. Ada seorang ibu-ibu yang hendak membeli tiket Pakuan Express di depanku. Dari percakapannya dengan mbak-mbak penjual karcis, aku tahu kalau kereta tersebut sudah datang dan akan segera berangkat. Segera aku memasukkan rupiah dan meminta dua lembar karcis.

Situasi dalam kereta sudah cukup ramai. Kami berjalan menyusuri gerbong sambil celingak-celinguk mencari bangku kosong. Tiba di gerbong berikutnya, kami beruntung: ada beberapa celah di antara penumpang. Saat hendak duduk, pandanganku melayang pada tiga orang yang duduk pada bangku lain yang sederet dengan bangku yang akan kami duduki.

Salah satu dari ketiga orang tersebut rupanya menyadari kehadiran kami. Ia memberitahu kedua temannya dan melambaikan tangannya kepada kami. Kami pun batal untuk duduk dan berjalan mendekati mereka bertiga. Ketiga orang tersebut adalah teman satu jurusan, satu angkatan, dan satu almamater kami: Maul, Indra, dan Riza. Setelah sedikit berbasa-basi, obrolan kami pun dimulai.

“Mau ke mana??”

“Mau ke Dufan..”

“Tumben.. emangnya kenapa?”

“mumpung lagi ada diskon..”

“Ooo..”

“Kalian mau ke mana??”

“Mau ke JF”

“JF??”

“Japan Foundation, Summitmas. Eh tahu ga Summitmas di mana??”

“Kata si Riku sih di Sudirman. Tahu ga Sudirman di mana??”

“Naik busway aja.. turun di mana ya?? Dukuh Atas kalau ga salah”

“Kalo ga coba tanya Khadi deh.. Kan rumahnya sekitar sana..”

Aku kemudian mencari nomor Khadi dan mengirimkan sms padanya.

Di, kamu tahu summitmas ga? Kalo naik busway turun di mana??

Menunggu balasan, obrolan pun mengalir.

“Eh rip, kamu blom pernah ke dufan kan? Ikut yuk”

“udah pernah kok.. kamu juga belum pernah liat lomba igo kan?? Ikut aja Ndra..”

“Emang lomba apa?”

“Katanya sih empat negara, tapi ga tau juga..”

….

BuswayTak terasa, akhirnya kami pun sampai di stasiun Jakarta Kota. Maul dkk. mengambil jalan ke kiri, sedangkan aku dan Kikis ke kanan. Keluar dari pintu stasiun, kami berbelok dan menyeberang jalanan yang ramai menuju halte busway. Di sekeliling, terdapat pagar seng yang menandakan bahwa area tersebut sedang direnovasi. Setelah membeli dua tiket, kami pun memasuki palang pintu masuk. Tiket busway tersebut sudah berwarna putih, hanya tampak bekas tulisan di sana. Saat memasukkan tiket, aku kebingungan mengenai posisi yang benar. Sisi manakah yang harus di atas, sisi mana yang harus di bawah[3]. Setelah diberi penjelasan sedikit (sangat sedikit) akhirnya aku pun berhasil melewati pintu dengan selamat diselingi senyum Kikis.

Meski jarak antara pintu masuk dengan pintu ke busway hanya sekitar satu meter, kami harus berjalan memutar sekitar lima meter untuk sampai ke sana. Ada bis yang sedang berhenti, sayangnya, saat kami sampai di pintu bis sudah berjalan. Kami pun menunggu giliran berikutnya. Beberapa menit kemudian, bis pun datang. Kami dengan penuh semangat memasuki bis yang lengang.

Bis busway berwarna merah dengan lambang garuda (atau elang?) di tubuhnya. Hawa sejuk menyelimuti kami ketika kami masuk. Ada petugas yang berjaga di depan pintu. Sekilas, bis ini seperti layaknya bis mini biasa. Bedanya, ada pendingin udara, tempat duduk di pinggir seperti di KRL, dan terawat (?). Kami pun duduk di kursi belakang menghadap ke depan. Saat bis berjalan, aku melayangkan pandanganku ke luar, melihat dan mencari apa yang membuat Jakarta bisa meningkatkan urbanisasi.

Tak terasa, kami pun sampai di Dukuh Atas. Kami pun turun dan bertanya-tanya. Ternyata Summitmas masih agak jauh. Kami seharusnya turun di Gelora Bung Karno. Alhasil, kami pun naik busway lagi[4]. Beberapa halte terlewati, hingga aku melihat gapura yang dituliskan dengan penuh kebanggaan.

GELORA BUNG KARNO

Kami pun turun dengan perasaan senang. Pada penjaga busway, kami bertanya mengenai Summitmas. Jawabannya membuat perasaan kami semakin bahagia, “Oh di sana mas. Naik jembatan penyeberangan ini saja, trus jalan sedikit ke sana.”, sambil menunjuk. Langkah kaki kami berdebam saat kami berjalan melewati jembatan logam. Di seberang, kami meloncat turun dan melanjutkan perjalanan kami yang tinggal sedikit.

Beberapa gedung tinggi kami lewati. Sampai pada akhirnya perjalanan kami berhenti di gedung Summitmas. Summitmas adalah dua gedung putih. Di tengah-tengahnya ada sebuah rumah makan yang menyediakan free hotspot area. Satu yang kulupa adalah di gedung yang manakah JF berada?? Satpam yang kami tanyai menunjukkan jalan. Kami harus melewati gang yang menjadi jalan pintas ke gedung tersebut. Satpam kedua menunjukkan arah pintu masuk gedung. Satpam yang ketiga menanyakan tujuan kami, “Mau kemana Mas?”

“Mau ke Japan Foundation di mana ya Pak??”

“Di lantai 2 mas. Oh tulis nama aja di sini Mas”, katanya sambil membuka stiker label.

“Saya perlu ga Pak?”

“Ga usah, satu aja. Oh ya ini dipakai”, sambil mengulurkan label.

“Dipakai di mana Pak??”

“Tempelkan aja di baju”

Label tersebut berstempel logo Japan Foundation dan kutempel di jaket.

“Mau main igo ya Mas??”

“Iya Pak.. terima kasih ya Pak”

“Iya Mas sama-sama”

Japan FoundationRupanya bapak ini tahu juga. Mungkin memang sudah terbiasa dengan anak-anak yang pergi ke JF untuk bermain igo. Kami masuk dan memencet lift untuk naik ke lantai 2. Hari libur, semua terlihat lengang. Lift pun kosong saat kami masuk. Setelah merasakan beberapa akibat hukum Newton, pintu pun terbuka. Mata kami disambut dengan dinding yang bertuliskan JAPAN FOUNDATION. Hawa igo semakin terasa ketika kami keluar dari lift. Kami berbelok ke kanan dan melihat pintu yang terbuka dan seorang petugas keamanan di dalamnya. Ia sedang duduk di depan sebuah meja dengan beberapa brosur di atasnya. Di samping kiri dan kanan terdapat spanduk sponsor. Kami pun masuk, mengambil beberapa brosur, dan terkejut.

BERSAMBUNG..

Sumber gambar:

Busway : http://jkt.detik.com/adv/busway/index.html

Japan Foundation : http://www.archivolto.it/contentmanager_data/images/F08112006142825.gif


[1] Maklum di kamar kost-ku ga ada sinyal.. 😀

[2] Yang menunggu Kikis, bukan aku .. soalnya aku harus ambil uang dulu..

[3] Pertama, this is my first time using busway, Kedua, there’s no such as manual.. Don’t make me think..

[4] Untung belum keluar dari halte. Jadi ga usah beli tiket lagi..

Main di KGS over proxy

Other title: Play go in KGS over proxy

Udah sangat lama saya pengen maen igo lagi di KGS. Namun, karena jaringan internet di lingkungan kampus saya dijembatani oleh sebuah proxy server, saya pun terpaksa meredam gejolak saya untuk bermain igo. Sampai suatu ketika, saya membaca sebuah mail pada milis igoindonesia dan saya memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak. Hasilnya? saya kini bisa bermain igo, tanpa terhalang oleh proxy… (lebih…)

My Go Story

Pengantar

Cerita ini saya tulis sudah lama sekali.. Semula saya publish di blog Friendster.. Karena udah lama, mungkin ada kata-kata yang masih aneh.. Harap maklum.. Sepertinya ini akan menjadi cerita yang akan terus bersambung..

Well, selamat menikmati…

—————————————————————————————————————————
(lebih…)

Go Go Igo

karena takut bersinggungan dengan lisensi,, jadi kalo mau liat buka aja URL di bawah ini…

GO GO IGO

thanks..

Lomba iGo GJ-UI 13 : a long journey

“Kuliah kripto diganti hari Sabtu jam 8!!”

Waduhh.. Untung jam 8, semoga saja masih sempet. Rencananya hari Sabtu ini, aku akan pergi ke UI. Untuk apa? Ada lomba igo yang akan diselenggarakan dalam rangkaian acara Gelar Jepang, dan aku kebetulan sudah terdaftar menjadi salah satu pesertanya. Berarti setelah kuliah, kami (aku dan Kikis, peserta juga) akan berangkat ke sana. Sayangnya, beberapa hari menjelang hari-H, kami mendapat kabar bahwa kuliah kripto akan diundur menjadi jam 10. Ini membuat kami sedikit kehilangan semangat, tapi ya.. nothing to lose lah.. Akhirnya kami tetap akan berangkat setelah kuliah, semoga masih sempat..

(lebih…)