Ketika Kura-kura Terbang

Beberapa hari yang lalu, saya diberitahu oleh seorang teman blogger tentang sebuah film menarik. Film tersebut berjudul Turtles Can Fly. Film besutan sutradara Bahman Ghobadi merupakan film yang dibuat di Irak pertama kali setelah kejatuhan Saddam Hussein.

Film Turtles Can Fly berkisah tentang kehidupan anak-anak di penampungan perbatasan Irak dan Turki pada saat invasi Amerika Serikat dan sekutunya ke Irak. Tokoh central film ini adalah Satellite, seorang anak yang diangkat menjadi pemimpin bagi anak-anak pengungsi lain. Ia memiliki keahlian dalam memasang antena dan mencari siaran berita. Keahlian inilah yang membuat ia dicari-cari orang-orang yang sedang haus akan informasi perang. Salah satu adegan yang lucu adalah ketika Satellite yang sok-sok jago berbahasa Inggris untuk menerjemahkan siaran berita berbahasa Inggris oleh para sesepuh dan kepala kampung. Dengan gaya yang penuh percaya diri, Satellite menerjemahkan berita tentang perang dengan ramalan cuaca bahwa besok akan hujan.  Lanjutkan membaca “Ketika Kura-kura Terbang”

Bogem

Rabu kemarin, saya diajak paman dan keluarganya untuk mengantarkan adik sepupu saya yang akan disupit (atau sunat, khitan). Mereka jauh-jauh datang untuk mengunjungi juru supit yang legendaris di Jogja, yaitu juru supit Bogem (dibaca: mBogem red.). Penasaran, saya memutuskan untuk ikut dan melihat tempat juru supit yang berdiri sejak tahun 1930-an itu. Siapa tau nanti kalau saya punya anak lelaki, bisa saya bawa ke tempat supit yang didirikan oleh Raden Ngabehi Notopandoyo tersebut. Lanjutkan membaca “Bogem”

Banyak Kepribadian

Pada suatu malam, saya mengalami kesusahan untuk tidur. Saya pun kemudian tergerak untuk menyalakan komputer untuk menonton televisi. Saya terhenti di sebuah stasiun televisi swasta yang biasa menyiarkan film. Tepat pada saat itu pula, film baru saja dimulai. Dilihat dari adegan-adegan pembuka yang terasa agak sedikit menyeramkan (tiba-tiba saya teringat bahwa malam itu malam Jumat), saya sempat berpikir apakah film ini adalah film horor. Saya pun mencoba untuk menyaksikannya sedikit lebih lama.  Lanjutkan membaca “Banyak Kepribadian”

YUI – Gloria

Beberapa hari yang lalu, saya membaca postingan teman blogger yang membahas tentang seorang penyanyi muda berbakat asal Perancis bernama Irma. Mau tak mau, saya jadi teringat salah seorang penyanyi muda yang memiliki karakteristik yang hampir sama dengan Irma. Sama-sama wanita, muda, bersuara indah, memainkan lagu ciptaan sendiri, dan suka bermain gitar akustik. Ya, mungkin teman-teman bisa menebak, dia adalah Yui Yoshioka atau lebih dikenal sebagai YUI. Lanjutkan membaca “YUI – Gloria”

Teman vs Duit

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah artikel di Media Story. Artikel ini berisikan sedikit cerita di dalam buku autobiografi Paul Allen berjudul Idea Man. Sebagai tambahan informasi, Paul Allen mendirikan Microsoft tahun 1975 bersama Bill Gates. Cerita ini berisikan hubungan Paul Allen dengan Bill Gates yang merenggang selama menjalankan Microsoft. Berikut cuplikannya:

A fragment from the book, published by “Vanity Fair” magazine, tells how, in 1982, when Allen was suffering from cancer, Bill Gates tried to push him away from the company.

Bill Gates and Paul Allen founded Microsoft together. Although Allen thought that they are going to share the company in half, “Bill had other ideas in mind and he reserved 60% for him because he did more programming work. When the program was given to the NCR group, in return of 175,000 dollars, Gates claimed 64%”. Lanjutkan membaca “Teman vs Duit”

Foto yang (tidak) Unik

24867_1392955074035_1536914272_31006776_722376_n“Dun, ada kejadian unik tuh. Ambil gambarnya yuk!”

“Kejadian unik apa?”

“Itu ada mobil yang parkir di bawah rambu dilarang parkir.”

“Hmm”

Mungkin teman-teman pembaca sekalian pernah menemukan kejadian “unik” seperti ilustrasi di atas. Ada mobil parkir di bawah rambu dilarang parkir, ada orang membuang sampah di dekat tanda dilarang membuang sampah, ada orang kencing di dekat tulisan dilarang kencing, ada orang merokok di ruangan dengan tulisan dilarang merokok, dan masih banyak lagi lainnya. Anehnya, jika aku dan teman-teman sekalian pernah menemukan kejadian macam ini, apakah kita dapat menyimpulkan bahwa kejadian ini telah kehilangan “keunikannya”?

Seringnya kejadian ini dalam kehidupan sehari-hari membuatku berpikir, ternyata banyak sekali di antara kita yang belum menyadari pentingnya sebuah peraturan. Peraturan yang baik pasti memiliki alasan yang baik dibalik pembuatannya. Banyaknya kejadian “unik” seperti ini menunjukkan kurang pedulinya kita pada kepentingan umum di mana peraturan tersebut dibuat. Hal ini bukan sesuatu yang layak untuk dibanggakan.

Mari kita mulai menghilangkan kejadian (tidak) “unik” ini menjadi benar-benar “unik” dan akhirnya tidak dapat kita temui lagi foto-foto yang (tidak) “unik”. Mari kita mulai dari diri kita sendiri, dari yang kecil, dan dari sekarang.

Kembali Bermimpi

Beberapa bulan belakangan ini, aku sedang merasakan inferiority complex. Aku merasa tidak memiliki kemampuan apa-apa. Melihat mailing list angkatan yang membahas mengenai hal-hal teknis yang tidak pernah kutemui, melihat teman-teman yang dapat bepergian ke mana-mana. Sungguh luar biasa, aku melihat teman-teman yang lebih dahulu terjun ke dunia profesional dalam waktu dua tahun saja telah berkembang kemampuan teknisnya, sementara aku di sini hanya belajar hal yang kurang-lebih-sama dengan yang telah dipelajari beberapa tahun yang lalu. Walau agak sedikit lebih detail.

Anehnya, ada beberapa orang yang mungkin tanpa aku (dan mungkin mereka) sadari memberikan motivasi mereka kepadaku. Motivasi ini berupa rekomendasi di LinkedIn atau update status di Twitter mereka. Contohnya rekomendasi LinkedIn yang datang dari kakak kelasku yang aku anggap sebagai salah satu orang hebat:

“A**f is very good student. He can understand whatever he study in an instance. I believe he will be a great person, and achieve great things.” April 22, 2010

Lalu ada juga update status dari teman seperjuanganku di kampus ini:

@sidudun yang bener2 njenengan bawa dari sana. saya berani taruhan. anda pasti berangkat ke luar negri. simpan statement ini sebagai bukti.

Ada juga beberapa motivasi dari teman-temanku yang tidak dapat kusebutkan satu per satu di sini. Terima kasih teman. Maafkan aku kalau aku kurang sabar dalam menghadapi kalian beberapa bulan belakangan ini. Terima kasih atas perhatian dan dukungan dan motivasinya.

Seiring dengan membaiknya motivasi diri, aku kembali teringat dengan tulisan mengenai cita-citaku yang kutulis beberapa tahun yang lalu. Mungkin anak-anak kecil adalah orang yang hebat, mereka berani mendeklarasikan cita-cita mereka lantang dan yakin. Belajar dari anak-anak tersebut, aku sepertinya akan kembali bermimpi.