24

April 2004

Sekelompok anak berkumpul di musholla gedung C3 asrama putra. Beberapa orang tampak sibuk mengatur kelompok lain yang lebih muda usianya. Kelompok tersebut duduk melingkar sesuai instruksi dari beberapa orang di depan, agaknya mereka adalah senior dari kelompok tersebut. Beberapa orang dalam kelompok tampak masih diam dan takut-takut. Namun ada juga di antara mereka yang sudah mulai berkenalan dan membuka percakapan dengan orang di sekitarnya.

Satu orang, tampaknya pemimpin dari para senior, mulai memberi isyarat untuk diam dan memperhatikan. Ia mulai menjelaskan bahwa ia adalah mahasiswa jurusan yang sama dengan kelompok tersebut, hanya berbeda satu tingkat di atas para anggota kelompok. Ia kemudian mulai memperkenalkan teman-teman yang berada di sekelilingnya. Mereka rupanya tidak bertujuan untuk melakukan ospek, melainkan hanya ingin melakukan perkenalan sekaligus memberikan gambaran mengenai kehidupan yang akan para mahasiswa baru jalani selama kurang lebih empat tahun ke depan. Lanjutkan membaca “24”

Foto Keluarga

Beberapa hari yang lalu saat aku pulang ke rumah, ayahku dengan penuh semangat menyuruhku untuk membuka foto di flash disknya. Foto tersebut beliau dapatkan dari kunjungannya beberapa hari sebelumnya ke tempat pamanku. Rupanya, pamanku ini memberikan foto dalam bentuk digital ini ke dalam flash disk ayahku tadi.

Aku penasaran, mengapa ayahku ini kok begitu bersemangat. Sesaat setelah aku membuka file foto tersebut, aku pun tahu. Foto tersebut ada dua jumlahnya. Semuanya foto keluarga, diambil mungkin sekitar 24 tahun yang lalu. Di foto pertama tampak ayah ibuku dengan dikelilingi saudara-saudari ayahku di belakang mereka. Di bagian tengah ada kakek dan nenekku yang masih tampak muda. Mereka semua berdiri di depan rumah ayah. Semuanya masih tampak sangat muda dan semuanya tersenyum gembira. Gigi-gigi dan mata mereka bersinar-sinar sehingga menyilaukan pandangan yang melihatnya (okay, I’m exaggerating ^^).

Foto kedua agak berbeda, kali ini fotonya diambil di dalam rumah. Di situ terlihat ayah dan ibuku duduk di kursi, ibuku menggendong kakakku yang masih bayi. Di belakang beliau berdua, adik-adik ayahku tampak gembira berdiri, tersenyum seperti foto pertama. Di mana diriku? Saat itu, mungkin aku masih dalam proses perencanaan.

Melihat kedua foto tersebut, mau tak mau aku teringat pada cerita ayahku saat masih muda. Tentang bagaimana ia bekerja keras sampai akhirnya bisa membeli rumah. Kemudian menikahi ibuku dan membantu kuliah adik-adiknya. Coba lihat, betapa bangga dan gembira wajah kakek, nenek, dan adik-adiknya. Aku hanya bisa merenung, apakah suatu saat nanti aku juga akan bisa seperti beliau? Saat ini masih duduk di bangku sekolah, thanks to him too who still believes in me. Belum pernah mengalami masa-masa kerja keras yang benar-benar keras.

Semoga suatu saat nanti aku bisa mengikuti jejakmu Ayah… Happy birthday… Semoga sehat selalu dan senantiasa berada dalam lindunganNya… I’ll make you proud..

NB. Karena beberapa alasan pribadi, foto keluarga yang dimaksud tidak saya tampilkan..

Bukan Hari Biasa (part 1)

Hari ini sangat aneh. Badan yang tidak begitu sehat waktu pagi membuatku agak malas untuk beraktivitas. Sekitar pukul setengah tujuh pagi, aku mulai menghidupkan komputer dan berselancar di Internet. Aku saat itu berpikir bahwa kuliah baru akan dimulai pukul delapan pagi, jadi masih ada waktu satu setengah jam. Jadi, aku pun dengan malas mulai membaca-baca apa yang terjadi di dunia.

Kira-kira pukul 7.15, aku mulai memutuskan untuk pergi membasuh diri. Aku membayangkan diriku yang biasa datang jauh sebelum kuliah dimulai baru datang beberapa menit sebelum kuliah. Membayangkan beberapa komentar teman-teman sekelas yang mungkin terjadi, atau mungkin tidak. Selesai mandi, pukul 7.20, aku mulai merasakan ada sesuatu yang janggal. Aku sedang bersiap-siap ketika pandanganku menyapu jadwal kuliah yang terpampang di dinding di atas meja.

Jadwal kuliahku disusun berdasarkan hari dan nama mata kuliah. Berbeda dengan jadwal biasa yang ditulis berdasarkan jam, jadwalku ini ditulis dengan menggunakan kode nomor. Kode nomor 1 untuk kuliah pukul 07.00 – 07.50, kode nomor 2 untuk kuliah pukul 07.50-08.50, dan seterusnya. Pandanganku melihat jadwal kuliah pertama hari ini, aku tersentak ketika melihat kode nomornya: 1,2, 3. Artinya kuliah dimulai pukul 07.00 sampai dengan pukul 09.50. Dimulai pukul 07.00 dan sekarang sudah pukul 7.30! Lanjutkan membaca “Bukan Hari Biasa (part 1)”

Nasionalisme dalam Bancakan

Ketika seseorang menyebut-nyebut tentang programmer atau software developer, yang terlintas dalam benak anda mungkin adalah seseorang dengan rambut acak-acakan yang menghabiskan sebagian besar harinya di depan layar komputer. Atau mungkin anda membayangkan tentang seorang anti sosial berkaca mata tebal yang lebih peduli ketika server sebuah web mati daripada permasalahan besar yang sedang dihadapi bangsa. Kalau hal tersebut (atau mungkin diriku) yang melintas di benak anda, anda salah, karena tidak semuanya seperti itu. Paling tidak begitu pengalamanku.

Beberapa minggu yang lalu, aku berkesempatan menghadiri acara Bancakan 2.0 edisi kedua. Bancakan 2.0 adalah acara pertemuan antara para start up dan developer di Jogja. Start up di sini adalah perusahaan (khususnya bidang IT) yang sedang dalam tahap berkembang. Pertemuan ini diisi oleh pembicara-pembicara yang punya nama di bidang IT di Indonesia. Di sinilah aku menemukan bahwa para start up dan developer ternyata memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Lanjutkan membaca “Nasionalisme dalam Bancakan”

Kejahatan yang “Lain”

Alkisah, aku dan teman-teman mendapatkan tugas dari mata kuliah kriptografi. Sedikit tentang kriptografi, kriptografi adalah ilmu yang mempelajari masalah keamanan data. Nah, di tugas ini kelompok kami mendapatkan tugas untuk membahas keamanan di dunia perbankan, termasuk di antaranya kejahatan di dunia perbankan, contoh kasusnya, dan bagaimana mengatasinya.

Beberapa hari kemudian, salah satu anggota kelompokku, sebut saja Mr. X, menerima sebuah sms dan menunjukkannya kepadaku. Sms tersebut berisi pemberitahuan mengenai acara diskusi mengenai kejahatan perbankan. Acara ini diselenggarakan oleh HIMMPAS dan yang paling penting: gratis. Di pikiran kami, acara ini adalah mengenai kejahatan perbankan yang sedang cukup ramai dibicarakan, yaitu mengenai kasus pembobolan ATM menggunakan skimmer. Karena relevan dengan tugas kami, maka kami pun sepakat untuk menghadirinya.

Jadilah aku dan Mr. X menghadiri acara tersebut. Setelah menunggu beberapa saat, makalah pun dibagikan. Makalah tersebut terdiri dari dua bagian. Kami membaca sekilas mengenai kedua makalah tersebut. Kami pun termenung, kemudian tertawa dalam hati. Makalah tersebut berisikan kejahatan perbankan, dalam artian kejahatan kerah putih dengan studi kasus Bank Century. Sedangkan kami berpikir bahwa kejahatan yang dimaksud oleh acara ini adalah kasus skimmer.

Akhirnya kami pun duduk dan mendengarkan pemaparan para pembicara. Dua pembicara membicarakan tentang kasus kejahatan perbankan dari sisi ekonomi dan dari sisi hukum. Yah, walau sedikit tidak paham, paling tidak kami mendapat ilmu baru.

Life is Like a Boat

Enggak tau kenapa, beberapa minggu belakangan ini aku sedang suka mendengarkan lagu ini. Judulnya adalah Life is Like a Boat, dinyanyiin oleh Rie Fu. Lagu ini pernah jadi soundtrack penutup Bleach episode awal-awal. Berikut liriknya:

Life is Like a Boat

Sang by: Rie Fu

Nobody knows who I really am
I never felt this empty before
And if I ever need someone to come along
Who’s gonna comfort me and keep me strong

We are all rowing the boat of fate
The waves keep on comin’ and we can’t escape
But if we ever get lost on our way
The waves would guide you through another day

Tookude iki wo shiteru toumei ni nattamitai (Far away, I’m breathing, as if I were transparent)
Kurayami ni omoe takedo mekaku shisarete tadake (It would seem I was in the dark, but I was only blindfolded)
Inori wo sasagete atarashii hi wo matsu (I give a prayer as I wait for the new day)
Azayaka ni hikaru umi sono hate made (Shining vividly up to the edge of that sea)

Nobody knows who I really am
Maybe they just don’t give a damn
But if I ever need someone to come along
I know you would follow me, and keep me strong

Hito no kokoro wa utsuri yuku nukedashita kunaru (People’s hearts change and sneak away from them)
Tsuki wa mata atarashii shuuki de fune wo tsureteku (The moon in its new cycle leads the boats again)

And every time I see your face,
The oceans heave up to my heart
You make me wanna strain at the oars,
And soon I can see the shore

Oh, I can see the shore
When will I… see the shore?

I want you to know who I really am
I never thought I’d feel this way towards you
And if you ever need someone to come along
I will follow you, and keep you strong

Tabi wa mada tsudzuiteku odayakana hi mo (And still the journey continues on quiet days as well)
Tsuki wa mata atarashii shuuki de fune wo terashidasu (The moon in its new cycle shines on the boats again)
Inori wo sasagete atarashii hi wo matsu (I give a prayer as I wait for the new day)
Azayaka ni hikaru umi sono hate made (Shining vividly up to the edge of that sea)

And every time I see your face,
The oceans heave up to my heart
You make me wanna strain at the oars,
And soon I can see the shore

Unmei no fune wo kogi nami wa tsugi kara tsugi e to watashitachi wo osou kedo(We are rowing the boat of fate, but the waves keep attacking us)
Sore mo suteki na tabi ne (But isn’t that still a wonderful journey?)
Dore mo suteki na tabi ne (Aren’t any of them a wonderful journey?)

Source: http://www.animelyrics.com/anime/bleach/lifeislikeaboat.htm

#5 Dunia Blog ini Keras, Jenderal

Pagi itu, suasana di padepokan Ki Kawuryan agak lain dari biasanya. Para murid tampak sibuk membersihkan halaman padepokan. Ada juga yang mengepel lantai pendopo. Ada yang memperbaiki pintu gerbang. Ada pula yang sibuk memperbaiki genteng yang bocor. Di dapur, para murid juga tak kalah mengeluarkan semua kepandaian memasak. Semua tampak serius sekali. Ki Kawuryan tampak senang melihat tingkah laku murid-muridnya. Dalam hati ia ingin kejadian seperti ini bisa terjadi setiap hari, kalau tidak minimal setiap sebulan sekali lah. Penyebab kesibukan luar biasa tersebut adalah berita akan datangnya seorang Jenderal dari keraton. Dia adalah panglima dari pasukan Cakra yang terkenal memiliki kekuatan segelar-sepapan.

Ketika siang menjelang, penjaga gerbang padepokan mengabarkan bahwa sang Jenderal telah datang. Para murid seketika sibuk menata dirinya di halaman padepokan. Mereka ingin melihat bagaimana sang Jenderal dilihat dari dekat. Murid lain yang bertugas di bagian konsumsi mulai menata hidangan di dalam pendopo. Mereka terlihat gembira karena telah berhasil mempersiapkan makanan dalam jumlah besar. Seluruh pasukan sang Jenderal pun kalau datang ke sini pasti akan mendapatkan bagian, pikir salah seorang murid. Lanjutkan membaca “#5 Dunia Blog ini Keras, Jenderal”

#4 Menggabungkan File PDF

Tidak seperti biasanya, selama beberapa bulan belajar di padepokan, baru kali ini si Dudun dipanggil oleh Ki Kawuryan. Beliau adalah pemimpin padepokan yang dikenal memiliki kesaktian dan kebijaksanaan di atas manusia pada umumnya. Semua orang sangat menghormati beliau dan sering datang untuk meminta bantuan dalam menyelesaikan berbagai masalah.

Perlahan si Dudun memasuki pendapa tempat Ki Kawuryan biasa menerima tamu. Beliau terlihat sangat tenang. Ketika menyadari kedatangan si Dudun, beliau mengangguk memberi isyarat agar si Dudun duduk di kursi dekatnya.

“Ada apa gerangan Ki memanggil saya?”, tanya si Dudun.

Uhuk uhuk (suara batuk).. Langsung saja ya ngger, Kamu saya minta menyelesaikan sebuah masalah”, kata Ki Kawuryan. Lanjutkan membaca “#4 Menggabungkan File PDF”