Budaya, Bahasa, dan Matematika

Beberapa hari belakangan ini, saya sedang membaca sebuah buku yang menarik. Buku tersebut berjudul Outliers: the Story of Success yang ditulis oleh Malcolm Gladwell. Sebenarnya saya sudah mulai membaca buku ini sejak dulu, namun baru kali ini ada niatan untuk menyelesaikannya sampai tuntas. Hal yang menarik dari buku ini adalah ia mampu mengambil beberapa fakta menarik dari segala kejadian yang menimpa orang-orang sukses. Ternyata, untuk menjadi orang yang sukses itu dipengaruhi beberapa faktor yang bisa dibilang unik, seperti kapan dan di mana anda dilahirkan, bagaimana latar belakang kebudayaan anda, apakah anda mendapatkan kesempatan, dan sebagainya. Intinya, sukses itu bukanlah sebuah kebetulan belaka, namun sebuah peristiwa yang terdiri atas beberapa kejadian beruntun yang teratur.

Lanjutkan membaca “Budaya, Bahasa, dan Matematika”

Foto Keluarga

Beberapa hari yang lalu saat aku pulang ke rumah, ayahku dengan penuh semangat menyuruhku untuk membuka foto di flash disknya. Foto tersebut beliau dapatkan dari kunjungannya beberapa hari sebelumnya ke tempat pamanku. Rupanya, pamanku ini memberikan foto dalam bentuk digital ini ke dalam flash disk ayahku tadi.

Aku penasaran, mengapa ayahku ini kok begitu bersemangat. Sesaat setelah aku membuka file foto tersebut, aku pun tahu. Foto tersebut ada dua jumlahnya. Semuanya foto keluarga, diambil mungkin sekitar 24 tahun yang lalu. Di foto pertama tampak ayah ibuku dengan dikelilingi saudara-saudari ayahku di belakang mereka. Di bagian tengah ada kakek dan nenekku yang masih tampak muda. Mereka semua berdiri di depan rumah ayah. Semuanya masih tampak sangat muda dan semuanya tersenyum gembira. Gigi-gigi dan mata mereka bersinar-sinar sehingga menyilaukan pandangan yang melihatnya (okay, I’m exaggerating ^^).

Foto kedua agak berbeda, kali ini fotonya diambil di dalam rumah. Di situ terlihat ayah dan ibuku duduk di kursi, ibuku menggendong kakakku yang masih bayi. Di belakang beliau berdua, adik-adik ayahku tampak gembira berdiri, tersenyum seperti foto pertama. Di mana diriku? Saat itu, mungkin aku masih dalam proses perencanaan.

Melihat kedua foto tersebut, mau tak mau aku teringat pada cerita ayahku saat masih muda. Tentang bagaimana ia bekerja keras sampai akhirnya bisa membeli rumah. Kemudian menikahi ibuku dan membantu kuliah adik-adiknya. Coba lihat, betapa bangga dan gembira wajah kakek, nenek, dan adik-adiknya. Aku hanya bisa merenung, apakah suatu saat nanti aku juga akan bisa seperti beliau? Saat ini masih duduk di bangku sekolah, thanks to him too who still believes in me. Belum pernah mengalami masa-masa kerja keras yang benar-benar keras.

Semoga suatu saat nanti aku bisa mengikuti jejakmu Ayah… Happy birthday… Semoga sehat selalu dan senantiasa berada dalam lindunganNya… I’ll make you proud..

NB. Karena beberapa alasan pribadi, foto keluarga yang dimaksud tidak saya tampilkan..

Nasionalisme dalam Bancakan

Ketika seseorang menyebut-nyebut tentang programmer atau software developer, yang terlintas dalam benak anda mungkin adalah seseorang dengan rambut acak-acakan yang menghabiskan sebagian besar harinya di depan layar komputer. Atau mungkin anda membayangkan tentang seorang anti sosial berkaca mata tebal yang lebih peduli ketika server sebuah web mati daripada permasalahan besar yang sedang dihadapi bangsa. Kalau hal tersebut (atau mungkin diriku) yang melintas di benak anda, anda salah, karena tidak semuanya seperti itu. Paling tidak begitu pengalamanku.

Beberapa minggu yang lalu, aku berkesempatan menghadiri acara Bancakan 2.0 edisi kedua. Bancakan 2.0 adalah acara pertemuan antara para start up dan developer di Jogja. Start up di sini adalah perusahaan (khususnya bidang IT) yang sedang dalam tahap berkembang. Pertemuan ini diisi oleh pembicara-pembicara yang punya nama di bidang IT di Indonesia. Di sinilah aku menemukan bahwa para start up dan developer ternyata memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Lanjutkan membaca “Nasionalisme dalam Bancakan”

Sekali Lagi, Don’t Judge the Book by Its Cover

Pada suatu malam, saya tengah ditemani oleh insomnia saya yang datang tak diundang. Jadilah akhirnya saya menghabiskan malam yang semakin larut di depan pesawat televisi. Saat berganti-ganti channel, saya mendapati salah satu televisi swasta nasional menayangkan sebuah acara berjudul America’s got Talent. Acara ini merupakan acara pencarian bakat dari seluruh penjuru Amerika. Teringat ajang kontes American Idol yang kadang menghadirkan adegan yang menarik, saya pun berhenti sejenak untuk menikmatinya.

Kira-kira saat itu sekitar pukul 12 malam. Babak yang ditampilkan pada saat itu adalah babak penyisihan tahap awal untuk beberapa negara bagian Amerika. Hingga datanglah kesempatan untuk satu orang ini. Ia berpakaian khas orang yang tinggal di pedesaan Amerika, berbaju hangat biru bergaris putih, mengenakan topi baseball, dan membawa gitar. Pada saat diwawancarai, ia mengaku bernama Kevin Skinner yang berasal dari daerah pedesaan Mayfield, Kentucky. Wajahnya terkesan sangar khas orang pedesaan namun lugu ketika berbicara. Dia tampak gelisah mondar-mandir menunggu gilirannya tampil. Hingga tibalah gilirannya tampil di depan juri dan penonton. Lanjutkan membaca “Sekali Lagi, Don’t Judge the Book by Its Cover”

Gara-gara Feynman

Feynman? Siapa tuh?

Sejujurnya aku juga tak tahu sebelumnya. Pertemuan pertamaku dengannya terjadi beberapa bulan lalu secara tak sengaja. Saat itu, aku sedang mencari-cari toko buku yang mirip dengan model toko buku Barnes & Noble. Model yang kumaksud adalah model toko buku di mana pembeli bisa memilih dan membaca buku yang diinginkan dengan nyaman. Aku mendengar beberapa kabar bahwa ada toko buku seperti itu di dekat tempat aku menumpang hidup. Namanya MP Book Point.

Aku mengajak temanku untuk berkunjung ke toko buku ini. Ternyata, namanya telah berubah menjadi Mizan Book Corner. Di depan toko buku ini ternyata sedang ada diskon buku murah. Setelah melihat-lihat sebentar, kami pun memutuskan untuk masuk ke dalam toko. Toko ini ternyata tidak terlalu besar. Di samping kanan pintu masuk, terdapat kafe kecil. Buku Perahu Kertas menghiasi display utama toko. Aku masuk terus ke dalam dan menemukan ruangan yang disekat menjadi dua. Sebelah kiri untuk bagian novel dan buku umum, sedangkan sebelah kanan berisikan buku untuk anak-anak. Selain kedua ruangan itu, ada satu lagi ruangan di dalam untuk kegiatan yang sering diadakan oleh pihak toko. That’s all. Tidak ada ruangan lain selain kamar mandi dan musholla kecil. Lanjutkan membaca “Gara-gara Feynman”

Area X

Saya bukanlah seorang ahli literatur. Saya hanyalah seorang biasa yang suka membaca. Menurut pendapat saya, ada tiga buah jenis novel berdasarkan isi ceritanya: novel sastra, novel fantasi, dan novel pengetahuan. Novel sastra, sesuai dengan namanya, adalah novel yang ditulis dengan aturan-aturan dalam sastra. Novel jenis ini biasanya sering diperbincangkan di kalangan ahli sastra. Novel fantasi bersifat lebih ringan, dibuat berdasarkan daya khayal penulisnya. Novel ini biasanya berisikan kisah petualangan dan makhluk-makhluk fantasi.

Novel pengetahuan memiliki unsur keilmuan di dalamnya. Membacanya dapat menambah pengetahuan kita mengenai hal tertentu. Jenis novel terakhir ini kadang berbaur dengan jenis novel lain dengan batasan yang tidak jelas. Beberapa novel fiksi sains (science-fiction) dapat dikategorikan di dalamnya. Pengarang novel jenis ini di Indonesia masih sangat jarang. Dan saya kebetulan berkesempatan membaca salah satu novel jenis ini. Lanjutkan membaca “Area X”

Mengejar Deadline: Budaya Bangsa?

Tulisan ini dipersembahkan untuk kawan-kawan panitia Pesta Sains 2006, khususnya tim khusus..

“Kita harus bersiap-siap mengejar deadline”, kata salah seorang seniorku. “Lagipula, mengejar deadline itu sudah menjadi budaya bangsa kita sejak jaman dahulu kala”, tambahnya lagi.

Saat itu, kami berdua baru saja selesai menggelar rapat koordinasi pada sebuah lomba yang akan diselenggarakan oleh BEM fakultas. Lomba ini terdiri atas berbagai bidang yang meliputi hampir seluruh departemen yang terdapat pada fakultas kami. Diriku saat itu kebetulan menjadi koordinator seksi khusus untuk lomba pemrograman, sedangkan sang seniorku tadi adalah koordinator seksi khusus untuk semua bidang lomba. Dengan kata lain, beliau adalah koordinator pusat dari para koordinator sub lomba. Seksi khusus adalah seksi yang bertugas untuk menyediakan soal dan memberi nilai para peserta lomba. Lanjutkan membaca “Mengejar Deadline: Budaya Bangsa?”

Beberapa webcomic untuk menemani hari

Menjalani aktivitas rutin harian, baik itu bekerja, belajar, atau bermain Facebook (^^) memang terkadang dapat membuat kita merasa bosan. Bolehlah di antara aktivitas tersebut kita mengambil waktu sebentar untuk refreshing, dengan harapan untuk meningkatkan produktivitas kita kembali. Salah satu cara yang biasanya kulakukan adalah dengan membaca webcomic yang banyak tersedia di Internet.

Webcomic adalah komik yang diterbitkan melalui website. Webcomic ini biasanya ditulis sendiri oleh seseorang sesuai dengan minat orang tersebut. Komik ini biasanya berisikan humor, sarkasme, atau sindiran yang bisa membuat kita tertawa atau menggaruk-garuk kepala karena tidak mengerti. Beberapa webcomic yang sukses, dalam artian banyak disukai oleh pembaca, biasanya kemudian akan diterbitkan dalam bentuk buku (meskipun tetap ada versi daring (online)-nya) atau menyediakan merchandise yang bisa dimiliki oleh penggemar. Lanjutkan membaca “Beberapa webcomic untuk menemani hari”