Kereta… Kereta…

Pengalaman terakhir saya naik kereta dahulu kala adalah pada saat saya pergi bolak-balik Bogor-Jakarta. Waktu itu saya masih berstatus mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi negeri di Bogor. Kereta yang biasa dipakai tentu saja KRL Jabodetabek yang terkenal murah, ekonomis, penuh sesak, dan kotor (hehe). Perjalanan dari stasiun Bogor sampai ke stasiun Jakarta Kota bisa memakan waktu hampir 2 jam karena KRL ini berhenti di setiap stasiun.

Banyubiru pada perjalanan pertama

Beberapa tahun kemudian, saya pun akhirnya berkesempatan naik kereta lagi. Semua bermula saat Gunung Merapi yang legendaris itu meletus. Beberapa bulan setelah itu, jalur Yogyakarta-Magelang sering terputus karena aliran banjir lahar dingin yang masih sering terjadi (hingga tulisan ini dibuat). Saya sebagai salah satu orang yang sering pulang-balik Yogya-Semarang akhirnya mulai merasa was-was dan mencari jalur alternatif lain: kereta. (lebih…)

Backup Paranoia

Detik-detik menjelang awal penelitian akhir telah dimulai. Salah satu hal yang terpenting dalam melakukan penelitian adalah, tentu saja, membuat laporan penelitiannya. Laporan penelitiannya ini biasanya berupa dokumen teks, dibuat menggunakan program pengolah kata.

Beberapa tahun belakangan ini, dokumen teks rawan sekali terkena serangan virus. Virus-virus ini dapat merusak dokumen tersebut sehingga tidak dapat dibuka kembali. Laporan penelitian yang kita buat berbulan-bulan pun dalam waktu singkat dapat lenyap tak berbekas. Selain ancaman virus, ancaman kegagalan sistem juga dapat terjadi. Harddisk bisa rusak dan tidak dapat diakses, komputer dapat rusak dan tidak bisa berjalan, dan sebagainya. Beberapa hal ini saja dapat memicu sebuah pertanyaan, apa yang dapat kita lakukan untuk melindungi data atau dokumen penelitian kita? (lebih…)

Aku dan Workspace

Setahun belakangan ini, aku sedang membiasakan menggunakan sistem operasi Linux untuk keperluan sehari-hari. Sebelum kulanjutkan cerita ini lebih jauh, aku tegaskan bahwa posisiku dalam perang dingin Open Source dan proprietary software adalah netral. Maksud netral di sini adalah aku menganggap masalah perang dingin ini adalah masalah pilihan, pilih sistem yang tepat sesuai dengan kebutuhan.

Oke, kembali ke cerita utama. Setahun belakangan ini, aku sedang membiasakan menggunakan sistem operasi Linux. Dari beberapa pilihan distro (distribusi) Linux yang beraneka ragam, ada tiga distro favorit yang pernah kugunakan, yaitu OpenSUSE, Fedora, dan Ubuntu. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku pun memilih distro favorit sejuta umat, yaitu Ubuntu. (lebih…)

OpenSUSE: Setting Motorola W362 sebagai Modem

Motorola W362 adalah salah satu ponsel yang dapat digunakan sebagai modem. Ponsel ini menggunakan teknologi CDMA pada frekuensi 800MHz. Anda bisa melihat detail spesifikasi ponsel ini di situs Motorola.

Dalam tulisan ini, aku akan menjelaskan beberapa tahapan untuk mengatur ponsel W362 sehingga dapat digunakan sebagai modem. Pada tulisan ini, aku menggunakan OpenSUSE 11.1. Langsung saja, mari kita mulai eksperimen kita.. (lebih…)

Bodoh?

Pagi ini, aku mendapatkan kabar bahwa terjadi gempa di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Karena penasaran, aku pun membuka situs detik.com untuk mendapatkan informasi. Bukannya berita mengenai gempa yang aku temukan, melainkan sebuah artikel yang cukup mengusik diriku. Artikel tersebut berjudul: ‘Facebook-an Bikin Pintar, Twitter-an Bikin Bodoh’.

Artikel tersebut menyamakan aktivitas ber-Facebook dengan bermain game Total War dan Sudoku. Ketiganya dipercaya dapat merawat working memory:

Begitu juga dengan Sudoku dan juga Facebook. Mempertahankan hubungan dengan teman-teman di jejaring sosial ini dipercaya juga bisa ‘merawat’ working memory.

Sedangkan alasan mengapa Twitter dapat membuat bodoh adalah karena kecepatan arus informasi dalam waktu yang singkat.

“Pada Twitter Anda menerima gelombang informasi tiada henti, namun semuanya dibungkus dengan sangat singkat hingga Anda tak harus memprosesnya, ” ujar Dr Alloway seperti dilansirdetikINET dari Telegraph, Senin (7/9/2009).

 
Maksud dari “dibungkus dengan sangat singkat” mungkin adalah batasan 140 karakter pada status Twitter. Dan, memang arus informasi di Twitter sangat cepat, tapi bukankah Facebook juga tak kalah cepatnya?

(lebih…)

Tips Menulis Laporan: Ide

Beberapa hari belakangan ini, aku mulai menyadari bahwa menulis dengan bahasa Indonesia itu tidak semudah yang kubayangkan sebelumnya. Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan sehingga tulisan yang kita buat menjadi padu, beralur, dan yang terpenting: enak untuk dibaca. Untuk itulah, aku memiliki ide untuk berbagi ilmu dalam hal tulis menulis., khususnya menulis laporan, karya ilmiah, atau tugas akhir(?). Tips ini kutulis hanya berdasar pengalaman saja, jadi jikalau ada para pembaca sekalian yang ingin menambahkan: silahkan.. Dan marilah kita mulai..

Kumpulkan ide

Satu hal yang paling penting saat menulis adalah kita mengetahui apa yang akan kita tulis. Sebelum proses menulis dimulai, ada baiknya kita mengumpulkan terlebih dahulu semua bahan yang akan dijadikan acuan dalam karya kita nantinya. Bahan-bahan tersebut berfungsi sebagai gudang ide dari tulisan kita.

Bahan telah didapatkan. Langkah selanjutnya adalah membuat pokok pikiran utama. Pokok-pokok pikiran utama kita ini nantinya akan dikembangkan sehingga terbentuk karya yang utuh. Pokok pikiran utama sebaiknya singkat, dan memiliki hubungan dengan pokok pikiran lain (walau tidak selalu demikian).

Bagaimanakah cara menentukan pokok pikiran ini? Well, ada beberapa teknik yang bisa ditempuh. Salah satu teknik yang kusuka adalah brainstorming dengan bantuan mind map. Kita cukup menghujani mind map dengan berbagai ide yang muncul dalam benak kita. Apa yang akan kita bahas di bagian ini? Bagian ini sebaiknya membahas tentang apa? Kalau pokok pikiran seperti ini, kira-kira penjelasannya bagaimana? dst. Untuk mempermudah dalam membuat mind map, ada pengembang yang telah berbaik hati membuatkan Freemind. Membuat mind map dengan tangan atau dengan bantuan software: pilihan di tangan anda..:D

Ada orang berkata: “dua kepala lebih baik daripada satu kepala“. Walaupun pepatah itu belum sepenuhnya terbukti, tidak ada salahnya kita mencoba. Mulailah bertanya dan berdiskusi kepada teman kita. Tanyakan kepada mereka mengenai ide dan pokok pikiran yang telah kita buat. Mintalah masukan kepada mereka, siapa tahu kita mendapatkan ide segar.

Sampai di sini dulu ya, tunggu postingan selanjutnya. Ada masukan, tanggapan, sanggahan? Monggo, dipersilahkan..