RIP PgDn

Hari itu tidak hujan. Cuaca masih panas seperti biasanya. Tidak ada tanda-tanda bahwa sesuatu yang dahsyat akan terjadi. Aku duduk di meja kerja seperti biasa. Komputer lipat ada di sisi meja sebelah kiri. Gelas minuman berada pada sisi sebelah kanan. Mudah dijangkau jika tiba-tiba merasa haus ketika sedang mengerjakan sesuatu.

Aku masih mengerjakan beberapa pekerjaan, sama seperti malam-malam biasanya. Tenggorokan tiba-tiba meminta untuk dialiri air untuk mengurangi dahaga. Aku mengambil gelas yang berisi air dan mendekatkannya ke mulut. Satu teguk, dua teguk, tiga teguk. Air dalam gelas masih bersisa. Gelas kutaruh dalam posisi kurang sempurna. Gerakan tangan tiba-tiba menyenggol gelas dan air pun membasahi papan ketik komputer.

Aku terhenyak, lalu segera mengampil kain lap. Tombol sisi sebelah kanan papan ketik merasakan dinginnya air. Aku segera memberikan pertolongan pertama dengan membasuh mereka. Lalu dengan segera mematikan komputer. Kepalaku pusing, bibir komat-kamit memanjatkan doa semoga tidak terjadi apa-apa. Pikiran sempat melintas, apakah desain papan ketik ini spill-resistant? (*eh?) (lebih…)

Jejak Cahaya di Eropa

Tema perjalanan di luar negeri akhir-akhir ini banyak diangkat ke bentuk buku, baik yang dikemas dalam bentuk catatan perjalanan atau difiksikan berbentuk novel. Beberapa di antaranya inspiratif, mempengaruhi kita untuk ikut berpetualang ke negeri seberang. Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan untuk membaca kisah perjalanan yang berbeda. Kisah ini tertuang dalam buku 99 Cahaya di Langit Eropa.

Buku 99 Cahaya di Langit Eropa merupakan kisah perjalanan Hanum Salsabiela Rais, puteri dari Amien Rais. Saat itu, mbak Hanum sedang menemani suaminya yang sedang mengambil studi doktor di Austria. Jadi, ketika sang suami sedang kuliah atau mengikuti konferensi, mbak Hanum asyik berjalan-jalan menikmati Eropa (hehe.. :D). Fokus yang diangkat oleh mbak Hanum adalah jejak-jejak kejayaan Islam di Eropa pada masa lampau. Jejak kejayaan Islam tersebut beberapa di antaranya terlihat dari beberapa bangunan antik, seperti Mezquita-Catedral, masjid yang beralih fungsi menjadi gereja di Cordoba (Spanyol) dan Hagia Sophia, gereja yang sempat menjadi masjid sebelum dijadikan museum di Turki. Selain itu, diangkat juga beberapa lukisan yang ternyata secara tak sengaja mengandung beberapa tulisan yang meng-Esa-kan Allah. Beberapa misteri juga turut membumbui buku ini, seperti apakah mungkin bahwa Napoleon Bonaparte itu ternyata seorang muslim?

Penyajian yang ringan disertai beberapa referensi sejarah membuat saya teringat bahwa dahulu Islam sempat berjaya di Eropa. Namun demikian, kejayaan tersebut akhirnya runtuh dan sisanya hanya dapat terlihat di beberapa bangunan bersejarah. Buku ini berhasil membuat saya semakin ingin berpetualang ke negeri Eropa. Semoga Allah memberikan kekuatan dan mengijinkan saya untuk menginjakkan kaki di belahan Allah yang kita sebut Eropa. Amien.. 😀

N.B. Review ini juga ditulis oleh sahabat blogger di sini.

Backup Paranoia

Detik-detik menjelang awal penelitian akhir telah dimulai. Salah satu hal yang terpenting dalam melakukan penelitian adalah, tentu saja, membuat laporan penelitiannya. Laporan penelitiannya ini biasanya berupa dokumen teks, dibuat menggunakan program pengolah kata.

Beberapa tahun belakangan ini, dokumen teks rawan sekali terkena serangan virus. Virus-virus ini dapat merusak dokumen tersebut sehingga tidak dapat dibuka kembali. Laporan penelitian yang kita buat berbulan-bulan pun dalam waktu singkat dapat lenyap tak berbekas. Selain ancaman virus, ancaman kegagalan sistem juga dapat terjadi. Harddisk bisa rusak dan tidak dapat diakses, komputer dapat rusak dan tidak bisa berjalan, dan sebagainya. Beberapa hal ini saja dapat memicu sebuah pertanyaan, apa yang dapat kita lakukan untuk melindungi data atau dokumen penelitian kita? (lebih…)

Rubah atau Landak?

Saya yakin para pembaca tahu binatang yang bernama rubah atau landak. Kedua binatang ini ternyata memiliki arti yang khusus. Apakah arti khusus tersebut? Apakah perbedaan di antara keduanya?

Freeman J. Dyson, seorang fisikawan terkemuka, di dalam kata pengantar sebuah buku menulis perbedaannya sebagai berikut:

Ilmuwan besar ada dua macam–demikian menurut penyair abad ke-7 SM, Archilochus–tipe rubah dan tipe landak. Rubah tahu banyak trik, landak hanya tahu satu trik. Rubah suka mencoba semua hal, mudah bergonta-ganti perhatian. Landak hanya tertarik pada beberapa persoalan penting dan berkutat dengan persoalan-persoalan yang sama selama bertahun-tahun.
(Sumber: Feynman: Genius Fisika Paling Cool Sedunia, hal.5)

(lebih…)

Kesalahan Bukan pada Televisi Anda

“I find television very educating. Every time somebody turns on the set, I go into the other room and read a book.” ~Groucho Marx

Akhir pekan yang panjang ini, aku habiskan dengan menonton sebuah film seri pendek buatan Jepang. Film ini berkisah tentang seorang profesor fisika yang dimintai bantuan oleh kepolisian untuk memecahkan kasus-kasus yang aneh. Salah satu episodenya menceritakan tentang kasus terbakarnya kepala korban secara spontan. Setelah dilakukan penyelidikan, ternyata munculnya api tersebut bukan karena suatu hal yang mistis. Peristiwa tersebut dapat dijelaskan secara fisika. Penyebabnya adalah sinar laser yang ditembakkan tepat di kepala korban. Untuk memecahkan kasus ini, si profesor rela melakukan percobaan dengan sinar laser sebanyak 43 kali untuk memastikan peristiwa tersebut dapat terjadi. (lebih…)

Tips Menulis Laporan: Ide

Beberapa hari belakangan ini, aku mulai menyadari bahwa menulis dengan bahasa Indonesia itu tidak semudah yang kubayangkan sebelumnya. Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan sehingga tulisan yang kita buat menjadi padu, beralur, dan yang terpenting: enak untuk dibaca. Untuk itulah, aku memiliki ide untuk berbagi ilmu dalam hal tulis menulis., khususnya menulis laporan, karya ilmiah, atau tugas akhir(?). Tips ini kutulis hanya berdasar pengalaman saja, jadi jikalau ada para pembaca sekalian yang ingin menambahkan: silahkan.. Dan marilah kita mulai..

Kumpulkan ide

Satu hal yang paling penting saat menulis adalah kita mengetahui apa yang akan kita tulis. Sebelum proses menulis dimulai, ada baiknya kita mengumpulkan terlebih dahulu semua bahan yang akan dijadikan acuan dalam karya kita nantinya. Bahan-bahan tersebut berfungsi sebagai gudang ide dari tulisan kita.

Bahan telah didapatkan. Langkah selanjutnya adalah membuat pokok pikiran utama. Pokok-pokok pikiran utama kita ini nantinya akan dikembangkan sehingga terbentuk karya yang utuh. Pokok pikiran utama sebaiknya singkat, dan memiliki hubungan dengan pokok pikiran lain (walau tidak selalu demikian).

Bagaimanakah cara menentukan pokok pikiran ini? Well, ada beberapa teknik yang bisa ditempuh. Salah satu teknik yang kusuka adalah brainstorming dengan bantuan mind map. Kita cukup menghujani mind map dengan berbagai ide yang muncul dalam benak kita. Apa yang akan kita bahas di bagian ini? Bagian ini sebaiknya membahas tentang apa? Kalau pokok pikiran seperti ini, kira-kira penjelasannya bagaimana? dst. Untuk mempermudah dalam membuat mind map, ada pengembang yang telah berbaik hati membuatkan Freemind. Membuat mind map dengan tangan atau dengan bantuan software: pilihan di tangan anda..:D

Ada orang berkata: “dua kepala lebih baik daripada satu kepala“. Walaupun pepatah itu belum sepenuhnya terbukti, tidak ada salahnya kita mencoba. Mulailah bertanya dan berdiskusi kepada teman kita. Tanyakan kepada mereka mengenai ide dan pokok pikiran yang telah kita buat. Mintalah masukan kepada mereka, siapa tahu kita mendapatkan ide segar.

Sampai di sini dulu ya, tunggu postingan selanjutnya. Ada masukan, tanggapan, sanggahan? Monggo, dipersilahkan..