Kereta Api yang Terakhir

Setelah beberapa saat yang lalu menulis dua cerita tentang kereta, yaitu Kereta.. Kereta… dan Kereta Lagi, seorang teman blogger merekomendasikan kepada saya sebuah film yang berkaitan dengan kereta api. Film tersebut berjudul Kereta Api Terakhir. Judulnya cukup unik ya? Hehe..

Kereta Api Terakhir merupakan film lawas keluaran tahun 1981. Film ini bertemakan perjuangan melawan penjajahan Belanda. Film tentang kereta ini diangkat dari novel klasik yang ditulis oleh Pandir Kelana. Film ini dibintangi oleh bintang-bintang top pada masa itu, yaitu Rizawan Gayo, Gito Rollies, Pupung Harris, dan Deddy Sutomo. Dari semua bintang tersebut, hanya satu yang saya ketahui yaitu abah Gito Rollies, hehe.. (lebih…)

Kereta Lagi…

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi daerah khusus ibukota Jakarta. Setelah beberapa saat mencari moda transportasi yang murah dan nyaman, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba menggunakan kereta api. Tak terasa sudah hampir beberapa bulan saya tidak menaiki kereta api lagi. Saya sempat membaca berita bahwa PT Kereta Api Indonesia (KAI) memiliki kereta baru rute Yogyakarta – Jakarta. Saya berpikir, kenapa saya tidak mencobanya saja. (lebih…)

Jejak Cahaya di Eropa

Tema perjalanan di luar negeri akhir-akhir ini banyak diangkat ke bentuk buku, baik yang dikemas dalam bentuk catatan perjalanan atau difiksikan berbentuk novel. Beberapa di antaranya inspiratif, mempengaruhi kita untuk ikut berpetualang ke negeri seberang. Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan untuk membaca kisah perjalanan yang berbeda. Kisah ini tertuang dalam buku 99 Cahaya di Langit Eropa.

Buku 99 Cahaya di Langit Eropa merupakan kisah perjalanan Hanum Salsabiela Rais, puteri dari Amien Rais. Saat itu, mbak Hanum sedang menemani suaminya yang sedang mengambil studi doktor di Austria. Jadi, ketika sang suami sedang kuliah atau mengikuti konferensi, mbak Hanum asyik berjalan-jalan menikmati Eropa (hehe.. :D). Fokus yang diangkat oleh mbak Hanum adalah jejak-jejak kejayaan Islam di Eropa pada masa lampau. Jejak kejayaan Islam tersebut beberapa di antaranya terlihat dari beberapa bangunan antik, seperti Mezquita-Catedral, masjid yang beralih fungsi menjadi gereja di Cordoba (Spanyol) dan Hagia Sophia, gereja yang sempat menjadi masjid sebelum dijadikan museum di Turki. Selain itu, diangkat juga beberapa lukisan yang ternyata secara tak sengaja mengandung beberapa tulisan yang meng-Esa-kan Allah. Beberapa misteri juga turut membumbui buku ini, seperti apakah mungkin bahwa Napoleon Bonaparte itu ternyata seorang muslim?

Penyajian yang ringan disertai beberapa referensi sejarah membuat saya teringat bahwa dahulu Islam sempat berjaya di Eropa. Namun demikian, kejayaan tersebut akhirnya runtuh dan sisanya hanya dapat terlihat di beberapa bangunan bersejarah. Buku ini berhasil membuat saya semakin ingin berpetualang ke negeri Eropa. Semoga Allah memberikan kekuatan dan mengijinkan saya untuk menginjakkan kaki di belahan Allah yang kita sebut Eropa. Amien.. 😀

N.B. Review ini juga ditulis oleh sahabat blogger di sini.

Ketika Srintil Menari

Trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah salah satu novel Indonesia yang meninggalkan kesan pada diri saya. Jadi, ketika ada teman blogger yang memberitahukan ada acara pemutaran khusus film yang didasarkan pada novel ini, saya segera mendaftarkan diri sebagai peserta. Film tersebut berjudul Sang Penari (The Dancer).

Film Sang Penari disutradarai oleh Ifa Isfansyah dan didukung oleh artis-artis papan atas seperti Oka Antara, Pia Nasution, Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo, Happy Salma, dan Lukman Sardi. Skenario ditulis oleh Salman Aristo, Ifa Isfansyah, dan Shanty Harmayn. Sedianya, film ini baru akan “resmi” akan diputar di bioskop kesayangan kita pada tanggal 10 November 2011. Namun, sebagai media promosi, pemutararan khusus film ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Pemutaran khusus perdana film ini sendiri diselenggarakan di Yogyakarta, tanggal 16 Oktober 2011 kemarin, dan saya termasuk salah seorang yang beruntung mendapatkan tiket untuk menontonnya (gratis lho.. :D) (lebih…)

Wirausahawan Petani

Sebelumnya perkenankan saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1432 H. Saya mohon maaf jika ada tulisan dan komentar saya dalam  blog ini yang kurang berkenan di hati teman-teman blogger sekalian.

Saya membawa oleh-oleh dari perjalanan mudik tahun ini. Oleh-olehnya bukan berupa makanan, melainkan sebuah cerita. Ya, saya akan menceritakan dua orang sepupu saya yang berwirausaha. Bidang wirausaha yang mereka geluti mungkin agak jarang ditemui, yaitu bertani.

Sepupu petani saya yang pertama adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ia mengaku tidak mau disuruh-suruh oleh orang lain, sehingga ia memutuskan untuk menjalani hidup sebagai petani. Ia menggarap lahan pertanian milik keluarga dan telah berhasil beberapa kali panen. Berikut adalah cuplikan wawancara saya dengannya. (lebih…)

Dvorak!!

Semua bermula ketika saya membaca sebuah artikel tulisan si Matt Mullenweg (siapa hayoo??) yang menyatakan bahwa dirinya adalah seorang Dvorak typist. Artikel tersebut kurang lebih menceritakan tentang bagaimana dirinya berpaling dari keyboard layout QWERTY ke Dvorak, beserta beberapa alasan dan manfaat yang ia rasakan. Penasaran, saya pun mencari tahu tentang keyboard layout Dvorak dan menemukan beberapa hal yang menarik.

  • Layout keyboard standar QWERTY awalnya digunakan untuk menghindari kemacetan ketik pada mesin ketik. Permasalahan ini sudah tidak ditemui pada komputer (WikiHow).
  • Layout keyboard Dvorak didesain berdasarkan penelitian dari August Dvorak dan William Dealey. Penelitian ini mengkaji huruf-huruf yang sering digunakan (dalam bahasa Inggris). Huruf-huruf tersebut ditempatkan pada lokasi home row (baris awal atau baris tengah), sehingga lebih cepat diakses.
  • Layout Dvorak dipercaya dapat mengurangi resiko cedera saat mengetik, seperti Carpal Tunnel Syndrome dan Repetitive Strain Injuries. Jika teman-teman sering merasakan sakit di pergelangan tangan akibat mengetik, mungkin teman-teman harus mulai berhati-hati.
  • Pengguna Dvorak melaporkan bahwa kecepatan mengetik mereka meningkat bila dibandingkan dengan menggunakan keyboard QWERTY. Hal ini disebabkan distribusi huruf yang sesuai dengan frekuensi pemakaian.

Dvorak Layout

Secara pribadi, saya tertarik untuk mencoba menggunakan keyboard layout Dvorak. Mungkin nanti setelah kuliah saya selesai, saya akan mencoba belajar mengetik lagi menggunakan keyboard Dvorak. Sebagai penutup, silahkan teman-teman membaca sebuah komik yang didedikasikan untuk keyboard Dvorak.

Psikologi Misteri ala Naoki Urasawa

Semua diawali dari sebuah pertemuan tak sengaja. Waktu itu saya sedang mencari-cari bahan bacaan yang bergenre psikologi misteri di sebuah situs. Saya secara acak memilih sebuah manga (komik jepang red.) berjudul PLUTO. Saya agak terkejut karena manga ini sedikit banyak berhubungan dengan manga Astro Boy karya Osamu Tezuka. Manga Astro Boy sudah sangat terkenal sejak jaman dahulu dan  pernah ditayangkan di layar lebar pada tahun 2009. Hal yang menarik dari PLUTO adalah penggambaran yang lebih realistis dan penggunaan sudut pandang orang yang berbeda ketika menceritakan kisah tentang Astro Boy. Pembuat serial PLUTO tak lain dan tak bukan adalah (suara drum) Naoki Urasawa. (lebih…)

Ketika Waktu Bisa Diulang

Semuanya berawal ketika saya melihat sebuah iklan tentang film yang berjudul Source Code. Karena saya berkecimpung di dunia komputer (sort of), saya mengira film ini berkaitan dengan pemrograman dan kawan-kawannya. Iya, mungkin memang ada komputer yang terlibat, tetapi tidak dominan.

Film Source Code bercerita tentang seorang pria bernama Capt. Colter Steven yang tiba-tiba terbangun di dalam kereta api. Dia sempat kebingungan ketika ia disapa oleh teman satu gerbong, Christina namanya, sebagai Sean Fentress. Delapan menit kemudian, sebuah ledakan terjadi dan dia terbangun di tempat yang berbeda yang disebut kapsul. Di dalam kapsul, ia diberikan informasi bahwa dia memiliki misi untuk mengetahui siapa pelaku pengeboman kereta itu dengan cara kembali ke dalam ingatan jangka pendek Sean Fentress yang menjadi korban tewas. Colter hanya memiliki waktu selama delapan menit saja untuk mengungkap pelaku pengeboman tersebut. Setiap mengalami kegagalan dalam mengungkap kasus, Colter harus kembali lagi ke dalam kereta pada saat yang sama dengan orang-orang yang sama. Dunia dalam kereta ini merupakan dunia kreasi yang diciptakan menggunakan sistem yang disebut Source Code. (lebih…)