RIP PgDn

Hari itu tidak hujan. Cuaca masih panas seperti biasanya. Tidak ada tanda-tanda bahwa sesuatu yang dahsyat akan terjadi. Aku duduk di meja kerja seperti biasa. Komputer lipat ada di sisi meja sebelah kiri. Gelas minuman berada pada sisi sebelah kanan. Mudah dijangkau jika tiba-tiba merasa haus ketika sedang mengerjakan sesuatu.

Aku masih mengerjakan beberapa pekerjaan, sama seperti malam-malam biasanya. Tenggorokan tiba-tiba meminta untuk dialiri air untuk mengurangi dahaga. Aku mengambil gelas yang berisi air dan mendekatkannya ke mulut. Satu teguk, dua teguk, tiga teguk. Air dalam gelas masih bersisa. Gelas kutaruh dalam posisi kurang sempurna. Gerakan tangan tiba-tiba menyenggol gelas dan air pun membasahi papan ketik komputer.

Aku terhenyak, lalu segera mengampil kain lap. Tombol sisi sebelah kanan papan ketik merasakan dinginnya air. Aku segera memberikan pertolongan pertama dengan membasuh mereka. Lalu dengan segera mematikan komputer. Kepalaku pusing, bibir komat-kamit memanjatkan doa semoga tidak terjadi apa-apa. Pikiran sempat melintas, apakah desain papan ketik ini spill-resistant? (*eh?) (lebih…)

Dvorak!!

Semua bermula ketika saya membaca sebuah artikel tulisan si Matt Mullenweg (siapa hayoo??) yang menyatakan bahwa dirinya adalah seorang Dvorak typist. Artikel tersebut kurang lebih menceritakan tentang bagaimana dirinya berpaling dari keyboard layout QWERTY ke Dvorak, beserta beberapa alasan dan manfaat yang ia rasakan. Penasaran, saya pun mencari tahu tentang keyboard layout Dvorak dan menemukan beberapa hal yang menarik.

  • Layout keyboard standar QWERTY awalnya digunakan untuk menghindari kemacetan ketik pada mesin ketik. Permasalahan ini sudah tidak ditemui pada komputer (WikiHow).
  • Layout keyboard Dvorak didesain berdasarkan penelitian dari August Dvorak dan William Dealey. Penelitian ini mengkaji huruf-huruf yang sering digunakan (dalam bahasa Inggris). Huruf-huruf tersebut ditempatkan pada lokasi home row (baris awal atau baris tengah), sehingga lebih cepat diakses.
  • Layout Dvorak dipercaya dapat mengurangi resiko cedera saat mengetik, seperti Carpal Tunnel Syndrome dan Repetitive Strain Injuries. Jika teman-teman sering merasakan sakit di pergelangan tangan akibat mengetik, mungkin teman-teman harus mulai berhati-hati.
  • Pengguna Dvorak melaporkan bahwa kecepatan mengetik mereka meningkat bila dibandingkan dengan menggunakan keyboard QWERTY. Hal ini disebabkan distribusi huruf yang sesuai dengan frekuensi pemakaian.

Dvorak Layout

Secara pribadi, saya tertarik untuk mencoba menggunakan keyboard layout Dvorak. Mungkin nanti setelah kuliah saya selesai, saya akan mencoba belajar mengetik lagi menggunakan keyboard Dvorak. Sebagai penutup, silahkan teman-teman membaca sebuah komik yang didedikasikan untuk keyboard Dvorak.

Intip: Natty Narwhal dan Unity

UbuntuCoFHalo halo…

Akhirnya setelah sekian lama saya menulis lagi tentang komputer. Hehe.. Kali ini saya akan bercerita mengenai rilis Ubuntu yang terbaru, yaitu Ubuntu 11.04: Natty Narwhal. Rilis Ubuntu edisi ini sangatlah spesial (pake telor). Mengapa? Karena pada edisi ini untuk pertama kalinya Ubuntu akan menggunakan Unity shell sebagai desktop environment default menggantikan GNOME. Setelah beberapa kali melihat preview Unity di berbagai video di Youtube, akhirnya saya mencoba untuk melakukan instalasi Natty. (lebih…)

Teman vs Duit

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah artikel di Media Story. Artikel ini berisikan sedikit cerita di dalam buku autobiografi Paul Allen berjudul Idea Man. Sebagai tambahan informasi, Paul Allen mendirikan Microsoft tahun 1975 bersama Bill Gates. Cerita ini berisikan hubungan Paul Allen dengan Bill Gates yang merenggang selama menjalankan Microsoft. Berikut cuplikannya:

A fragment from the book, published by “Vanity Fair” magazine, tells how, in 1982, when Allen was suffering from cancer, Bill Gates tried to push him away from the company.

Bill Gates and Paul Allen founded Microsoft together. Although Allen thought that they are going to share the company in half, “Bill had other ideas in mind and he reserved 60% for him because he did more programming work. When the program was given to the NCR group, in return of 175,000 dollars, Gates claimed 64%”. (lebih…)

Backup Paranoia

Detik-detik menjelang awal penelitian akhir telah dimulai. Salah satu hal yang terpenting dalam melakukan penelitian adalah, tentu saja, membuat laporan penelitiannya. Laporan penelitiannya ini biasanya berupa dokumen teks, dibuat menggunakan program pengolah kata.

Beberapa tahun belakangan ini, dokumen teks rawan sekali terkena serangan virus. Virus-virus ini dapat merusak dokumen tersebut sehingga tidak dapat dibuka kembali. Laporan penelitian yang kita buat berbulan-bulan pun dalam waktu singkat dapat lenyap tak berbekas. Selain ancaman virus, ancaman kegagalan sistem juga dapat terjadi. Harddisk bisa rusak dan tidak dapat diakses, komputer dapat rusak dan tidak bisa berjalan, dan sebagainya. Beberapa hal ini saja dapat memicu sebuah pertanyaan, apa yang dapat kita lakukan untuk melindungi data atau dokumen penelitian kita? (lebih…)

Aku dan Workspace

Setahun belakangan ini, aku sedang membiasakan menggunakan sistem operasi Linux untuk keperluan sehari-hari. Sebelum kulanjutkan cerita ini lebih jauh, aku tegaskan bahwa posisiku dalam perang dingin Open Source dan proprietary software adalah netral. Maksud netral di sini adalah aku menganggap masalah perang dingin ini adalah masalah pilihan, pilih sistem yang tepat sesuai dengan kebutuhan.

Oke, kembali ke cerita utama. Setahun belakangan ini, aku sedang membiasakan menggunakan sistem operasi Linux. Dari beberapa pilihan distro (distribusi) Linux yang beraneka ragam, ada tiga distro favorit yang pernah kugunakan, yaitu OpenSUSE, Fedora, dan Ubuntu. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku pun memilih distro favorit sejuta umat, yaitu Ubuntu. (lebih…)

NoSQL

Tanpa disadari, ternyata aku semakin jarang menulis hal-hal yang berbau teknis di blog ini. Jadi dengan tulisan ini, aku mencoba untuk menulis hal yang sedikit teknis. Tulisan ini hanya sebuah pengantar ke NoSQL, dibuat salah satunya untuk mengakomodasi keingintahuan mas miftahgeek dalam postinganku sebelumnya beberapa hari yang lalu.

Apa itu NoSQL?

Menurut Wikipedia, NoSQL adalah sebuah konsep mengenai penyimpanan data non-relasional. Berbeda dengan model basis data relasional yang selama ini digunakan, NoSQL menggunakan beberapa metode yang berbeda-beda. Metode-metode tersebut menurut Dwight Merriman, salah satu kontributor MongoDB, di antaranya adalah:

  • Key-value stores, more or less pure. I.e., they store keys+BLOBs (Binary Large OBjects), except that the “Large” part of “BLOB” may not come into play.
  • Table-oriented, more or less. The major examples here are Google’s BigTable, and Cassandra.
  • Document-oriented, where a “document” is more like XML than free text. MongoDB and CouchDB are the big examples here.
  • Graph-oriented. To date, this is the smallest area of the four. I’m reserving judgment as to whether I agree it’s properly included in HVSP and NoSQL.

(lebih…)

Tiga Kerajaan, Taiko, dan Nusantara Online

Game itu pertama kali diperkenalkan temanku ketika aku masih duduk di bangku SMA. Sejujurnya, aku hampir tidak pernah bermain game PS2 sebelumnya. Namun game ini ternyata benar-benar menarik perhatianku. Game tersebut berjudul Dynasty Warriors. Game ini berlatar belakang legenda tiga kerajaan di negara China. Bercerita tentang tiga kerajaan di China, pasti tak bisa terlepas dari buku legendaris Romance of the Three Kingdoms. Buku ini ditulis oleh Luo Guanzhong pada abad ke 14, menceritakan kisah sejarah penyatuan kerajaan-kerajaan di China. Walaupun aku belum pernah membaca buku ini, game tersebut sedikit banyak membantuku memahami sejarah tiga kerajaan di China.

Nah, ternyata selain Dynasty Warriors, si developer game, KOEI, juga membuat beberapa seri lain yang tak kalah menarik. Salah satunya adalah Samurai Warriors. Berbeda dengan Dynasty Warriors, Samurai Warriors mengambil latar belakang penyatuan Jepang. Karena belum pernah memainkannya, aku sebenarnya tak tahu tentang sejarah Jepang ini. Namun tiba-tiba aku menemukan buku ini di pojok sebuah rak buku di perpustakaan. Buku ini memiliki ketebalan yang setara dengan kamus. Buku ini berjudul Taiko. (lebih…)