Kereta Lagi…

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi daerah khusus ibukota Jakarta. Setelah beberapa saat mencari moda transportasi yang murah dan nyaman, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba menggunakan kereta api. Tak terasa sudah hampir beberapa bulan saya tidak menaiki kereta api lagi. Saya sempat membaca berita bahwa PT Kereta Api Indonesia (KAI) memiliki kereta baru rute Yogyakarta – Jakarta. Saya berpikir, kenapa saya tidak mencobanya saja. (lebih…)

Iklan

Kereta… Kereta…

Pengalaman terakhir saya naik kereta dahulu kala adalah pada saat saya pergi bolak-balik Bogor-Jakarta. Waktu itu saya masih berstatus mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi negeri di Bogor. Kereta yang biasa dipakai tentu saja KRL Jabodetabek yang terkenal murah, ekonomis, penuh sesak, dan kotor (hehe). Perjalanan dari stasiun Bogor sampai ke stasiun Jakarta Kota bisa memakan waktu hampir 2 jam karena KRL ini berhenti di setiap stasiun.

Banyubiru pada perjalanan pertama

Beberapa tahun kemudian, saya pun akhirnya berkesempatan naik kereta lagi. Semua bermula saat Gunung Merapi yang legendaris itu meletus. Beberapa bulan setelah itu, jalur Yogyakarta-Magelang sering terputus karena aliran banjir lahar dingin yang masih sering terjadi (hingga tulisan ini dibuat). Saya sebagai salah satu orang yang sering pulang-balik Yogya-Semarang akhirnya mulai merasa was-was dan mencari jalur alternatif lain: kereta. (lebih…)

24

April 2004

Sekelompok anak berkumpul di musholla gedung C3 asrama putra. Beberapa orang tampak sibuk mengatur kelompok lain yang lebih muda usianya. Kelompok tersebut duduk melingkar sesuai instruksi dari beberapa orang di depan, agaknya mereka adalah senior dari kelompok tersebut. Beberapa orang dalam kelompok tampak masih diam dan takut-takut. Namun ada juga di antara mereka yang sudah mulai berkenalan dan membuka percakapan dengan orang di sekitarnya.

Satu orang, tampaknya pemimpin dari para senior, mulai memberi isyarat untuk diam dan memperhatikan. Ia mulai menjelaskan bahwa ia adalah mahasiswa jurusan yang sama dengan kelompok tersebut, hanya berbeda satu tingkat di atas para anggota kelompok. Ia kemudian mulai memperkenalkan teman-teman yang berada di sekelilingnya. Mereka rupanya tidak bertujuan untuk melakukan ospek, melainkan hanya ingin melakukan perkenalan sekaligus memberikan gambaran mengenai kehidupan yang akan para mahasiswa baru jalani selama kurang lebih empat tahun ke depan. (lebih…)

Email!

AROBAZE

Aku percaya bahwa hidup itu adalah sebuah perjalanan. Perjalanan ini terdiri atas berbagai macam petualangan yang selalu dapat kita pilih sesuai dengan keinginan kita. Dari sekian banyak petualangan, ada satu petualangan yang ingin kubagi kali ini. Petualangan di dunia blog yang telah mengantarkanku membuka berbagai macam petualangan lain yang tak kalah mengasyikkan. Lalu kenapa judulnya Email? Sabar bung, silahkan berpetualang membaca tulisanku sampai selesai ^^.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, aku memiliki blog di sini (yang sedang anda baca sekarang). Selain itu, aku juga memiliki blog lain yang kugunakan untuk melatih kemampuan berbahasa Inggris. Blogku yang satu ini juga kugunakan untuk berpetualang dengan dunia WordPress. Aku belajar untuk instalasi dan mengatur WordPressku sendiri. Selain itu, aku juga berpetualang dengan dunia domain dan hosting yang berbayar. Sekedar untuk merasakan bagaimana caranya dan menggali ilmu dari mas-mas customer service yang senantiasa bersedia membantu (he3.. maaf telah merepotkan ^^). (lebih…)

Sebuah Cerita tentang Spam

Kurang dari dua tahun yang lalu, aku dan teman-teman satu angkatan menerima pembekalan praktek lapang dari universitas. Di dalam satu ruangan tersebut kami mendapatkan berbagai macam penjelasan dan pengetahuan teknis agar kami tidak terlalu terkejut dengan kondisi di tempat kerja. Salah satu topik yang menarik perhatian adalah penjelasan mengenai spam.

“Snopes” webcomic is a courtesy of xkcd.com

Spam atau junk mail adalah penyalahgunaan dalam pengiriman berita elektronik untuk menampilkan berita iklan dan keperluan lainnya yang mengakibatkan ketidaknyamanan bagi para pengguna web (Wikipedia). Pengertian spam ini bersifat subjektif, orang per orang. Apabila sebuah email menimbulkan ketidaknyamanan atau tidak diinginkan oleh seseorang, maka orang tersebut boleh menganggapnya sebagai spam.

Spam sudah mendarah daging dalam sejarah email. Di manapun kita membuat email, spam pasti akan menghampiri. Meski demikian, pihak penyedia email memberikan fasilitas khusus untuk menangani spam sehingga dapat mengurangi gangguan spam. Email yang masuk akan difilter dengan menggunakan logika tertentu oleh sistem dan dimasukkan ke folder tertentu supaya tidak mengganggu email utama yang kita terima.

Sepanjang pengalamanku menggunakan email, aku selalu mengira bahwa sistem filter ini diterapkan hanya untuk email yang masuk. Namun, rupanya aku salah.

Beberapa hari yang lalu, aku melakukan upgrade engine pada aggregator blog angkatanku. Meski aku pernah sukses melakukan upgrade sebelumnya, entah kenapa pada situs ini aku mengalami kegagalan. Jadi, dengan modal backup data yang aku ambil sebelumnya, aku mulai memasukkan data ke dalam sistem yang terpaksa aku install baru. Karena berbagai pertimbangan pula, aku terpaksa me-reset semua password anggota yang sudah terdaftar di sana.

Sebagai pengelola yang bertanggung-jawab, aku pun mengirimkan email notifikasi ke semua pengguna terdaftar aggregator. Kebetulan aku menggunakan GMail untuk mengirimkan notifikasi tersebut ke kurang lebih dua puluh alamat email secara serentak.  Pesan sudah ditulis, alamat sudah dimasukkan ke kolom BCC, lalu klik Send.

Beberapa detik kemudian, muncul beberapa email ke dalam inbox secara beruntun. Email-email tersebut ternyata adalah notifikasi kegagalan pengiriman notifikasi yang aku lakukan sebelumnya.

You're spamming!!

You're spamming!!

Sistem memberikan penjelasan sebab gagalnya pengiriman dengan sebuah link. Ternyata sistem menganggap notifikasi yang kukirimkan tersebut adalah spam karena banyaknya jumlah pengirim. Dan satu hal lagi, GMail juga melakukan filter spam untuk email yang keluar dari sistem.

Akhirnya, aku pun mengirimkan email ke milis angkatan untuk memberitahukan notifikasi dan prosedur penggantian passwordnya. Pelajaran kita hari ini: sistem/program melakukan apa yang kita perintahkan kepada mereka, walaupun itu belum tentu yang sebenarnya kita inginkan.

Ga nyambung ya? Anyway, stop spamming!

AKOSS#1:Delapan Mahasiswa Bayangan (1)

Prolog

Cerita yang akan anda baca ini merupakan catatan perjalananku saat mengikuti Lomba ICT aka AKOSS di Semarang. AKOSS merupakan salah satu lomba penunjang PIMNAS XXI 2008. Penyelenggaraannya sendiri merupakan kali pertama dalam sejarah PIMNAS dan diharapkan kelanjutannya dalam PIMNAS selanjutnya.

Catatan yang akan anda baca ini hanya berupa coretan pendek berisikan opini diriku mengenai perjalanan ini. Rencananya catatan perjalanan ini akan kubagi menjadi dua episode. Bagian ini merupakan episode pertama, berisikan persiapan lomba dan dua hari pertama di Semarang. Bagian kedua nantinya akan berisikan kejadian dua hari terakhir, Closing Ceremony termasuk di dalamnya.

DISCLAIMER

Tulisan ini ditulis dengan menggunakan sudut pandangku. Segala kenarsisan yang mungkin akan terdapat pada tulisan ini mohon untuk dimaklumi. Have a nice read!! 😀

Hari 0

Hari ini, pukul delapan malam, rombongan PIMNAS IPB akan berangkat ke Semarang. Namun demikian, tim lomba ICT (rombongan Departemen Ilkom untuk lebih tepatnya) akan berkumpul terlebih dahulu pukul tujuh untuk mempersiapkan segala perlengkapan yang akan dibawa.

Rombongan IPB yang berasal dari Departemen Ilkom sebenarnya berjumlah tiga belas orang. Lima orang di antaranya mengikuti PKMT sedang delapan sisanya mengikuti lomba ICT. Dari tiga belas orang tersebut, satu orang dari tim PKMT tidak bisa ikut karena sakit (semoga lekas sembuh ya We..).Rombongan ini akan didampingi oleh dua orang dosen, yaitu Pak Firman dan Pak Hari.

Delapan orang peserta lomba ICT ini mendaftarkan diri ke dalam tiga kategori yang tersedia. Kategori tersebut adalah aplikasi Desktop, Web, dan kreasi Distro. Delapan orang dibagi ke dalam lima kelompok kecil. Tiga kelompok di kategori Web, dan satu kelompok pada kategori Desktop dan Distro.

Siang hari sebelum berangkat, aku membantu temanku yang masuk dalam kategori Distro untuk mempersiapkan komputer yang akan dia pakai. Insan, begitu ia dipanggil masih belum menemukan komputer Departemen yang cocok untuk menampilkan semua kemampuan distro INSANUX miliknya. Acara siap-siap ini untungnya mendapatkan dukungan dari Departemen, mulai dari Pak Jatmiko, Pak Firman, Pak Fatur, sampai Pak Pendi (Terima kasih banyak ya Pak!!). Acara ini akhirnya selesai mendekati Maghrib.

Badanku terasa segar setelah mandi. Rasa capek akibat acara siang hari tadi sudah berkurang. Aku masih punya waktu sekitar satu jam lagi sebelum kumpul di Departemen. Meski rombongan IPB baru akan berangkat pukul delapan, kami telah sepakat untuk berkumpul terlebih dahulu pukul tujuh. Kami mempersiapkan semua perlengkapan yang akan dibawa, lalu mengangkutnya ke GWW, titik keberangkatan.

Waktu satu jam yang tersisa kugunakan untuk mengecek email, blog, dan mempersiapkan barang-barang yang akan kubawa. Aku tak sabar untuk segera berangkat, karena kali ini, aku akan kembali ke kampung halamanku. Saat persiapan selesai, aku baru tersadar kalau bawaanku cukup banyak, satu buah backpack dan satu buah tas jinjing berisi pakaian. Untungnya, Syadid, teman satu kostku, berbaik hati mau mengantarku.

Ada empat orang Ilkom di kostku (ditambah dua orang penghuni gelap :p). Pandu, masuk dalam tim PKMT, dan aku akan ikut berangkat hari ini. Dua yang lain, Syadid dan Ferdi kebetulan memiliki kendaraan yang bisa dipinjam :D. Meski aku sudah memberitahu Pandu untuk berkumpul jam tujuh, ia memilih berangkat terlebih dahulu untuk mengerjakan urusannya.

Akhirnya aku pun berangkat ke Departemen. Syadid mengantarku dengan K 6441 YD-nya. Ketika melewati pintu masuk belakang IPB, Sebuah sepeda motor mencurigakan mengikuti kami. Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata itu adalah Ferdi!! Dia ternyata ikut juga untuk mengantarku. Rupanya ia memang sengaja membuat kami terkejut. Sambil tertawa-tawa karena berhasil mengejutkan kami, ia terus mengikuti kami. Ada rasa senang dan haru yang muncul ketika mengetahui mereka mengantarku (spesial terima kasih untuk Syadid and Ferdi).

Akhirnya, kami pun sampai Departemen. Hanya ada Mirza yang sudah datang, lain tidak. Pak Firman yang sedari siang menunggu di kantor mengatakan bahwa memang belum ada yang datang. Setelah memastikan ada anggota tim yang berada di GWW (which is Alvira), aku dan Mirza pun mengangkut perlengkapan kami ke sana. Dan sekali lagi, aku meminta bantuan para pengendara, Syadid dan Ferdi, yang bersedia menolong kami (Double Thanks!!).

Pukul delapan di GWW. Suasana masih agak sepi untuk ukuran jumlah orang yang akan berangkat dengan empat bis. Tidak adanya koordinasi sempat membuat bingung. Ada daftar yang bertuliskan nama dan bis yang akan dinaikinya. Rupanya tim ICT berbeda bis dengan tim PKMT. Delapan orang akan naik bis IV dan sisanya naik bis III. Meski demikian, kami masih sedikit kebingungan mengenai mekanisme pengangkutan perlengkapan. Pak Firman yang biasanya dapat kami tanyai tiba-tiba menghilang. Aku pun berinisiatif untuk menelepon beliau.

“Bapak sekarang ada di mana?”
“Saya sekarang sudah di dalam bis IV. Anak-anak suruh cepat masuk saja.”
gubrak!! Rupanya pak Firman sudah berada di dalam bis IV.

Dengan segera,aku mengajak rekan tim yang lain untuk mengangkut perlengkapan ke bagasi. Dan beberapa menit kemudian, kami pun sudah berada di dalam bis dan siap untuk berangkat.

Empat bis yang kami tumpangi adalah Pahala Kencana. Bis ini dikenal dengan bis yang menyediakan makan malam dalam separuh (atau seperempat ya?) perjalanan. Oleh karena itu, ketika official IPB memberikan makan malam, aku sempat curiga kalau bis ini nantinya tidak akan berhenti untuk makan malam. Teman-teman yang lain cuek dan langsung menghajar makan malam yang disediakan. Alih-alih makan, aku mencoba mengirimkan pikiranku ke alam mimpi secepat mungkin. I’m exhausted..

Bersambung…

Rabu yang Panjang

Sehari sebelumnya..

“Menurut Pak Wisnu, kira-kira yang bisa menjadi penguji saya siapa Pak?”

Pak Irman mungkin ya. Siapa lagi ya?”

Pak Heru sepertinya juga bisa Pak..”

“Oh ya,, pak Heru juga bisa. Sebentar saya tanya Pak Hari dulu. (Pergi ke kantor dosen)”

“Pak Hari, Kalau Pak Heru bisa tidak jadi pengujinya si Arif?”

“Bisa kayanya Pak.”

“(Kembali) Ya udah, kalo dari saya, Pak Heru.”

Beberapa menit kemudian, ketika aku menghubungi Pak Hari, beliau menjawab serupa. Dosen penguji yang beliau sarankan adalah Pak Heru.

Rabu, 100708, 0600hrs

Aku sudah menjelajah dunia maya, menunggu Pak Heru OL. Beliau mempunyai kebiasaan OL pada malam dan pagi hari. Aku terlonjak kegirangan ketika mengetahui kalau Pak Heru sedang OL. Perlahan dan hati-hati, aku mengirimkan pesan melalui YM. (lebih…)

Pertandingan igo 4 negara ke 5: Berangkat (1/3)

Berangkat

“Kis, besok minggu ada acara ga? ke JF yuk,, ada pertandingan igo”

Pesan singkat itu kukirim ke Kikis,, seorang temanku yang juga penggemar igo. Aku berharap ia akan mau menemaniku lagi. Penuh harap aku menunggu jawabannya. Nihil, tidak ada jawaban sampai keesokan harinya[1].

Siang hari berikutnya, aku bertemu dengan Kikis di sela-sela pergantian kuliah. Ia mengatakan akan pikir-pikir dulu. Aku akan dihubunginya nanti malam, yaitu Sabtu malam. Rupanua aku tak perlu menunggu selama itu. Sorenya ketika kami bepapasan, ia sudah menyanggupi untuk ikut ke JF. Aku bersorak dalam hati.

Keesokan harinya, 0730, aku menelepon Kikis. Kami mengatur pertemuan di BNI. Segera aku melangkahkan kaki menuju ke sana. Setelah menunggu beberapa saat di sana[2], kami pun berangkat mengendarai motor. Tujuan selanjutnya: Stasiun Bogor.

Sesampainya di stasiun, macet seperti biasa. Meski jalanan sudah diatur satu arah, namun kemacetan seolah tak dapat dihindarkan. Becak, gerobak, motor, dan angkot berbaur menjadi satu menumbuhkan kesemrawutan laten. Merangkak, akhirnya kami pun sampai di tempat parkir stasiun. Beberapa motor terparkir di sana. Penjaganya masih nampak muda, mungkin masih sekitar dua puluhan tahun. Ia menanyakan jam motor akan diambil. Dengan mantap Kikis menjawab, “Nanti sore mas”.

Stasiun BogorAntrian pembelian tiket tidak terlalu padat, bahkan bisa dibilang sepi. Ada seorang ibu-ibu yang hendak membeli tiket Pakuan Express di depanku. Dari percakapannya dengan mbak-mbak penjual karcis, aku tahu kalau kereta tersebut sudah datang dan akan segera berangkat. Segera aku memasukkan rupiah dan meminta dua lembar karcis.

Situasi dalam kereta sudah cukup ramai. Kami berjalan menyusuri gerbong sambil celingak-celinguk mencari bangku kosong. Tiba di gerbong berikutnya, kami beruntung: ada beberapa celah di antara penumpang. Saat hendak duduk, pandanganku melayang pada tiga orang yang duduk pada bangku lain yang sederet dengan bangku yang akan kami duduki.

Salah satu dari ketiga orang tersebut rupanya menyadari kehadiran kami. Ia memberitahu kedua temannya dan melambaikan tangannya kepada kami. Kami pun batal untuk duduk dan berjalan mendekati mereka bertiga. Ketiga orang tersebut adalah teman satu jurusan, satu angkatan, dan satu almamater kami: Maul, Indra, dan Riza. Setelah sedikit berbasa-basi, obrolan kami pun dimulai.

“Mau ke mana??”

“Mau ke Dufan..”

“Tumben.. emangnya kenapa?”

“mumpung lagi ada diskon..”

“Ooo..”

“Kalian mau ke mana??”

“Mau ke JF”

“JF??”

“Japan Foundation, Summitmas. Eh tahu ga Summitmas di mana??”

“Kata si Riku sih di Sudirman. Tahu ga Sudirman di mana??”

“Naik busway aja.. turun di mana ya?? Dukuh Atas kalau ga salah”

“Kalo ga coba tanya Khadi deh.. Kan rumahnya sekitar sana..”

Aku kemudian mencari nomor Khadi dan mengirimkan sms padanya.

Di, kamu tahu summitmas ga? Kalo naik busway turun di mana??

Menunggu balasan, obrolan pun mengalir.

“Eh rip, kamu blom pernah ke dufan kan? Ikut yuk”

“udah pernah kok.. kamu juga belum pernah liat lomba igo kan?? Ikut aja Ndra..”

“Emang lomba apa?”

“Katanya sih empat negara, tapi ga tau juga..”

….

BuswayTak terasa, akhirnya kami pun sampai di stasiun Jakarta Kota. Maul dkk. mengambil jalan ke kiri, sedangkan aku dan Kikis ke kanan. Keluar dari pintu stasiun, kami berbelok dan menyeberang jalanan yang ramai menuju halte busway. Di sekeliling, terdapat pagar seng yang menandakan bahwa area tersebut sedang direnovasi. Setelah membeli dua tiket, kami pun memasuki palang pintu masuk. Tiket busway tersebut sudah berwarna putih, hanya tampak bekas tulisan di sana. Saat memasukkan tiket, aku kebingungan mengenai posisi yang benar. Sisi manakah yang harus di atas, sisi mana yang harus di bawah[3]. Setelah diberi penjelasan sedikit (sangat sedikit) akhirnya aku pun berhasil melewati pintu dengan selamat diselingi senyum Kikis.

Meski jarak antara pintu masuk dengan pintu ke busway hanya sekitar satu meter, kami harus berjalan memutar sekitar lima meter untuk sampai ke sana. Ada bis yang sedang berhenti, sayangnya, saat kami sampai di pintu bis sudah berjalan. Kami pun menunggu giliran berikutnya. Beberapa menit kemudian, bis pun datang. Kami dengan penuh semangat memasuki bis yang lengang.

Bis busway berwarna merah dengan lambang garuda (atau elang?) di tubuhnya. Hawa sejuk menyelimuti kami ketika kami masuk. Ada petugas yang berjaga di depan pintu. Sekilas, bis ini seperti layaknya bis mini biasa. Bedanya, ada pendingin udara, tempat duduk di pinggir seperti di KRL, dan terawat (?). Kami pun duduk di kursi belakang menghadap ke depan. Saat bis berjalan, aku melayangkan pandanganku ke luar, melihat dan mencari apa yang membuat Jakarta bisa meningkatkan urbanisasi.

Tak terasa, kami pun sampai di Dukuh Atas. Kami pun turun dan bertanya-tanya. Ternyata Summitmas masih agak jauh. Kami seharusnya turun di Gelora Bung Karno. Alhasil, kami pun naik busway lagi[4]. Beberapa halte terlewati, hingga aku melihat gapura yang dituliskan dengan penuh kebanggaan.

GELORA BUNG KARNO

Kami pun turun dengan perasaan senang. Pada penjaga busway, kami bertanya mengenai Summitmas. Jawabannya membuat perasaan kami semakin bahagia, “Oh di sana mas. Naik jembatan penyeberangan ini saja, trus jalan sedikit ke sana.”, sambil menunjuk. Langkah kaki kami berdebam saat kami berjalan melewati jembatan logam. Di seberang, kami meloncat turun dan melanjutkan perjalanan kami yang tinggal sedikit.

Beberapa gedung tinggi kami lewati. Sampai pada akhirnya perjalanan kami berhenti di gedung Summitmas. Summitmas adalah dua gedung putih. Di tengah-tengahnya ada sebuah rumah makan yang menyediakan free hotspot area. Satu yang kulupa adalah di gedung yang manakah JF berada?? Satpam yang kami tanyai menunjukkan jalan. Kami harus melewati gang yang menjadi jalan pintas ke gedung tersebut. Satpam kedua menunjukkan arah pintu masuk gedung. Satpam yang ketiga menanyakan tujuan kami, “Mau kemana Mas?”

“Mau ke Japan Foundation di mana ya Pak??”

“Di lantai 2 mas. Oh tulis nama aja di sini Mas”, katanya sambil membuka stiker label.

“Saya perlu ga Pak?”

“Ga usah, satu aja. Oh ya ini dipakai”, sambil mengulurkan label.

“Dipakai di mana Pak??”

“Tempelkan aja di baju”

Label tersebut berstempel logo Japan Foundation dan kutempel di jaket.

“Mau main igo ya Mas??”

“Iya Pak.. terima kasih ya Pak”

“Iya Mas sama-sama”

Japan FoundationRupanya bapak ini tahu juga. Mungkin memang sudah terbiasa dengan anak-anak yang pergi ke JF untuk bermain igo. Kami masuk dan memencet lift untuk naik ke lantai 2. Hari libur, semua terlihat lengang. Lift pun kosong saat kami masuk. Setelah merasakan beberapa akibat hukum Newton, pintu pun terbuka. Mata kami disambut dengan dinding yang bertuliskan JAPAN FOUNDATION. Hawa igo semakin terasa ketika kami keluar dari lift. Kami berbelok ke kanan dan melihat pintu yang terbuka dan seorang petugas keamanan di dalamnya. Ia sedang duduk di depan sebuah meja dengan beberapa brosur di atasnya. Di samping kiri dan kanan terdapat spanduk sponsor. Kami pun masuk, mengambil beberapa brosur, dan terkejut.

BERSAMBUNG..

Sumber gambar:

Busway : http://jkt.detik.com/adv/busway/index.html

Japan Foundation : http://www.archivolto.it/contentmanager_data/images/F08112006142825.gif


[1] Maklum di kamar kost-ku ga ada sinyal.. 😀

[2] Yang menunggu Kikis, bukan aku .. soalnya aku harus ambil uang dulu..

[3] Pertama, this is my first time using busway, Kedua, there’s no such as manual.. Don’t make me think..

[4] Untung belum keluar dari halte. Jadi ga usah beli tiket lagi..