Dvorak!!

Semua bermula ketika saya membaca sebuah artikel tulisan si Matt Mullenweg (siapa hayoo??) yang menyatakan bahwa dirinya adalah seorang Dvorak typist. Artikel tersebut kurang lebih menceritakan tentang bagaimana dirinya berpaling dari keyboard layout QWERTY ke Dvorak, beserta beberapa alasan dan manfaat yang ia rasakan. Penasaran, saya pun mencari tahu tentang keyboard layout Dvorak dan menemukan beberapa hal yang menarik.

  • Layout keyboard standar QWERTY awalnya digunakan untuk menghindari kemacetan ketik pada mesin ketik. Permasalahan ini sudah tidak ditemui pada komputer (WikiHow).
  • Layout keyboard Dvorak didesain berdasarkan penelitian dari August Dvorak dan William Dealey. Penelitian ini mengkaji huruf-huruf yang sering digunakan (dalam bahasa Inggris). Huruf-huruf tersebut ditempatkan pada lokasi home row (baris awal atau baris tengah), sehingga lebih cepat diakses.
  • Layout Dvorak dipercaya dapat mengurangi resiko cedera saat mengetik, seperti Carpal Tunnel Syndrome dan Repetitive Strain Injuries. Jika teman-teman sering merasakan sakit di pergelangan tangan akibat mengetik, mungkin teman-teman harus mulai berhati-hati.
  • Pengguna Dvorak melaporkan bahwa kecepatan mengetik mereka meningkat bila dibandingkan dengan menggunakan keyboard QWERTY. Hal ini disebabkan distribusi huruf yang sesuai dengan frekuensi pemakaian.

Dvorak Layout

Secara pribadi, saya tertarik untuk mencoba menggunakan keyboard layout Dvorak. Mungkin nanti setelah kuliah saya selesai, saya akan mencoba belajar mengetik lagi menggunakan keyboard Dvorak. Sebagai penutup, silahkan teman-teman membaca sebuah komik yang didedikasikan untuk keyboard Dvorak.

Bodoh?

Pagi ini, aku mendapatkan kabar bahwa terjadi gempa di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Karena penasaran, aku pun membuka situs detik.com untuk mendapatkan informasi. Bukannya berita mengenai gempa yang aku temukan, melainkan sebuah artikel yang cukup mengusik diriku. Artikel tersebut berjudul: ‘Facebook-an Bikin Pintar, Twitter-an Bikin Bodoh’.

Artikel tersebut menyamakan aktivitas ber-Facebook dengan bermain game Total War dan Sudoku. Ketiganya dipercaya dapat merawat working memory:

Begitu juga dengan Sudoku dan juga Facebook. Mempertahankan hubungan dengan teman-teman di jejaring sosial ini dipercaya juga bisa ‘merawat’ working memory.

Sedangkan alasan mengapa Twitter dapat membuat bodoh adalah karena kecepatan arus informasi dalam waktu yang singkat.

“Pada Twitter Anda menerima gelombang informasi tiada henti, namun semuanya dibungkus dengan sangat singkat hingga Anda tak harus memprosesnya, ” ujar Dr Alloway seperti dilansirdetikINET dari Telegraph, Senin (7/9/2009).

 
Maksud dari “dibungkus dengan sangat singkat” mungkin adalah batasan 140 karakter pada status Twitter. Dan, memang arus informasi di Twitter sangat cepat, tapi bukankah Facebook juga tak kalah cepatnya?

(lebih…)

Repetitive Strain Injuries

“Kenapa tanganmu?”, tanya si Dudun pada si Anan.Sambil memijit-mijit tangan, “Ngga tahu nih, agak pegel..”, Anan menjawab.

“Wah jangan-jangan kamu kena RSI tuh. Kamu kan sering main komputer”.

“RSI? Apaan tuh??”, tanya si Anan penasaran.

RSI atau Repetitive Strain Injuries adalah sebuah istilah yang digunakan untuk mendefinisikan berbagai macam cedera pada otot, tendon, dan saraf (NHSDirect 2007). Cedera ini biasanya disebabkan oleh aktivitas yang membutuhkan gerakan yang berulang-ulang, misalnya mengetik atau mengeklik mouse. RSI juga sering disebut sebagai Upper Limb Disorder (ULD) karena dapat menyebabkan cedera pada bagian atas tubuh seperti leher, bahu, lengan, dan pergelangan tangan.

Beberapa gejala RSI adalah di antaranya:

1         Kaku atau nyeri pada bagian leher, bahu, atau punggung.

2         Rasa dingin, mati rasa, atau nyeri pada lengan, pergelangan tangan, atau jari.

3         Sering menjatuhkan benda atau kehilangan koordinasi pada lengan.

4         Lengan terasa lemah (susah untuk membuka tutup botol selai misalnya).

5         Secara tidak sadar, menghindari penggunaan tangan yang sedang cedera.

6         Menggunakan tangan yang tidak dominan lebih sering daripada sebelumnya.

7         Rasa nyeri yang dapat membangunkan tidur

Ada beberapa pendapat mengenai penyebab RSI. Beberapa di antaranya adalah:

1         Posisi tubuh yang kurang baik, termasuk di antaranya posisi tubuh dan lengan pada saat bekerja.

2         Stress, menimbulkan ketegangan pada otot yang dapat menghambat sirkulasi darah .

3         Gerakan berulang-ulang, meskipun hanya gerakan yang sederhana.

4         Kurang istirahat atau melakukan pekerjaan secara terus menerus.

5         Penyusunan perangkat yang kurang baik.

6         Getaran dari kendaraan atau peralatan.

7         Suhu udara dingin.

Lalu, bagaimana cara pencegahannya? Cara pencegahan yang cukup manjur untuk RSI adalah sikap posisi tubuh saat bekerja. Posisi duduk yang dianjurkan oleh Clay Scott untuk mencegah RSI adalah sebagai berikut:

1         Kaki        : datar pada lantai.

2         Lutut     : lurus terhadap kaki, membengkok pada sudut yang pas, dengan ruang beberapa inchi dari kursi.

3         Pelvis     : melengkung simetris, duduk dengan tulang duduk, dengan posisi pinggang tidak lebih rendah daripada posisi lutut.

4         Punggung bawah : ditopang oleh punggung kursi (jika kursi memiliki bentuk yang baik) atau oleh gulungan handuk.

5         Punggung atas : melengkung secara natural.

6         Bahu dan lengan : rileks dan berada di samping tubuh.

7         Leher    : melengkung simetris, ditopang oleh tulang belakang. Hati-hati jangan menyimpan ketegangan pada punggung atau dibawah dagu.

8         Kepala  : seimbang di bagian atas tulang belakang.

Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan dengan menggunakan posisi mengetik yang benar. Beberapa di antaranya yang perlu diperhatikan adalah:

1         Meluruskan pergelangan tangan saat mengetik. Semakin lurus pergelangan tangan, semakin sedikit tekanan pada tendon dan syaraf yang mengalir di pergelangan tangan. Keyboard belah dua mungkin dapat membantu menjaga agar pergelangan tangan tetap lurus.

2         Biarkan lengan mengambang. Artinya, jangan meletakkan pergelangan tangan pada meja, keyboard, atau wrist rest ketika sedang mengetik. Biarkan kedua lengan mengambang di atas keyboard. Posisi ini memiliki tiga keuntungan.

a         Membagi beban kerja dengan otot punggung.

b        Menjaga agar pergelangan tangan tetap lurus, yang sulit dilakukan jika pergelangan tangan berada pada wrist rest.

c         Memudahkan ketika akan menekan tombol yang sulit dijangkau (akan dijelaskan pada poin selanjutnya).

3         Jangan memaksakan jari. Jika ingin menekan tombol yang sulit dijangkau seperti CTRL, SHIFT, BACKSPACE, dll janganlah merentangan jari. Sebaliknya, gerakkan seluruh lengan dan gunakan jari telunjuk atau jari tengah untuk menekan tombolnya. Jangan gunakan satu tangan ketika ingin menekan dua tombol secara bersamaan, misalnya CTRL+X, SHIFT-Y. Berpikir dahulu sebelum mengetik untuk menghindari pengetikan ulang dan peng-edit-an. Gunakan sentuhan ringan saat mengetik, jangan menekan tombol terlalu keras. (cite).

Selain beberapa cara di atas, jangan lupa untuk beristirahat setiap satu jam sekali untuk relaksasi dan peregangan dan jaga agar lengan dan pergelangan tangan tetap hangat.

“Oh.. begitu ya..”

“Iya,, makanya kalau main game jangan lupa istirahat..”

References:

http://en.wikipedia.org/wiki/Repetitive_strain_injury

http://eeshop.unl.edu/rsi.html

http://www.stat.rice.edu/~cscott/rsi.html

http://www.nhsdirect.nhs.uk/he.asp?ArticleID=314 

http://rsi.websitehosting-services.co.uk/

http://www.bilbo.com/rsi2.html

http://www.life.ca/nl/40/rsi.html

http://www.tifaq.com/

Siap Persentasi?

Ilustrasi

Suatu hari, saya mendapatkan tugas sebagai salah satu panitia seminar yang diselenggarakan Departemen di mana saya belajar. Tugas saya salah satunya adalah menyediakan fasilitas untuk persentasi para pembicara, termasuk di antaranya menyediakan laptop. Tugas telah saya tunaikan dan acara pun dimulai.

Saat salah satu pembicara, yang kebetulan kakak kelas saya, memersentasikan hasil penelitiannya, saya agak heran. Ia menggunakan OLAP untuk melakukan analisis terhadap penelitiannya. Dalam demonya tersebut, ia juga memerlihatkan proses analisis dengan OLAP, padahal saya tahu bahwa software tersebut belum diinstal dalam laptop yang digunakannya. Seingat saya, waktu kedatangannya sangat mepet dengan waktu dimulainya seminar. Dan sepertinya ia tidak akan sempat melakukan konfigurasi supaya software yang digunakannya tersebut bisa berjalan pada laptop yang diletakkan di atas panggung.

Tingkat penasaran kadar tinggi membuat saya ingin mengecek laptop yang digunakan. Setelah acara selesai tentunya. Saya lebih heran lagi melihatnya. Tak ada software baru yang diinstal. Bagaimana mungkin, semenjak acara dimulai sampai selesai tidak terlihat ia meng-uninstall program, apapun itu, yang ia gunakan. Apakah yang sebenarnya terjadi?

 

Semakin dalam saya mencari direktori tempat semua makalah dan bahan persentasi seminar tersebut disimpan. Di lokasi ini masih saya temukan bahan persentasi kakak kelas saya tersebut. Saya tercengang melihatnya. Dalam direktori tersebut, saya menemukan semua software yang ia perlukan disertai sebuah script untuk memanggil software-software tersebut. Rupanya ia tinggal menjalankan script yang telah ia buat dan voila, persentasi pun dimulai.

 

Di tempatku bisa kok!

Melihat ilustrasi di atas, disimpulkan bahwa kakak kelas saya tersebut telah berhasil mengatasi apa yang Jeff Atwood katakan sebagai works on my machine syndrome. Tanpa disadari, sebagian dari kita-termasuk saya-masih belum bisa lepas dari belitan sindrom ini. Setelah program selesai, pengembang selalu dilanda kesulitan untuk mengkonfigurasikannya di komputer lain, terutama saat program akan dipersentasikan. Jadi tunggu apa lagi, mulailah membuat script dan siapkan persentasimu sekarang juga.

Jika… Maka…

Pernyataan pilihan jika… maka… (atau if… else…) adalah sebuah komponen yang sangat berpengaruh, baik dalam kehidupan kita sehari-hari, maupun dalam dunia pemrograman. Mengapa? Karena hidup ini penuh dengan pilihan… (lebih…)

Software

“Dun, punya program editing gambar ga?”

“Ada nih, mau yang mana ada yang gratis, ada yang open source..”

“Adanya apa aja?”

“Ada Paint.net yang gratis, ada juga gimp ma Inkscape yang opensource”

“Apa sih bedanya gratis ama opensource?”

(lebih…)