Pertarungan Terakhir

Hari Rabu besok, tanggal 6 Agustus 2008, aku akan mempertaruhkan studiku selama kurang lebih empat tahun di Ilkom IPB. Ini adalah pertarungan terakhir dan awal dari sebuah perjuangan mendapatkan gelar.

Tapi-tapi, ternyata kemaren dan hari ini, aku diserang oleh sakit. Panas, batuk, dan pusing. Mungkin karena malam minggu kemarin kehujanan. Aku harap kondisiku membaik saat hari Rabu. Sekarang, aku hanya bisa beristirahat.

Semoga lekas sembuh… 😀

AKOSS#1:Delapan Mahasiswa Bayangan (1)

Prolog

Cerita yang akan anda baca ini merupakan catatan perjalananku saat mengikuti Lomba ICT aka AKOSS di Semarang. AKOSS merupakan salah satu lomba penunjang PIMNAS XXI 2008. Penyelenggaraannya sendiri merupakan kali pertama dalam sejarah PIMNAS dan diharapkan kelanjutannya dalam PIMNAS selanjutnya.

Catatan yang akan anda baca ini hanya berupa coretan pendek berisikan opini diriku mengenai perjalanan ini. Rencananya catatan perjalanan ini akan kubagi menjadi dua episode. Bagian ini merupakan episode pertama, berisikan persiapan lomba dan dua hari pertama di Semarang. Bagian kedua nantinya akan berisikan kejadian dua hari terakhir, Closing Ceremony termasuk di dalamnya.

DISCLAIMER

Tulisan ini ditulis dengan menggunakan sudut pandangku. Segala kenarsisan yang mungkin akan terdapat pada tulisan ini mohon untuk dimaklumi. Have a nice read!! 😀

Hari 0

Hari ini, pukul delapan malam, rombongan PIMNAS IPB akan berangkat ke Semarang. Namun demikian, tim lomba ICT (rombongan Departemen Ilkom untuk lebih tepatnya) akan berkumpul terlebih dahulu pukul tujuh untuk mempersiapkan segala perlengkapan yang akan dibawa.

Rombongan IPB yang berasal dari Departemen Ilkom sebenarnya berjumlah tiga belas orang. Lima orang di antaranya mengikuti PKMT sedang delapan sisanya mengikuti lomba ICT. Dari tiga belas orang tersebut, satu orang dari tim PKMT tidak bisa ikut karena sakit (semoga lekas sembuh ya We..).Rombongan ini akan didampingi oleh dua orang dosen, yaitu Pak Firman dan Pak Hari.

Delapan orang peserta lomba ICT ini mendaftarkan diri ke dalam tiga kategori yang tersedia. Kategori tersebut adalah aplikasi Desktop, Web, dan kreasi Distro. Delapan orang dibagi ke dalam lima kelompok kecil. Tiga kelompok di kategori Web, dan satu kelompok pada kategori Desktop dan Distro.

Siang hari sebelum berangkat, aku membantu temanku yang masuk dalam kategori Distro untuk mempersiapkan komputer yang akan dia pakai. Insan, begitu ia dipanggil masih belum menemukan komputer Departemen yang cocok untuk menampilkan semua kemampuan distro INSANUX miliknya. Acara siap-siap ini untungnya mendapatkan dukungan dari Departemen, mulai dari Pak Jatmiko, Pak Firman, Pak Fatur, sampai Pak Pendi (Terima kasih banyak ya Pak!!). Acara ini akhirnya selesai mendekati Maghrib.

Badanku terasa segar setelah mandi. Rasa capek akibat acara siang hari tadi sudah berkurang. Aku masih punya waktu sekitar satu jam lagi sebelum kumpul di Departemen. Meski rombongan IPB baru akan berangkat pukul delapan, kami telah sepakat untuk berkumpul terlebih dahulu pukul tujuh. Kami mempersiapkan semua perlengkapan yang akan dibawa, lalu mengangkutnya ke GWW, titik keberangkatan.

Waktu satu jam yang tersisa kugunakan untuk mengecek email, blog, dan mempersiapkan barang-barang yang akan kubawa. Aku tak sabar untuk segera berangkat, karena kali ini, aku akan kembali ke kampung halamanku. Saat persiapan selesai, aku baru tersadar kalau bawaanku cukup banyak, satu buah backpack dan satu buah tas jinjing berisi pakaian. Untungnya, Syadid, teman satu kostku, berbaik hati mau mengantarku.

Ada empat orang Ilkom di kostku (ditambah dua orang penghuni gelap :p). Pandu, masuk dalam tim PKMT, dan aku akan ikut berangkat hari ini. Dua yang lain, Syadid dan Ferdi kebetulan memiliki kendaraan yang bisa dipinjam :D. Meski aku sudah memberitahu Pandu untuk berkumpul jam tujuh, ia memilih berangkat terlebih dahulu untuk mengerjakan urusannya.

Akhirnya aku pun berangkat ke Departemen. Syadid mengantarku dengan K 6441 YD-nya. Ketika melewati pintu masuk belakang IPB, Sebuah sepeda motor mencurigakan mengikuti kami. Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata itu adalah Ferdi!! Dia ternyata ikut juga untuk mengantarku. Rupanya ia memang sengaja membuat kami terkejut. Sambil tertawa-tawa karena berhasil mengejutkan kami, ia terus mengikuti kami. Ada rasa senang dan haru yang muncul ketika mengetahui mereka mengantarku (spesial terima kasih untuk Syadid and Ferdi).

Akhirnya, kami pun sampai Departemen. Hanya ada Mirza yang sudah datang, lain tidak. Pak Firman yang sedari siang menunggu di kantor mengatakan bahwa memang belum ada yang datang. Setelah memastikan ada anggota tim yang berada di GWW (which is Alvira), aku dan Mirza pun mengangkut perlengkapan kami ke sana. Dan sekali lagi, aku meminta bantuan para pengendara, Syadid dan Ferdi, yang bersedia menolong kami (Double Thanks!!).

Pukul delapan di GWW. Suasana masih agak sepi untuk ukuran jumlah orang yang akan berangkat dengan empat bis. Tidak adanya koordinasi sempat membuat bingung. Ada daftar yang bertuliskan nama dan bis yang akan dinaikinya. Rupanya tim ICT berbeda bis dengan tim PKMT. Delapan orang akan naik bis IV dan sisanya naik bis III. Meski demikian, kami masih sedikit kebingungan mengenai mekanisme pengangkutan perlengkapan. Pak Firman yang biasanya dapat kami tanyai tiba-tiba menghilang. Aku pun berinisiatif untuk menelepon beliau.

“Bapak sekarang ada di mana?”
“Saya sekarang sudah di dalam bis IV. Anak-anak suruh cepat masuk saja.”
gubrak!! Rupanya pak Firman sudah berada di dalam bis IV.

Dengan segera,aku mengajak rekan tim yang lain untuk mengangkut perlengkapan ke bagasi. Dan beberapa menit kemudian, kami pun sudah berada di dalam bis dan siap untuk berangkat.

Empat bis yang kami tumpangi adalah Pahala Kencana. Bis ini dikenal dengan bis yang menyediakan makan malam dalam separuh (atau seperempat ya?) perjalanan. Oleh karena itu, ketika official IPB memberikan makan malam, aku sempat curiga kalau bis ini nantinya tidak akan berhenti untuk makan malam. Teman-teman yang lain cuek dan langsung menghajar makan malam yang disediakan. Alih-alih makan, aku mencoba mengirimkan pikiranku ke alam mimpi secepat mungkin. I’m exhausted..

Bersambung…

KRI-KRCI 2008: GOVINDA!!!

Beberapa bulan sebelumnya..

Rif.. aku mangkat nang UI.

Pesan singkat dari temanku itu membuatku penasaran. Dan dengan bodohnya aku bertanya, “Kapan sampai di UI?

Maksudnya aku lolos babak Regional. Aku ikut ke tingkat nasional..

Oke,.. I’ll see you then.

Tenan ya..

It’s a promise

Jumat, 23052008, tengah malam

Kesadaranku pada benang tipis ketika Syadid masuk ke kamarku.

Rif, besok diajakin Lewe nonton KRI di UI

Hah?? Aku lupa! Besok ya??

Yap

Aku benar-benar lupa. Padahal hari Sabtu, aku sudah membuat janji dengan beberapa rekanku. Aku pun berpikir dan meminta pertimbangan Syadid. Dan saatnya aku mengambil keputusan.

Sabtu, 24052008

Subuh baru saja menjelang, dan aku segera menghubungi rekan-rekanku tersebut. Aku meminta mereka untuk memajukan jam pertemuan. Dan untungnya, beberapa di antara mereka bersedia.

Oke, jadi begini rencanaku. Pukul 08.30, datang ke pertemuan. Berdiskusi sekitar satu jam, lalu bersama Syadid langsung meluncur ke UI.

Realitas: Datang pukul 08.30 lebih sedikit. Rekanku sudah ada yang menunggu di sana. Meminta maaf. Berdiskusi dan membuat slide sampai jam 09.30. Menunggu Syadid dan rekan-rekan yang lain.

Sambil menunggu Syadid, aku menghubungi Eri.

Er, kamu lombanya sekarang?

Enggak, aku baru ke sana tanggal 14 Juni. Yang sekarang itu baru tingkat Regional

Oh.. oke..

Eh, tolong perhatiin yang KRI ya. Siapa tahu ada lawan yang kuat

Oh,, Okay

Pukul 11-an, Syadid akhirnya datang. Dan kami pun meluncur ke UI.

(bersambung..)

Unpublished 2007 – (early) 2008

Pada tahun 2007 dan awal tahun 2008, banyak sekali kejadian tak terduga yang terjadi. Namun karena keterbatasan waktu (dan keinginan untuk menulis), semua kejadian tersebut tidak sempat aku tuliskan di sini. Berikut ini beberapa kejadian yang aku anggap luar biasa dan (mungkin) akan kutulis secara lebih lengkap ke depannya.

Tinggal Tujuh

Tahun 2007 merupakan tahun duka khususnya untuk keluargaku. Pada tahun ini secara tak terduga dua orang pamanku (semuanya dari pihak ayah) dipanggil ke hadirat-Nya. Kejadian pertama menimpa Om Pur, yang bertempat tinggal di Batang, Jawa Tengah. Peristiwa ini terjadi pada bulan Agustus 2007 (CMIIW), saat aku sedang melaksanakan PKL di SEAMEO BIOTROP. Beliau meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Beberapa bulan kemudian, tepatnya di bulan Desember 2007, pamanku satu lagi menyusul. Om Dib, yang tinggal di kawasan Pasirkuda, Bogor, meninggal di rumah sakit karena sakit yang sudah lama dideritanya. Kejadian ini terjadi pada saat aku menjadi panitia Seminar POSS IPB di Baranangsiang. Semoga amalan mereka diterima Allah, swt. Amien..

Le Grand Voyage

Meniru judul sebuah film, di awal tahun 2008 tepatnya pada tanggal 4-6 Februari, aku mendapat kesempatan untuk melihat sisi lain Indonesia. Aku mendapatkan kesempatan langka untuk mengunjungi pulau Kalimantan. Daerah yang menjadi tempat kunjungan utama adalah Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Untuk mencapai kabupaten ini, aku melakukan perjalanan darat, laut, dan udara (tidak berurutan) secara bergantian. Dan yang paling penting adalah, semuanya gratis!! Terima kasih untuk Pak Hari yang telah memberikan kesempatan. Perjalanan ini adalah perjalanan udaraku yang pertama (naik pesawat ^^). Catatan perjalanan selengkapnya akan segera di-post.

First Real Project

Untuk pertama kalinya, aku mendapatkan proyek. Proyek ini didapatkan atas kerjasama antara Departemen tempat aku mengambil Mayor dengan Departemen AGH. Di sini, aku mendapatkan pengalaman bagaimana berhadapan dengan klien yang sebenarnya. Walaupun proyek ini tidak terlalu besar, tapi aku mendapatkan pengalaman dan koneksi yang berarti. Proyek ini aku kerjakan dalam kurun waktu Desember 2007 – Januari 2008.

Kami di Kawah Putih!!Paris van Java!!

Akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Bandung. Perjalanan ini terjadi pada tanggal 22-23 Desember 2007. Perjalanan ini terselenggara atas ajakan saudara Udin (matur nuwun mas!!). Di kota ini, kami dipandu oleh mbak Tri (native) mengunjungi Cihampelas Walk dan melihat keadaan kota Bandung pada malam hari (little bit scary..). Kami juga mengunjungi kawasan wisata Ciwideuy (bener ga ya tulisannya), (melewati) Kawah Putih, dan juga memetik strawberry di kebun. Beberapa foto perjalanan ini sudah aku masukkan ke dalam Photobucket.

Meet the Ilkomerz 41

Cipanas, 25-27 Januari 2008. Akhirnya Ilkomerz 41 sukses mengadakan malam keakraban. Acara ini diselenggarakan untuk mengakrabkan kembali dan membuat kenangan indah sebelum kami akan berpisah (baca:lulus). Walaupun tidak semuanya bisa hadir, namun acara yang diselenggarakan di villa mas Gananda ini dapat dikatakan sukses. Terima kasih dan maaf (gomen nasai.. gomen nasai.. gomen nasai..) untuk panitia yang sudah bekerja keras.

Beberapa dari kisah di atas akan (sekali lagi, mungkin) aku tulis dalam waktu dekat. Jika tulisan tersebut tidak muncul-muncul paling tidak anda sudah mengetahuinya. Selamat membaca!!

Wisata Perut di Bumi Jogja

MM UGMpoetic write mode:on

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera, orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu

(Yogyakarta – KLA Project)

Suara pengamen yang serak-serak basah itu menemani perjalananku dalam bis menuju Semarang. Tak kukira sebelumnya, pada perjalanan kali ini aku akan mengunjungi kota ini.

free write mode:on

Berawal dari kakakku yang akan menjalankan ujian di kota ini, aku memutuskan untuk menemani. Bertiga dengan ibuku, kami pun berangkat. Sesampainya di sana, kami berpisah. Aku menginap bersama teman sejak SMA-ku, sedangkan ibu dan kakakku menginap di kost kerabat.

Mpek2Petualangan pun dimulai. Makanan pertama yang aku icip adalah Empek-empek di kantin FMIPA UGM (namanya Cluster kalo ga salah). Berawal dari rekomendasi sebuah teman, aku pun mencoba makanan ini. Rasanya: hmm..lumayan..

Aku menantang temanku ini untuk menunjukkan makanan yang aneh yang ada di kota jogja ini. Ia dengan mantap mengatakan mie ramen. Dengan penuh semangat, ia menceritakan tentang ukuran mangkoknya yang sangat besar hingga menyerupai baskom.

Penasaran, aku mengajak Febrian, tuan rumahku untuk mencari tempat mie ramen ini. Lokasi: Jakal KM.10, tepatnya di depan kebun buah naga. Nama tempat ini: Mie Ramen Sapporo.

Kedai makan ini berupa sebuah warung sederhana. Di sini, kita bisa makan sambil duduk di kursi atau duduk lesehan. Kami berdua memesan Shiyo Ramen. Ramen ini berisikan mie ramen (ya iyalah..), telur, rumput laut, dan daging asap. Ukuran mangkok yang digunakan emang agak jumbo bila dibandingkan dengan mangkok mie biasa.

Tampak atas Tampak samping

Porsi ini cukup untuk bertahan hingga esok hari….

poetic write mode: on

Pagi menjelang. Hari ini sama dengan hari-hari biasa. Keramaian jalan terlihat. Anak-anak sekolah terlihat di mana-mana. Motor berseliweran. Sementara itu, di sisi trotoar, aku dan Febrian duduk dengan santai.

MasjidKami berdua sedang menunggu dibukanya warung gudeg. Warungnya sebenarnya sudah dibuka, cuma entah mengapa tidak ada penjualnya. Waktu berlalu sangat lama ketika kita sedang menunggu. Kami pun mulai melihat-lihat keadaan sekitar. Saat mengangkat kepala, ada sebuah masjid yang terletak di belakang warung.

Senyum pun menghiasi muka kami ketika kami melihat nama masjid itu. Ash Shobar, mungkin kami diberi isyarat untuk bersabar. Saat aku berdiri untuk mengambil foto, aku mulai tertawa.

Temanku yang penasaran pun bertanya. Masih tersenyum, aku pun memperlihatkan foto yang aku dapat.

Dilarang

Gudeg

Akhirnya, sang penjual yang telah ditunggu-tunggu pun datang. Selamat Makan!!

Thanks to:

My Sis, My Mom, mas Febrian, mbak Naili dkk., dan semua orang yang telah membantu perjalananku kali ini.

 

That’s so Close

Free-write mode: on

Perjalananku ke Semarang kali ini terasa sedikit berbeda. Pada perjalanan ini, entah mengapa sebuah hal mengenai igo tiba-tiba menyembul.

Saat itu aku sedang meng-upload file. Sambil menunggu file terupload[1], aku iseng membuka YM. Tanpa sengaja, salah seorang pengurus organisasi igo yang ada di Semarang tiba-tiba muncul.

“Lagi di smg atw di bgr?”

“Lagi di smg. Knapa?”

“Wah kebetulan. Nanti jam 3 ada pertemuan igo di audit pleburan.”

“Yang bener?”

“Iya. Datang ya..”

“Jumlah pesertanya berapa orang?”

“Ada banyak kok.”

“Yang ngajar sapa? km?”

“Iya. Anda meragukan kemampuan saya?”

“Hmmm…”

Pukul tiga kurang tiga puluh. Angin menderu kencang di luar ketika ponselku tiba-tiba berteriak. Rupanya dari sang Pengurus.

“Rif, kayaknya ga jadi deh..”

“Emang kenapa?”

“Kayaknya mau hujan. Di sini anginnya udah kenceng banget.”

“Emang di sana udah ujan ya? Di sini baru angin doang.”

“Iya. Kayaknya anak-anaknya juga ga pada datang. Soalnya ujan.”

“Oh ya udah.”

ARGGHH!!, teriakku dalam hati. Gagal deh rencana kali ini.

Sehari setelahnya, aku mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi kota gudeg, Jogja. Di kota ini, ada sebuah organisasi igo daerah yang bernama YIC (Yogya Igo Club, CMIIW). Dari data yang aku dapat, YIC mengadakan pertemuan rutin pada hari Minggu sekitar jam 3 sore. Waktu yang tepat sekali.

Jadi, aku dan temanku yang kebetulan kost di Bogor menuju ke tempat pertemuan rutin tersebut, UPT perpustakaan UGM. Di sana, suasana sepi. Saat memarkir motor di pintu depan, hanya ada dua orang yang sedang duduk-duduk di pintu depan. Temanku tersebut memberitahukan padaku untuk melewati pintu samping.

Sebelum pintu samping, terdapat sebuah tempat parkir yang berisi beberapa buah sepeda motor. Di sana, ada dua orang yang terlihat seperti penjaga. Orang yang pertama duduk-duduk di dekat motor diparkir. Sedang orang yang kedua tampak sedang sibuk, entah apa yang dikerjakannya. Orang kedua melihat kami dan mulai mengajukan pertanyaan.

“Mau ke mana mas?”

“Mau ke lantai 2.”

“Ada acara apa?”

“Mau ke acara igo itu lho pak.”

“Oh ga ada orang mas di atas. Ga ada pengunjung.”

Dengan kecewa, kami pun pergi.

Dua hari berlalu di Yogya[2]. Hari Selasa datang. Ketika sedang online, ada request add dari seseorang yang belum aku kenal. Setelah aku approve, aku pun mulai bertanya.

“Maaf ini siapa ya?”

“Oh aku dapet idmu dari situs IGO”

“Ooo.. Aslinya mana?”

“Dari Muntilan”

“Km tahu ttg YIC ga? Biasanya pertemuannya hari Minggu kan?”

“Iya dulu pernah ikut. Biasanya hari Minggu.”

“Ini ada anak YIC yang lagi OL. Add aja, trus tanya ke dia”

“Thanks”

Setelah aku mendapatkan ID YM tersebut, segera aku meng-addnya. Setelah beberapa kali usaha[3], akhirnya ID tersebut sukses aku tambahkan ke daftar Messenger-ku.

“Salam kenal, km anak YIC kan?”

“Iya. Salam kenal.”

“Kemaren Minggu ada kumpul YIC ga?”

“Ada kok.”

“Loh kemaren aku datang kok g ada?”

“Km datang jam brp?”

“Jam 3.”

“Oh. Biasanya anak-anak baru pada datang jam 4-an.”

ARGGHH!! Gagal lagi[4]!


[1] Well, koneksi internetnya belum begitu kencang.

[2] Perjalananku di Jogja ‘mungkin’ akan kuceritakan nanti.

[3] Undangan pertama langsung ditolak. Baru setelah aku beri tambahan pada undangan kedua, ia baru menerima.

[4] Aku lupa dengan salah satu kebudayaan bangsa kita, suka nelat. Nelat? Maksudnya dengan sengaja telat.

Pertandingan igo 4 negara ke 5: Berangkat (1/3)

Berangkat

“Kis, besok minggu ada acara ga? ke JF yuk,, ada pertandingan igo”

Pesan singkat itu kukirim ke Kikis,, seorang temanku yang juga penggemar igo. Aku berharap ia akan mau menemaniku lagi. Penuh harap aku menunggu jawabannya. Nihil, tidak ada jawaban sampai keesokan harinya[1].

Siang hari berikutnya, aku bertemu dengan Kikis di sela-sela pergantian kuliah. Ia mengatakan akan pikir-pikir dulu. Aku akan dihubunginya nanti malam, yaitu Sabtu malam. Rupanua aku tak perlu menunggu selama itu. Sorenya ketika kami bepapasan, ia sudah menyanggupi untuk ikut ke JF. Aku bersorak dalam hati.

Keesokan harinya, 0730, aku menelepon Kikis. Kami mengatur pertemuan di BNI. Segera aku melangkahkan kaki menuju ke sana. Setelah menunggu beberapa saat di sana[2], kami pun berangkat mengendarai motor. Tujuan selanjutnya: Stasiun Bogor.

Sesampainya di stasiun, macet seperti biasa. Meski jalanan sudah diatur satu arah, namun kemacetan seolah tak dapat dihindarkan. Becak, gerobak, motor, dan angkot berbaur menjadi satu menumbuhkan kesemrawutan laten. Merangkak, akhirnya kami pun sampai di tempat parkir stasiun. Beberapa motor terparkir di sana. Penjaganya masih nampak muda, mungkin masih sekitar dua puluhan tahun. Ia menanyakan jam motor akan diambil. Dengan mantap Kikis menjawab, “Nanti sore mas”.

Stasiun BogorAntrian pembelian tiket tidak terlalu padat, bahkan bisa dibilang sepi. Ada seorang ibu-ibu yang hendak membeli tiket Pakuan Express di depanku. Dari percakapannya dengan mbak-mbak penjual karcis, aku tahu kalau kereta tersebut sudah datang dan akan segera berangkat. Segera aku memasukkan rupiah dan meminta dua lembar karcis.

Situasi dalam kereta sudah cukup ramai. Kami berjalan menyusuri gerbong sambil celingak-celinguk mencari bangku kosong. Tiba di gerbong berikutnya, kami beruntung: ada beberapa celah di antara penumpang. Saat hendak duduk, pandanganku melayang pada tiga orang yang duduk pada bangku lain yang sederet dengan bangku yang akan kami duduki.

Salah satu dari ketiga orang tersebut rupanya menyadari kehadiran kami. Ia memberitahu kedua temannya dan melambaikan tangannya kepada kami. Kami pun batal untuk duduk dan berjalan mendekati mereka bertiga. Ketiga orang tersebut adalah teman satu jurusan, satu angkatan, dan satu almamater kami: Maul, Indra, dan Riza. Setelah sedikit berbasa-basi, obrolan kami pun dimulai.

“Mau ke mana??”

“Mau ke Dufan..”

“Tumben.. emangnya kenapa?”

“mumpung lagi ada diskon..”

“Ooo..”

“Kalian mau ke mana??”

“Mau ke JF”

“JF??”

“Japan Foundation, Summitmas. Eh tahu ga Summitmas di mana??”

“Kata si Riku sih di Sudirman. Tahu ga Sudirman di mana??”

“Naik busway aja.. turun di mana ya?? Dukuh Atas kalau ga salah”

“Kalo ga coba tanya Khadi deh.. Kan rumahnya sekitar sana..”

Aku kemudian mencari nomor Khadi dan mengirimkan sms padanya.

Di, kamu tahu summitmas ga? Kalo naik busway turun di mana??

Menunggu balasan, obrolan pun mengalir.

“Eh rip, kamu blom pernah ke dufan kan? Ikut yuk”

“udah pernah kok.. kamu juga belum pernah liat lomba igo kan?? Ikut aja Ndra..”

“Emang lomba apa?”

“Katanya sih empat negara, tapi ga tau juga..”

….

BuswayTak terasa, akhirnya kami pun sampai di stasiun Jakarta Kota. Maul dkk. mengambil jalan ke kiri, sedangkan aku dan Kikis ke kanan. Keluar dari pintu stasiun, kami berbelok dan menyeberang jalanan yang ramai menuju halte busway. Di sekeliling, terdapat pagar seng yang menandakan bahwa area tersebut sedang direnovasi. Setelah membeli dua tiket, kami pun memasuki palang pintu masuk. Tiket busway tersebut sudah berwarna putih, hanya tampak bekas tulisan di sana. Saat memasukkan tiket, aku kebingungan mengenai posisi yang benar. Sisi manakah yang harus di atas, sisi mana yang harus di bawah[3]. Setelah diberi penjelasan sedikit (sangat sedikit) akhirnya aku pun berhasil melewati pintu dengan selamat diselingi senyum Kikis.

Meski jarak antara pintu masuk dengan pintu ke busway hanya sekitar satu meter, kami harus berjalan memutar sekitar lima meter untuk sampai ke sana. Ada bis yang sedang berhenti, sayangnya, saat kami sampai di pintu bis sudah berjalan. Kami pun menunggu giliran berikutnya. Beberapa menit kemudian, bis pun datang. Kami dengan penuh semangat memasuki bis yang lengang.

Bis busway berwarna merah dengan lambang garuda (atau elang?) di tubuhnya. Hawa sejuk menyelimuti kami ketika kami masuk. Ada petugas yang berjaga di depan pintu. Sekilas, bis ini seperti layaknya bis mini biasa. Bedanya, ada pendingin udara, tempat duduk di pinggir seperti di KRL, dan terawat (?). Kami pun duduk di kursi belakang menghadap ke depan. Saat bis berjalan, aku melayangkan pandanganku ke luar, melihat dan mencari apa yang membuat Jakarta bisa meningkatkan urbanisasi.

Tak terasa, kami pun sampai di Dukuh Atas. Kami pun turun dan bertanya-tanya. Ternyata Summitmas masih agak jauh. Kami seharusnya turun di Gelora Bung Karno. Alhasil, kami pun naik busway lagi[4]. Beberapa halte terlewati, hingga aku melihat gapura yang dituliskan dengan penuh kebanggaan.

GELORA BUNG KARNO

Kami pun turun dengan perasaan senang. Pada penjaga busway, kami bertanya mengenai Summitmas. Jawabannya membuat perasaan kami semakin bahagia, “Oh di sana mas. Naik jembatan penyeberangan ini saja, trus jalan sedikit ke sana.”, sambil menunjuk. Langkah kaki kami berdebam saat kami berjalan melewati jembatan logam. Di seberang, kami meloncat turun dan melanjutkan perjalanan kami yang tinggal sedikit.

Beberapa gedung tinggi kami lewati. Sampai pada akhirnya perjalanan kami berhenti di gedung Summitmas. Summitmas adalah dua gedung putih. Di tengah-tengahnya ada sebuah rumah makan yang menyediakan free hotspot area. Satu yang kulupa adalah di gedung yang manakah JF berada?? Satpam yang kami tanyai menunjukkan jalan. Kami harus melewati gang yang menjadi jalan pintas ke gedung tersebut. Satpam kedua menunjukkan arah pintu masuk gedung. Satpam yang ketiga menanyakan tujuan kami, “Mau kemana Mas?”

“Mau ke Japan Foundation di mana ya Pak??”

“Di lantai 2 mas. Oh tulis nama aja di sini Mas”, katanya sambil membuka stiker label.

“Saya perlu ga Pak?”

“Ga usah, satu aja. Oh ya ini dipakai”, sambil mengulurkan label.

“Dipakai di mana Pak??”

“Tempelkan aja di baju”

Label tersebut berstempel logo Japan Foundation dan kutempel di jaket.

“Mau main igo ya Mas??”

“Iya Pak.. terima kasih ya Pak”

“Iya Mas sama-sama”

Japan FoundationRupanya bapak ini tahu juga. Mungkin memang sudah terbiasa dengan anak-anak yang pergi ke JF untuk bermain igo. Kami masuk dan memencet lift untuk naik ke lantai 2. Hari libur, semua terlihat lengang. Lift pun kosong saat kami masuk. Setelah merasakan beberapa akibat hukum Newton, pintu pun terbuka. Mata kami disambut dengan dinding yang bertuliskan JAPAN FOUNDATION. Hawa igo semakin terasa ketika kami keluar dari lift. Kami berbelok ke kanan dan melihat pintu yang terbuka dan seorang petugas keamanan di dalamnya. Ia sedang duduk di depan sebuah meja dengan beberapa brosur di atasnya. Di samping kiri dan kanan terdapat spanduk sponsor. Kami pun masuk, mengambil beberapa brosur, dan terkejut.

BERSAMBUNG..

Sumber gambar:

Busway : http://jkt.detik.com/adv/busway/index.html

Japan Foundation : http://www.archivolto.it/contentmanager_data/images/F08112006142825.gif


[1] Maklum di kamar kost-ku ga ada sinyal.. 😀

[2] Yang menunggu Kikis, bukan aku .. soalnya aku harus ambil uang dulu..

[3] Pertama, this is my first time using busway, Kedua, there’s no such as manual.. Don’t make me think..

[4] Untung belum keluar dari halte. Jadi ga usah beli tiket lagi..

Menjemput DORA dan SUSE (II)

Hari II, Rabu 21 November 2007

 Aku memasuki ruang sidang kecil tempat seminar akan digelar. Banyak mahasiswa yang sudah hadir. Aku termasuk salah satu yang datang agak terlambat. Moderator, dosen pembimbing, dan pembahas sudah menempati tempat duduknya. Pembahas seminar kali ini adalah teman seangkatanku, yaitu Arif, Rahmat, dan Maul. Mereka tampaknya sedang memusatkan perhatian pada makalah yang diberikan oleh pembicara. Aku mendapati bangku yang masih kosong di sebelah Ferdi. Dan aku pun menempatinya sambil menyapa Ferdi. Tak lama kemudian seminar pun dimulai.

 Seminar diakhiri dengan penjelasan dosen pembimbing yang fenomenal. Seolah semua yang kami tidak pahami dengan mudahnya dijelaskan olehnya. Aku pun semakin kagum dengan dosen tersebut. Beberapa saat kemudian, para mahasiswa pun bubar dengan sedikit kekacauan dalam pembagian makanan[1].

 Aku keluar dari perpustakaan tempat ruang sidang tersebut berada. Di depan, terlihat Arif dan Ferdi sedang asyik membicarakan sesuatu. Kudekati mereka, rupanya mereka memunyai rencana untuk pergi ke KPSI. Arif menyadari kehadiranku dan mengajakku.

 “Pras, mau ikut ke KPSI ga?”.

 “Mau ngapain di KPSI?”.

 “Mau ngopi sama pak Heru”, jawabnya sambil memeragakan orang minum kopi.

 “Hah??”

 “Mau ngopi distro, maksudnya”, sambil terkekeh-kekeh.

 “Boleh deh”

 Tanpa sadar, aku telah mengikuti perjalanan mereka. Di tengah jalan, kami bercerita-cerita mengenai beberapa game dan unsur pendidikan di dalamnya. Mulai dari game PD II yang FPS maupun yang RTS. Akhirnya sampailah kami ke bangunan teraneh di kampus kami. Bangunan ini berbentuk seperti limas segiempat, dan diisi oleh rektor dan staf pendukungnya.

 Kami berjalan beriringan menuju ke kantor KPSI tempat biasanya pak Heru berada. Cuman ada satu yang terlupa, biasanya hari Rabu para dosen sedang menghadiri acara rapat di Departemennya masing-masing. Begitu juga pak Heru. Beliau sedang tidak berada di sana. Kami ditemui oleh mas-mas[2] yang sedang mengelola server.

 “Pak Herunya ada mas??”

 “Oh, lagi ga ada, ada apa ya??”

 “Kami mau mengopi distro linux yang didownload pak Heru kemaren”

 “oh yang chatting kemaren ya??”

 “Iya…”

 “Kemaren pak Heru bilangnya bagaimana??”

 “Kemaren katanya langsung datang ke KPSI”

 “Ga bilang tentang bayar 10 ribu??”

 “Hah!!”

 “Kemaren soalnya pak Heru meminta saya untuk membakarkan ke dalam DVD”

 “Kalau ngopi isonya saja gimana mas?? Kami bawa komputer kok”

 “Sebentar ya, saya hubungi pak Heru dulu.. Komputernya diidupin dulu aja”

 Sembari menunggu masnya menghubungi pak Heru, kami duduk di sebelah ruangan yang berlimpahan sinyal tak kasat mata. Di sana disediakan meja dan kursi untuk para mahasiswa (biasanya S2) untuk mengakses dunia maya dengan komputer mereka masing-masing.

 Tak lama kemudian, masnya datang dan mengatakan kabar yang tidak cukup baik.

 “Kata pak Heru, isonya mau dibakar dulu ke DVD, trus kalian bisa membeli DVDnya seharga 10 ribu[3]. Sekarang belum dibakar, jadi mungkin nanti siang saja kembali lagi ke sini. Pesannya tadi apa saja??”

 “Fedora 8 dan OpenSuse 10.3”

 “Ya nanti saya bakarkan”

 “Ya udah mas, terimakasih banyak..”

 Dengan langkah kecewa tapi masih menunggu harapan, kami pergi meninggalkan gedung tersebut. Di koridor milik fakultas terbesar di kampus, aku memutuskan untuk pulang langsung menuju kost. Aku kemudian berpamitan kepada Arif dan Ferdi yang mulai memasuki stan pameran tentang hewan di koridor tersebut.

Penantian menuju siang ternyata tidak secepat yang aku kira. Aku memasuki ruangan perpustakaan sendirian. Ferdi dan Pras memutuskan untuk pulang terlebih dahulu ke kost-an. Di sana seperti biasa, aku menjelajah dunia maya sekali lagi sambil berharap pak Heru dalam status online. Tak lupa aku mencantumkan status “menanti siang”. Sayangnya pak Heru tidak nampak. Rupanya beliau masih sibuk dengan Rapat rutin mingguan. Aku pun memutuskan untuk bermain igo sebentar untuk melatih ketajaman berpikir.

the gameHanya ada sedikit orang yang berada di room Indonesia, dan semuanya sedang sibuk bertanding di room lain. Aku pun segera membuka game baru di room Beginner dengan memberi status “Just for fun.. 😀“.

Dua tiga lawan datang, dan semuanya mengalami kemenangan. Kemenangan mereka memang brillian dalam mengatasi langkah-langkahku yang kacau. Sampai pada saat itu aku melihat seseorang dengan rank 10k[4] membuka room yang mensyaratkan lawan yang memiliki rank. Akupun mengaktifkan rankku (14k?[5]) dan memulai gameku dengannya.

Pertandingan berjalan alot dan monoton. Kami sama-sama saling membuat dinding, sampai suatu ketika invasinya ke daerahku membuahkan hasil dan mengurangi sebagian besar wilayahku. Nekat, aku melakukan invasi ke wilayahnya. Dan yang membuatku gembira, aku berhasil. Daerahnya berkurang cukup banyak. Ketika dihitung, aku masih menang 4.5 poin.

 

Kemenangan itu sempat membuatku terlupa bahwa aku ada janji pertemuan dengan dosen dan kuliah pada sore harinya. Kemenangan tadi setidaknya berhasil menghiburku yang tidak bisa kembali nanti siang.

 

(end of this day)

 


 

[1] Sudah menjadi kebiasaan, peserta yang menghadiri seminar akan mendapatkan makanan kecil dari pembicara. Semacam tanda terima kasih..

 

[2] Namanya baru akan aku ketahui pada hari ketiga nanti. Sabar ya…

 

[3] Semoga Open Source Software tidak membuat kita menjadi tamak…

 

[4] 10kyu, tingkatan kekuatan seseorang dalam igo. Rangking ini berkisar dari 30k-1k dilanjutkan 1dan sampai 10dan (dari lemah ke kuat).

 

[5] Dalam server ini, tanda tanya menunjukkan bahwa ranknya belum stabil. Untuk menghilangkannya perlu lebih banyak melakukan pertandingan berangking di papan 19, satu hal yang cukup memakan waktu menurutku.