Kereta Lagi…

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi daerah khusus ibukota Jakarta. Setelah beberapa saat mencari moda transportasi yang murah dan nyaman, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba menggunakan kereta api. Tak terasa sudah hampir beberapa bulan saya tidak menaiki kereta api lagi. Saya sempat membaca berita bahwa PT Kereta Api Indonesia (KAI) memiliki kereta baru rute Yogyakarta – Jakarta. Saya berpikir, kenapa saya tidak mencobanya saja. (lebih…)

Iklan

Rusia di Jogja

Aku sebenarnya tidak suka dengan acara yang diadakan tanpa persiapan. Namun, ketika berada di jogja, dan temanku mengajak untuk menonton pertunjukan Rusia sesuai yang ditulis di koran, aku berkata dalam diri sendiri, mengapa tidak?

Dan di sinilah aku, di taman budaya kota Jogja. Di lantai bawah ada pameran lukisan, sedangkan di lantai atasnya pertunjukan dari Rusia akan diadakan. Sejenak kami masuk ke pameran lukisan, namun karena waktu pertunjukan akan segera dimulai, kami pun pergi ke lantai atas.

See? you can see nothing from this position, right?

See? you can see nothing from this position, right?

Ini adalah kali pertama aku masuk ke gedung ini. Ruangan ini berbentuk seperti aula pertunjukan dengan panggung besar di muka dikelilingi oleh deretan kursi yang berjajar rapi membentuk setengah lingkaran. Ruangan gelap, mungkin karena pertunjukan akan segera dimulai. Kami mengambil tempat duduk di tengah, dan ketika menyadari bahwa jarak ke panggung di luar jangkauan mata minus kami, kami pun maju hingga ke baris ketiga dari depan. Di posisi yang baru ini, kami baru menyadari bahwa acara ini adalah rangkaian dari acara Hari Kebudayaan Rusia. Pertunjukan ini adalah pertunjukan penutup di hari terakhir. Tak lama menunggu, acara pun dimulai. (lebih…)

Sang Pelatih

Nama aslinya Susilo[1]. Namun, oleh kami dan teman-temannya yang lain ia biasa dipanggil Susi atau Kotek[2]. Rambutnya lurus menghiasi wajahnya yang selalu tersenyum. Kata-katanya meledak-ledak ketika bercanda. Badannya yang gempal sungguh sesuai dengan cabang olahraga kegemarannya: basket. Dan dari sinilah cerita ini berawal.

Ujian praktek pada masa kami adalah sebuah prasyarat kelulusan SMA. Olahraga hanyalah salah satu di antara beberapa ujian praktek yang harus kami hadapi. Cabang olahraga yang akan diujikan kepada kami adalah lari jarak jauh, bola voli, lompat jauh, senam, dan tentu saja basket[3]. Pada ujian basket, kami harus menampilkan kebolehan kami dalam men-dribble bola secara zig-zag melewati tonggak, pivot, kemudian melakukan lay up untuk memasukkan bola ke dalam keranjang. Untuk membuatnya lebih menarik, ketiganya dilaksanakan secara berurutan dan sekuensial.

Tak perlu didesak, Susilo menawarkan dirinya membantu kami berlatih untuk ujian basket ini. Dan dengan senang hati, kami pun bersedia. Beberapa hari ke depan kami habiskan untuk berlatih dribbling, pivot, dan lay up. Tentunya di bawah bimbingan dan pengawasan ketat dari sang pelatih, Susilo. Sambil penuh gaya dan canda, ia menunjukkan kepada kami beberapa teknik yang dapat kami gunakan. Hingga tak terasa, hari itu pun tiba.

Ujian praktek olahraga dilaksanakan di empat tempat yang berbeda secara paralel. Ujian bola voli dan lompat jauh dilaksanakan di lapangan voli dan arena lompat jauh di halaman depan sekolah. Ujian senam dilaksanakan di aula besar dan ujian basket digelar di lapangan basket baru[4] di bagian belakang sekolah. Sementara itu, ujian lari jarak jauh sudah dilaksanakan seminggu sebelum keempat ujian ini. Murid yang melaksanakan ujian pada hari yang sama terdiri atas dua kelas yang dibagi atas empat kelompok. Masing-masing kelompok melaksanakan ujian yang berbeda secara paralel.

Tiga ujian telah kami jalani. Akhirnya sampailah kami pada ujian terakhir, basket. Kami pun berangkat menuju arena ujian. Lapangan basket ini terletak halaman belakang sekolah dan bersebelahan dengan kantin sekolah. Antara lapangan dan kantin hanya dibatasi oleh pagar kawat untuk menjaga agar bola tidak menyerang ke kantin. Namun pagar ini tidak menghalangi para pengunjung kantin untuk melihat apa yang terjadi di dalam lapangan.

Saat kami memasuki lapangan basket, bel tanda istirahat pertama telah berbunyi. Murid lain yang tidak ujian tampak berhamburan untuk mengisi bahan bakar mereka di kantin. Suasana kantin yang ramai mau tak mau membuat kami sedikit uneasy. Satu persatu nama kami pun dipanggil, termasuk aku. Sedikit tegang aku mencoba mempraktikkan apa yang diajarkan oleh sang pelatih. Saat men-dribbel zig-zag, bola sempat terlepas dari kendaliku, namun dengan segera aku berhasil menguasainya kembali. Pivot aku lakukan dengan perlahan, diikuti dengan lay up, dan bola pun masuk ke keranjang diiringi perasaan lega.

Sampai akhirnya, tibalah saatnya Susilo dipanggil. Diikuti sorak sorai dari kami yang memberi semangat, Susilo berjalan perlahan mendekati arena. Semua rintangan dilaluinya dengan sempurna. Aliran dribble berlanjut ke pivot yang juga berhasil. Kemudian, ia melangkah untuk melakukan lay up. Langkah pertama, kedua, dan ia pun melayang sambil mengangkat bola ke dekat keranjang. Mata kami yang sedari tadi tegang mengamati aksi sang pelatih pun seolah menahan napas ketika bola menyentuh ring. Dan bola pun keluar diikuti oleh pekikan Susilo. Kami tak percaya. Bola tidak masuk ke dalam keranjang. Susilo, sang pelatih, langsung terduduk lemas tak percaya. Kami pun segera berlari mendekatinya[5].


[1] Whazzup bro… How’re u doin’ now?

[2] Sampai sekarang pun aku masih belom mengetahui penyebabnya

[3] Maaf, yang teringat cuma beberapa cabang saja.

[4] Lapangan basket lama bersebelahan dengan lapangan voli dan terletak di halaman depan sekolah.

[5] Thanks bro, for everything. I’ll never forget about you and it..