Ketika Waktu Bisa Diulang

Semuanya berawal ketika saya melihat sebuah iklan tentang film yang berjudul Source Code. Karena saya berkecimpung di dunia komputer (sort of), saya mengira film ini berkaitan dengan pemrograman dan kawan-kawannya. Iya, mungkin memang ada komputer yang terlibat, tetapi tidak dominan.

Film Source Code bercerita tentang seorang pria bernama Capt. Colter Steven yang tiba-tiba terbangun di dalam kereta api. Dia sempat kebingungan ketika ia disapa oleh teman satu gerbong, Christina namanya, sebagai Sean Fentress. Delapan menit kemudian, sebuah ledakan terjadi dan dia terbangun di tempat yang berbeda yang disebut kapsul. Di dalam kapsul, ia diberikan informasi bahwa dia memiliki misi untuk mengetahui siapa pelaku pengeboman kereta itu dengan cara kembali ke dalam ingatan jangka pendek Sean Fentress yang menjadi korban tewas. Colter hanya memiliki waktu selama delapan menit saja untuk mengungkap pelaku pengeboman tersebut. Setiap mengalami kegagalan dalam mengungkap kasus, Colter harus kembali lagi ke dalam kereta pada saat yang sama dengan orang-orang yang sama. Dunia dalam kereta ini merupakan dunia kreasi yang diciptakan menggunakan sistem yang disebut Source Code. Lanjutkan membaca “Ketika Waktu Bisa Diulang”

BECK: Let’s Rock n Roll

Jaman dahulu kala, saya pernah membaca sebuah seri manga berjudul BECK yang diterbitkan dalam serial Shonen Magz. Manga yang ditulis oleh Harold Sakuishi ini bercerita tentang seorang anak SMA bernama Koyuki yang merasa bosan dengan hidupnya karena tidak memiliki pencapaian apa pun. Dia kemudian menyelamatkan seekor anjing berbentuk aneh, bernama BECK, dan kemudian bertemu dengan Ryuusuke, seorang pemain gitar yang ingin mendirikan band rock terhebat. Koyuki kemudian mencoba mendengarkan lagu-lagu rock dan akhirnya tertarik juga untuk belajar bermain gitar.

Saya kemudian tidak mengikuti lagi cerita BECK tersebut karena sumber manga sudah tidak didapatkan lagi (maklum pinjaman, hehe). Saya hampir-hampir lupa ketika suatu ketika saya menemukan berita bahwa BECK telah dibuat versi Live Action Movie. Mengenang masa lalu, saya pun mencoba menontonnya. Lanjutkan membaca “BECK: Let’s Rock n Roll”

Ketika Kura-kura Terbang

Beberapa hari yang lalu, saya diberitahu oleh seorang teman blogger tentang sebuah film menarik. Film tersebut berjudul Turtles Can Fly. Film besutan sutradara Bahman Ghobadi merupakan film yang dibuat di Irak pertama kali setelah kejatuhan Saddam Hussein.

Film Turtles Can Fly berkisah tentang kehidupan anak-anak di penampungan perbatasan Irak dan Turki pada saat invasi Amerika Serikat dan sekutunya ke Irak. Tokoh central film ini adalah Satellite, seorang anak yang diangkat menjadi pemimpin bagi anak-anak pengungsi lain. Ia memiliki keahlian dalam memasang antena dan mencari siaran berita. Keahlian inilah yang membuat ia dicari-cari orang-orang yang sedang haus akan informasi perang. Salah satu adegan yang lucu adalah ketika Satellite yang sok-sok jago berbahasa Inggris untuk menerjemahkan siaran berita berbahasa Inggris oleh para sesepuh dan kepala kampung. Dengan gaya yang penuh percaya diri, Satellite menerjemahkan berita tentang perang dengan ramalan cuaca bahwa besok akan hujan.  Lanjutkan membaca “Ketika Kura-kura Terbang”

Banyak Kepribadian

Pada suatu malam, saya mengalami kesusahan untuk tidur. Saya pun kemudian tergerak untuk menyalakan komputer untuk menonton televisi. Saya terhenti di sebuah stasiun televisi swasta yang biasa menyiarkan film. Tepat pada saat itu pula, film baru saja dimulai. Dilihat dari adegan-adegan pembuka yang terasa agak sedikit menyeramkan (tiba-tiba saya teringat bahwa malam itu malam Jumat), saya sempat berpikir apakah film ini adalah film horor. Saya pun mencoba untuk menyaksikannya sedikit lebih lama.  Lanjutkan membaca “Banyak Kepribadian”

Percy Jackson?

Percy Jackson.

Saya melihat buku Percy Jackson karangan Rick Riordan untuk pertama kalinya di sebuah toko buku beberapa tahun yang lalu. Pada halaman sampul terdapat sebuah review yang mengatakan bahwa novel ini akan mengikuti jejak kesuksesan Harry Potter. Awalnya saya agak skeptis dengan pendapat ini. Paling hanya sebuah usaha untuk menarik pembaca saja, begitu pikiran saya. Begitu pikiran saya. Sampai saat saya membaca resensi teman blogger yang menarik perhatian saya.

Saya kemudian menonton film Percy Jackson yang pertama: Percy Jackson and the Lightning Thief. Filmnya cukup menarik. Perpaduan antara mitologi Yunani dan budaya pop Amerika dengan dibumbui humor di tengah-tengah ketegangan. Akhirnya saya pun semakin penasaran dengan serial Percy Jackson ini. Lanjutkan membaca “Percy Jackson?”

Sphere – Bola Asing

Sphere – Bola Asing
Pengarang: Michael Crichton
Isi: 543 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Aku melihat buku ini saat sedang mencari The Cold Moon-nya Jeffery Deaver. Setelah membaca sedikit resensi di belakangnya, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba membaca buku ini. Genre buku ini masuk ke dalam genre sci-fi thriller mystery, satu genre dengan Area X. Aku ingin membandingkan bagaimana perbedaan antara sci-fi dalam negeri dengan luar negeri, seberapa jauh perbedaannya?

Novel ini dikarang oleh Michael Crichton dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1987. Wah sudah lama sekali ya? Dan ternyata, novel ini telah dibuat filmnya pada tahun 1998. Michael Crichton sendiri merupakan pengarang yang legendaris dengan novel Jurassic Park juga telah dibuat seri filmnya. Novel Sphere ini ternyata ditulis tepat sebelum novel Jurassic Park. Lanjutkan membaca “Sphere – Bola Asing”

The Vanished Man – Si Perapal

The Vanished Man – Si Perapal
Pengarang: Jeffery Deaver
Isi: 560 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Kembali lagi bersama resensiku tentang novel. Semoga teman-teman belum merasa bosan karena kali ini aku akan membahas novel (lagi-lagi) karangan Jeffery Deaver. Sebenarnya, di antara novel The Twelfth Card dan The Vanished Man ini, aku telah membaca dua novel karangan Jeffery Deaver lainnya. Novel tersebut adalah The Maiden’s Grave dan Speaking in Tongues. Namun sepertinya kedua novel tersebut akan kuresensi di kemudian hari. Jadi untuk saat ini, mari kita membahas novel petualangan Lincoln Rhyme ini, The Vanished Man atau Si Perapal. Lanjutkan membaca “The Vanished Man – Si Perapal”

Anansi Boys

Anansi Boys (atau diterjemahkan sebagai Anak-anak Anansi) adalah sebuah novel bergenre fiksi fantasi yang ditulis oleh Neil Gaiman. Novel ini merupakan novel ketiga Neil Gaiman yang telah kubaca. Dua novel sebelumnya yang pernah kubaca adalah Neverwhere dan Stardust. Sebenarnya novel ini sudah lama sekali kuincar untuk dibaca, namun baru sekarang diberikan kesempatan untuk membacanya.

Anansi Boys berkisah tentang Charles Nancy, yang lebih dikenal dengan julukan Fat Charlie. Julukan tersebut diberikan oleh ayahnya, yang menurut Fat Charlie memiliki kebiasaan yang aneh. Ketika Fat Charlie sudah dewasa dan lama tidak berjumpa dnegan ayahnya tersebut, tersiar kabar bahwa ayahnya telah tewas. Peristiwa tersebut ternyata membawa dia ke sebuah kenyataan bahwa ayah Fat Charlie bukanlah manusia biasa. Ia adalah Dewa Anansi, Dewa Laba-laba yang jahil. Dan Fat Charlie ternyata memiliki saudara, yang mewarisi semua bakat Anansi. Lanjutkan membaca “Anansi Boys”