Prey – Mangsa

Setelah beberapa saat menghilang, akhirnya saya berkesempatan untuk kembali menulis. Kali ini saya akan mereview sebuah novel luar biasa yang ditulis oleh penulis legendaris Michael Crichton. Yap, dia adalah penulis novel Jurassic Park yang mendasari film dengan judul yang sama. Ini adalah novel keempat  karangannya yang telah saya baca setelah Sphere, State of Fear, dan Next. Mungkin lain kali saya akan menulis review novel-novelnya yang lain. Berbeda dengan Naoki Urasawa yang bergenre psikologi-misteri, Crichton cenderung bergenre techno-thriller atau mungkin bisa disebut psikologi-misteri-fiksi sains. Dalam pembuatan novelnya, Crichton tak segan menggunakan referensi ilmiah. Ini yang membuat novelnya kaya dan menarik untuk disimak. Read the full post »

Wirausahawan Petani

Sebelumnya perkenankan saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1432 H. Saya mohon maaf jika ada tulisan dan komentar saya dalam  blog ini yang kurang berkenan di hati teman-teman blogger sekalian.

Saya membawa oleh-oleh dari perjalanan mudik tahun ini. Oleh-olehnya bukan berupa makanan, melainkan sebuah cerita. Ya, saya akan menceritakan dua orang sepupu saya yang berwirausaha. Bidang wirausaha yang mereka geluti mungkin agak jarang ditemui, yaitu bertani.

Sepupu petani saya yang pertama adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ia mengaku tidak mau disuruh-suruh oleh orang lain, sehingga ia memutuskan untuk menjalani hidup sebagai petani. Ia menggarap lahan pertanian milik keluarga dan telah berhasil beberapa kali panen. Berikut adalah cuplikan wawancara saya dengannya. Read the full post »

Dvorak!!

Semua bermula ketika saya membaca sebuah artikel tulisan si Matt Mullenweg (siapa hayoo??) yang menyatakan bahwa dirinya adalah seorang Dvorak typist. Artikel tersebut kurang lebih menceritakan tentang bagaimana dirinya berpaling dari keyboard layout QWERTY ke Dvorak, beserta beberapa alasan dan manfaat yang ia rasakan. Penasaran, saya pun mencari tahu tentang keyboard layout Dvorak dan menemukan beberapa hal yang menarik.

  • Layout keyboard standar QWERTY awalnya digunakan untuk menghindari kemacetan ketik pada mesin ketik. Permasalahan ini sudah tidak ditemui pada komputer (WikiHow).
  • Layout keyboard Dvorak didesain berdasarkan penelitian dari August Dvorak dan William Dealey. Penelitian ini mengkaji huruf-huruf yang sering digunakan (dalam bahasa Inggris). Huruf-huruf tersebut ditempatkan pada lokasi home row (baris awal atau baris tengah), sehingga lebih cepat diakses.
  • Layout Dvorak dipercaya dapat mengurangi resiko cedera saat mengetik, seperti Carpal Tunnel Syndrome dan Repetitive Strain Injuries. Jika teman-teman sering merasakan sakit di pergelangan tangan akibat mengetik, mungkin teman-teman harus mulai berhati-hati.
  • Pengguna Dvorak melaporkan bahwa kecepatan mengetik mereka meningkat bila dibandingkan dengan menggunakan keyboard QWERTY. Hal ini disebabkan distribusi huruf yang sesuai dengan frekuensi pemakaian.

Dvorak Layout

Secara pribadi, saya tertarik untuk mencoba menggunakan keyboard layout Dvorak. Mungkin nanti setelah kuliah saya selesai, saya akan mencoba belajar mengetik lagi menggunakan keyboard Dvorak. Sebagai penutup, silahkan teman-teman membaca sebuah komik yang didedikasikan untuk keyboard Dvorak.

Psikologi Misteri ala Naoki Urasawa

Semua diawali dari sebuah pertemuan tak sengaja. Waktu itu saya sedang mencari-cari bahan bacaan yang bergenre psikologi misteri di sebuah situs. Saya secara acak memilih sebuah manga (komik jepang red.) berjudul PLUTO. Saya agak terkejut karena manga ini sedikit banyak berhubungan dengan manga Astro Boy karya Osamu Tezuka. Manga Astro Boy sudah sangat terkenal sejak jaman dahulu dan  pernah ditayangkan di layar lebar pada tahun 2009. Hal yang menarik dari PLUTO adalah penggambaran yang lebih realistis dan penggunaan sudut pandang orang yang berbeda ketika menceritakan kisah tentang Astro Boy. Pembuat serial PLUTO tak lain dan tak bukan adalah (suara drum) Naoki Urasawa. Read the full post »

Ketika Waktu Bisa Diulang

Semuanya berawal ketika saya melihat sebuah iklan tentang film yang berjudul Source Code. Karena saya berkecimpung di dunia komputer (sort of), saya mengira film ini berkaitan dengan pemrograman dan kawan-kawannya. Iya, mungkin memang ada komputer yang terlibat, tetapi tidak dominan.

Film Source Code bercerita tentang seorang pria bernama Capt. Colter Steven yang tiba-tiba terbangun di dalam kereta api. Dia sempat kebingungan ketika ia disapa oleh teman satu gerbong, Christina namanya, sebagai Sean Fentress. Delapan menit kemudian, sebuah ledakan terjadi dan dia terbangun di tempat yang berbeda yang disebut kapsul. Di dalam kapsul, ia diberikan informasi bahwa dia memiliki misi untuk mengetahui siapa pelaku pengeboman kereta itu dengan cara kembali ke dalam ingatan jangka pendek Sean Fentress yang menjadi korban tewas. Colter hanya memiliki waktu selama delapan menit saja untuk mengungkap pelaku pengeboman tersebut. Setiap mengalami kegagalan dalam mengungkap kasus, Colter harus kembali lagi ke dalam kereta pada saat yang sama dengan orang-orang yang sama. Dunia dalam kereta ini merupakan dunia kreasi yang diciptakan menggunakan sistem yang disebut Source Code. Read the full post »

BECK: Let’s Rock n Roll

Jaman dahulu kala, saya pernah membaca sebuah seri manga berjudul BECK yang diterbitkan dalam serial Shonen Magz. Manga yang ditulis oleh Harold Sakuishi ini bercerita tentang seorang anak SMA bernama Koyuki yang merasa bosan dengan hidupnya karena tidak memiliki pencapaian apa pun. Dia kemudian menyelamatkan seekor anjing berbentuk aneh, bernama BECK, dan kemudian bertemu dengan Ryuusuke, seorang pemain gitar yang ingin mendirikan band rock terhebat. Koyuki kemudian mencoba mendengarkan lagu-lagu rock dan akhirnya tertarik juga untuk belajar bermain gitar.

Saya kemudian tidak mengikuti lagi cerita BECK tersebut karena sumber manga sudah tidak didapatkan lagi (maklum pinjaman, hehe). Saya hampir-hampir lupa ketika suatu ketika saya menemukan berita bahwa BECK telah dibuat versi Live Action Movie. Mengenang masa lalu, saya pun mencoba menontonnya. Read the full post »

Ketika Kura-kura Terbang

Beberapa hari yang lalu, saya diberitahu oleh seorang teman blogger tentang sebuah film menarik. Film tersebut berjudul Turtles Can Fly. Film besutan sutradara Bahman Ghobadi merupakan film yang dibuat di Irak pertama kali setelah kejatuhan Saddam Hussein.

Film Turtles Can Fly berkisah tentang kehidupan anak-anak di penampungan perbatasan Irak dan Turki pada saat invasi Amerika Serikat dan sekutunya ke Irak. Tokoh central film ini adalah Satellite, seorang anak yang diangkat menjadi pemimpin bagi anak-anak pengungsi lain. Ia memiliki keahlian dalam memasang antena dan mencari siaran berita. Keahlian inilah yang membuat ia dicari-cari orang-orang yang sedang haus akan informasi perang. Salah satu adegan yang lucu adalah ketika Satellite yang sok-sok jago berbahasa Inggris untuk menerjemahkan siaran berita berbahasa Inggris oleh para sesepuh dan kepala kampung. Dengan gaya yang penuh percaya diri, Satellite menerjemahkan berita tentang perang dengan ramalan cuaca bahwa besok akan hujan.  Read the full post »

Bogem

Rabu kemarin, saya diajak paman dan keluarganya untuk mengantarkan adik sepupu saya yang akan disupit (atau sunat, khitan). Mereka jauh-jauh datang untuk mengunjungi juru supit yang legendaris di Jogja, yaitu juru supit Bogem (dibaca: mBogem red.). Penasaran, saya memutuskan untuk ikut dan melihat tempat juru supit yang berdiri sejak tahun 1930-an itu. Siapa tau nanti kalau saya punya anak lelaki, bisa saya bawa ke tempat supit yang didirikan oleh Raden Ngabehi Notopandoyo tersebut. Read the full post »