Apa Bedanya Facebook dengan Twitter?

Pada suatu hari yang cerah, hari seperti biasanya, aku sedang duduk di depan layar komputer menatap tab-tab dalam browser yang terbuka. Sesekali aku mengetik sesuatu yang cukup penting, walaupun sebenarnya itu hanyalah sebuah update status di Twitter atau Facebook. Di belakangku, ada beberapa mahasiswa S3 yang sedang asyik mengobrol dan berdiskusi. Tiba-tiba sebuah pertanyaan terlontar dari salah seorang ibu mahasiswi, “Apa sih bedanya Twitter dengan Facebook?

Pikiranku kemudian melayang, memikirkan berbagai macam penjelasan yang kira-kira dapat kupakai sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut. Ada beberapa jawaban gila yang muncul, berikut adalah salah satunya. Lanjutkan membaca “Apa Bedanya Facebook dengan Twitter?”

Foto yang (tidak) Unik

24867_1392955074035_1536914272_31006776_722376_n“Dun, ada kejadian unik tuh. Ambil gambarnya yuk!”

“Kejadian unik apa?”

“Itu ada mobil yang parkir di bawah rambu dilarang parkir.”

“Hmm”

Mungkin teman-teman pembaca sekalian pernah menemukan kejadian “unik” seperti ilustrasi di atas. Ada mobil parkir di bawah rambu dilarang parkir, ada orang membuang sampah di dekat tanda dilarang membuang sampah, ada orang kencing di dekat tulisan dilarang kencing, ada orang merokok di ruangan dengan tulisan dilarang merokok, dan masih banyak lagi lainnya. Anehnya, jika aku dan teman-teman sekalian pernah menemukan kejadian macam ini, apakah kita dapat menyimpulkan bahwa kejadian ini telah kehilangan “keunikannya”?

Seringnya kejadian ini dalam kehidupan sehari-hari membuatku berpikir, ternyata banyak sekali di antara kita yang belum menyadari pentingnya sebuah peraturan. Peraturan yang baik pasti memiliki alasan yang baik dibalik pembuatannya. Banyaknya kejadian “unik” seperti ini menunjukkan kurang pedulinya kita pada kepentingan umum di mana peraturan tersebut dibuat. Hal ini bukan sesuatu yang layak untuk dibanggakan.

Mari kita mulai menghilangkan kejadian (tidak) “unik” ini menjadi benar-benar “unik” dan akhirnya tidak dapat kita temui lagi foto-foto yang (tidak) “unik”. Mari kita mulai dari diri kita sendiri, dari yang kecil, dan dari sekarang.

Foto Keluarga

Beberapa hari yang lalu saat aku pulang ke rumah, ayahku dengan penuh semangat menyuruhku untuk membuka foto di flash disknya. Foto tersebut beliau dapatkan dari kunjungannya beberapa hari sebelumnya ke tempat pamanku. Rupanya, pamanku ini memberikan foto dalam bentuk digital ini ke dalam flash disk ayahku tadi.

Aku penasaran, mengapa ayahku ini kok begitu bersemangat. Sesaat setelah aku membuka file foto tersebut, aku pun tahu. Foto tersebut ada dua jumlahnya. Semuanya foto keluarga, diambil mungkin sekitar 24 tahun yang lalu. Di foto pertama tampak ayah ibuku dengan dikelilingi saudara-saudari ayahku di belakang mereka. Di bagian tengah ada kakek dan nenekku yang masih tampak muda. Mereka semua berdiri di depan rumah ayah. Semuanya masih tampak sangat muda dan semuanya tersenyum gembira. Gigi-gigi dan mata mereka bersinar-sinar sehingga menyilaukan pandangan yang melihatnya (okay, I’m exaggerating ^^).

Foto kedua agak berbeda, kali ini fotonya diambil di dalam rumah. Di situ terlihat ayah dan ibuku duduk di kursi, ibuku menggendong kakakku yang masih bayi. Di belakang beliau berdua, adik-adik ayahku tampak gembira berdiri, tersenyum seperti foto pertama. Di mana diriku? Saat itu, mungkin aku masih dalam proses perencanaan.

Melihat kedua foto tersebut, mau tak mau aku teringat pada cerita ayahku saat masih muda. Tentang bagaimana ia bekerja keras sampai akhirnya bisa membeli rumah. Kemudian menikahi ibuku dan membantu kuliah adik-adiknya. Coba lihat, betapa bangga dan gembira wajah kakek, nenek, dan adik-adiknya. Aku hanya bisa merenung, apakah suatu saat nanti aku juga akan bisa seperti beliau? Saat ini masih duduk di bangku sekolah, thanks to him too who still believes in me. Belum pernah mengalami masa-masa kerja keras yang benar-benar keras.

Semoga suatu saat nanti aku bisa mengikuti jejakmu Ayah… Happy birthday… Semoga sehat selalu dan senantiasa berada dalam lindunganNya… I’ll make you proud..

NB. Karena beberapa alasan pribadi, foto keluarga yang dimaksud tidak saya tampilkan..

Gara-gara Feynman

Feynman? Siapa tuh?

Sejujurnya aku juga tak tahu sebelumnya. Pertemuan pertamaku dengannya terjadi beberapa bulan lalu secara tak sengaja. Saat itu, aku sedang mencari-cari toko buku yang mirip dengan model toko buku Barnes & Noble. Model yang kumaksud adalah model toko buku di mana pembeli bisa memilih dan membaca buku yang diinginkan dengan nyaman. Aku mendengar beberapa kabar bahwa ada toko buku seperti itu di dekat tempat aku menumpang hidup. Namanya MP Book Point.

Aku mengajak temanku untuk berkunjung ke toko buku ini. Ternyata, namanya telah berubah menjadi Mizan Book Corner. Di depan toko buku ini ternyata sedang ada diskon buku murah. Setelah melihat-lihat sebentar, kami pun memutuskan untuk masuk ke dalam toko. Toko ini ternyata tidak terlalu besar. Di samping kanan pintu masuk, terdapat kafe kecil. Buku Perahu Kertas menghiasi display utama toko. Aku masuk terus ke dalam dan menemukan ruangan yang disekat menjadi dua. Sebelah kiri untuk bagian novel dan buku umum, sedangkan sebelah kanan berisikan buku untuk anak-anak. Selain kedua ruangan itu, ada satu lagi ruangan di dalam untuk kegiatan yang sering diadakan oleh pihak toko. That’s all. Tidak ada ruangan lain selain kamar mandi dan musholla kecil. Lanjutkan membaca “Gara-gara Feynman”

Area X

Saya bukanlah seorang ahli literatur. Saya hanyalah seorang biasa yang suka membaca. Menurut pendapat saya, ada tiga buah jenis novel berdasarkan isi ceritanya: novel sastra, novel fantasi, dan novel pengetahuan. Novel sastra, sesuai dengan namanya, adalah novel yang ditulis dengan aturan-aturan dalam sastra. Novel jenis ini biasanya sering diperbincangkan di kalangan ahli sastra. Novel fantasi bersifat lebih ringan, dibuat berdasarkan daya khayal penulisnya. Novel ini biasanya berisikan kisah petualangan dan makhluk-makhluk fantasi.

Novel pengetahuan memiliki unsur keilmuan di dalamnya. Membacanya dapat menambah pengetahuan kita mengenai hal tertentu. Jenis novel terakhir ini kadang berbaur dengan jenis novel lain dengan batasan yang tidak jelas. Beberapa novel fiksi sains (science-fiction) dapat dikategorikan di dalamnya. Pengarang novel jenis ini di Indonesia masih sangat jarang. Dan saya kebetulan berkesempatan membaca salah satu novel jenis ini. Lanjutkan membaca “Area X”

Kesalahan Bukan pada Televisi Anda

“I find television very educating. Every time somebody turns on the set, I go into the other room and read a book.” ~Groucho Marx

Akhir pekan yang panjang ini, aku habiskan dengan menonton sebuah film seri pendek buatan Jepang. Film ini berkisah tentang seorang profesor fisika yang dimintai bantuan oleh kepolisian untuk memecahkan kasus-kasus yang aneh. Salah satu episodenya menceritakan tentang kasus terbakarnya kepala korban secara spontan. Setelah dilakukan penyelidikan, ternyata munculnya api tersebut bukan karena suatu hal yang mistis. Peristiwa tersebut dapat dijelaskan secara fisika. Penyebabnya adalah sinar laser yang ditembakkan tepat di kepala korban. Untuk memecahkan kasus ini, si profesor rela melakukan percobaan dengan sinar laser sebanyak 43 kali untuk memastikan peristiwa tersebut dapat terjadi. Lanjutkan membaca “Kesalahan Bukan pada Televisi Anda”

Syarat Cukup

Di dunia ini ada beberapa orang yang berbeda dengan orang kebanyakan. Berbeda di sini dimaksudkan dari segi bakat, potensi, ataupun intelegensia. Mereka orang-orang yang memiliki kelebihan bila dibandingkan dengan orang kebanyakan. Apakah kesuksesan selalu menemani mereka?

Outliers: the Story of Success menerangkan berbagai macam kejadian yang membuat orang spesial menjadi spesial. Ternyata selain kemampuan dalam diri mereka sendiri, ada faktor lain yang berpengaruh di dalam kehidupan mereka. Faktor-faktor inilah yang kemudian menyebabkan beberapa dari mereka sukses, atau tidak kurang sukses untuk ukuran orang biasa.

Perbandingan Nilai dan Sukses

Dalam buku ini ada beberapa fakta menarik yang diangkat melalui beberapa hasil penelitian yang pernah dilakukan. Satu hal yang menarik menurut saya adalah ketika ada peneliti yang membandingkan nilai kuliah dengan kesuksesan mereka dalam karier. Penelitian dilakukan dengan mendata mereka yang memiliki IPK di atas rata-rata dan beberapa yang lain yang memiliki IPK yang sedang-sedang saja.

Beberapa tahun kemudian, orang-orang tadi dicek kembali. Bagaimanakah kehidupan dan karier mereka setelah lulus dan memasuki dunia kerja. Ternyata, orang dengan IPK yang di atas rata-rata tidak semuanya mengalami kesuksesan dalam karier. Lalu yang menarik adalah mereka yang memiliki IPK sedang-sedang saja. Apakah mereka gagal dalam kehidupan dan karier mereka? Ternyata tidak. Kebanyakan dari mereka justru malah merasa berhasil dan nyaman dengan kehidupan mereka. Mereka masih mampu bersaing dengan orang lain. 

Asal Cukup

Mengapa mereka bisa sukses? Ternyata nilai akademis tidaklah menentukan kesuksesan seseorang. Mengapa? Dalam Outliers, diungkapkan sebuah fakta bernama syarat cukup. Syarat cukup ini adalah batas bawah atau minimum requirement yang diperlukan oleh seseorang untuk melakukan sesuatu. Kalau dalam dunia komputer, istilah ini sering digunakan sebagai standar terendah sebuah software agar dapat berjalan dengan lancar.

Begitu juga dalam kehidupan. Kita tidak perlu menguasai segalanya hanya untuk melakukan suatu pekerjaan. Kita hanya perlu memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukan pekerjaan tersebut. Mereka dengan nilai sedang tersebut telah memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk melaksanakan apa yang mereka kerjakan. Mereka sudah cukup bisa untuk melakukannya. Dan mereka pun bisa bertahan dalam kehidupan mereka. 

Jadi kawan, janganlah minder jika engkau tidak memiliki nilai yang tinggi. Yang utama, kita hanya perlu menguasai suatu bidang yang kita sukai. Jalankan dengan kemampuan terbaikmu, maka sukses akan menghampiri.