BECK: Let’s Rock n Roll

Jaman dahulu kala, saya pernah membaca sebuah seri manga berjudul BECK yang diterbitkan dalam serial Shonen Magz. Manga yang ditulis oleh Harold Sakuishi ini bercerita tentang seorang anak SMA bernama Koyuki yang merasa bosan dengan hidupnya karena tidak memiliki pencapaian apa pun. Dia kemudian menyelamatkan seekor anjing berbentuk aneh, bernama BECK, dan kemudian bertemu dengan Ryuusuke, seorang pemain gitar yang ingin mendirikan band rock terhebat. Koyuki kemudian mencoba mendengarkan lagu-lagu rock dan akhirnya tertarik juga untuk belajar bermain gitar.

Saya kemudian tidak mengikuti lagi cerita BECK tersebut karena sumber manga sudah tidak didapatkan lagi (maklum pinjaman, hehe). Saya hampir-hampir lupa ketika suatu ketika saya menemukan berita bahwa BECK telah dibuat versi Live Action Movie. Mengenang masa lalu, saya pun mencoba menontonnya. Lanjutkan membaca “BECK: Let’s Rock n Roll”

Ketika Kura-kura Terbang

Beberapa hari yang lalu, saya diberitahu oleh seorang teman blogger tentang sebuah film menarik. Film tersebut berjudul Turtles Can Fly. Film besutan sutradara Bahman Ghobadi merupakan film yang dibuat di Irak pertama kali setelah kejatuhan Saddam Hussein.

Film Turtles Can Fly berkisah tentang kehidupan anak-anak di penampungan perbatasan Irak dan Turki pada saat invasi Amerika Serikat dan sekutunya ke Irak. Tokoh central film ini adalah Satellite, seorang anak yang diangkat menjadi pemimpin bagi anak-anak pengungsi lain. Ia memiliki keahlian dalam memasang antena dan mencari siaran berita. Keahlian inilah yang membuat ia dicari-cari orang-orang yang sedang haus akan informasi perang. Salah satu adegan yang lucu adalah ketika Satellite yang sok-sok jago berbahasa Inggris untuk menerjemahkan siaran berita berbahasa Inggris oleh para sesepuh dan kepala kampung. Dengan gaya yang penuh percaya diri, Satellite menerjemahkan berita tentang perang dengan ramalan cuaca bahwa besok akan hujan.  Lanjutkan membaca “Ketika Kura-kura Terbang”

Bogem

Rabu kemarin, saya diajak paman dan keluarganya untuk mengantarkan adik sepupu saya yang akan disupit (atau sunat, khitan). Mereka jauh-jauh datang untuk mengunjungi juru supit yang legendaris di Jogja, yaitu juru supit Bogem (dibaca: mBogem red.). Penasaran, saya memutuskan untuk ikut dan melihat tempat juru supit yang berdiri sejak tahun 1930-an itu. Siapa tau nanti kalau saya punya anak lelaki, bisa saya bawa ke tempat supit yang didirikan oleh Raden Ngabehi Notopandoyo tersebut. Lanjutkan membaca “Bogem”

Banyak Kepribadian

Pada suatu malam, saya mengalami kesusahan untuk tidur. Saya pun kemudian tergerak untuk menyalakan komputer untuk menonton televisi. Saya terhenti di sebuah stasiun televisi swasta yang biasa menyiarkan film. Tepat pada saat itu pula, film baru saja dimulai. Dilihat dari adegan-adegan pembuka yang terasa agak sedikit menyeramkan (tiba-tiba saya teringat bahwa malam itu malam Jumat), saya sempat berpikir apakah film ini adalah film horor. Saya pun mencoba untuk menyaksikannya sedikit lebih lama.  Lanjutkan membaca “Banyak Kepribadian”

Teman vs Duit

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah artikel di Media Story. Artikel ini berisikan sedikit cerita di dalam buku autobiografi Paul Allen berjudul Idea Man. Sebagai tambahan informasi, Paul Allen mendirikan Microsoft tahun 1975 bersama Bill Gates. Cerita ini berisikan hubungan Paul Allen dengan Bill Gates yang merenggang selama menjalankan Microsoft. Berikut cuplikannya:

A fragment from the book, published by “Vanity Fair” magazine, tells how, in 1982, when Allen was suffering from cancer, Bill Gates tried to push him away from the company.

Bill Gates and Paul Allen founded Microsoft together. Although Allen thought that they are going to share the company in half, “Bill had other ideas in mind and he reserved 60% for him because he did more programming work. When the program was given to the NCR group, in return of 175,000 dollars, Gates claimed 64%”. Lanjutkan membaca “Teman vs Duit”

Kereta… Kereta…

Pengalaman terakhir saya naik kereta dahulu kala adalah pada saat saya pergi bolak-balik Bogor-Jakarta. Waktu itu saya masih berstatus mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi negeri di Bogor. Kereta yang biasa dipakai tentu saja KRL Jabodetabek yang terkenal murah, ekonomis, penuh sesak, dan kotor (hehe). Perjalanan dari stasiun Bogor sampai ke stasiun Jakarta Kota bisa memakan waktu hampir 2 jam karena KRL ini berhenti di setiap stasiun.

Banyubiru pada perjalanan pertama

Beberapa tahun kemudian, saya pun akhirnya berkesempatan naik kereta lagi. Semua bermula saat Gunung Merapi yang legendaris itu meletus. Beberapa bulan setelah itu, jalur Yogyakarta-Magelang sering terputus karena aliran banjir lahar dingin yang masih sering terjadi (hingga tulisan ini dibuat). Saya sebagai salah satu orang yang sering pulang-balik Yogya-Semarang akhirnya mulai merasa was-was dan mencari jalur alternatif lain: kereta. Lanjutkan membaca “Kereta… Kereta…”

Backup Paranoia

Detik-detik menjelang awal penelitian akhir telah dimulai. Salah satu hal yang terpenting dalam melakukan penelitian adalah, tentu saja, membuat laporan penelitiannya. Laporan penelitiannya ini biasanya berupa dokumen teks, dibuat menggunakan program pengolah kata.

Beberapa tahun belakangan ini, dokumen teks rawan sekali terkena serangan virus. Virus-virus ini dapat merusak dokumen tersebut sehingga tidak dapat dibuka kembali. Laporan penelitian yang kita buat berbulan-bulan pun dalam waktu singkat dapat lenyap tak berbekas. Selain ancaman virus, ancaman kegagalan sistem juga dapat terjadi. Harddisk bisa rusak dan tidak dapat diakses, komputer dapat rusak dan tidak bisa berjalan, dan sebagainya. Beberapa hal ini saja dapat memicu sebuah pertanyaan, apa yang dapat kita lakukan untuk melindungi data atau dokumen penelitian kita? Lanjutkan membaca “Backup Paranoia”

Apa Bedanya Facebook dengan Twitter?

Pada suatu hari yang cerah, hari seperti biasanya, aku sedang duduk di depan layar komputer menatap tab-tab dalam browser yang terbuka. Sesekali aku mengetik sesuatu yang cukup penting, walaupun sebenarnya itu hanyalah sebuah update status di Twitter atau Facebook. Di belakangku, ada beberapa mahasiswa S3 yang sedang asyik mengobrol dan berdiskusi. Tiba-tiba sebuah pertanyaan terlontar dari salah seorang ibu mahasiswi, “Apa sih bedanya Twitter dengan Facebook?

Pikiranku kemudian melayang, memikirkan berbagai macam penjelasan yang kira-kira dapat kupakai sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut. Ada beberapa jawaban gila yang muncul, berikut adalah salah satunya. Lanjutkan membaca “Apa Bedanya Facebook dengan Twitter?”