Kereta Lagi…

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi daerah khusus ibukota Jakarta. Setelah beberapa saat mencari moda transportasi yang murah dan nyaman, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba menggunakan kereta api. Tak terasa sudah hampir beberapa bulan saya tidak menaiki kereta api lagi. Saya sempat membaca berita bahwa PT Kereta Api Indonesia (KAI) memiliki kereta baru rute Yogyakarta – Jakarta. Saya berpikir, kenapa saya tidak mencobanya saja. (lebih…)

Jejak Cahaya di Eropa

Tema perjalanan di luar negeri akhir-akhir ini banyak diangkat ke bentuk buku, baik yang dikemas dalam bentuk catatan perjalanan atau difiksikan berbentuk novel. Beberapa di antaranya inspiratif, mempengaruhi kita untuk ikut berpetualang ke negeri seberang. Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan untuk membaca kisah perjalanan yang berbeda. Kisah ini tertuang dalam buku 99 Cahaya di Langit Eropa.

Buku 99 Cahaya di Langit Eropa merupakan kisah perjalanan Hanum Salsabiela Rais, puteri dari Amien Rais. Saat itu, mbak Hanum sedang menemani suaminya yang sedang mengambil studi doktor di Austria. Jadi, ketika sang suami sedang kuliah atau mengikuti konferensi, mbak Hanum asyik berjalan-jalan menikmati Eropa (hehe.. :D). Fokus yang diangkat oleh mbak Hanum adalah jejak-jejak kejayaan Islam di Eropa pada masa lampau. Jejak kejayaan Islam tersebut beberapa di antaranya terlihat dari beberapa bangunan antik, seperti Mezquita-Catedral, masjid yang beralih fungsi menjadi gereja di Cordoba (Spanyol) dan Hagia Sophia, gereja yang sempat menjadi masjid sebelum dijadikan museum di Turki. Selain itu, diangkat juga beberapa lukisan yang ternyata secara tak sengaja mengandung beberapa tulisan yang meng-Esa-kan Allah. Beberapa misteri juga turut membumbui buku ini, seperti apakah mungkin bahwa Napoleon Bonaparte itu ternyata seorang muslim?

Penyajian yang ringan disertai beberapa referensi sejarah membuat saya teringat bahwa dahulu Islam sempat berjaya di Eropa. Namun demikian, kejayaan tersebut akhirnya runtuh dan sisanya hanya dapat terlihat di beberapa bangunan bersejarah. Buku ini berhasil membuat saya semakin ingin berpetualang ke negeri Eropa. Semoga Allah memberikan kekuatan dan mengijinkan saya untuk menginjakkan kaki di belahan Allah yang kita sebut Eropa. Amien.. 😀

N.B. Review ini juga ditulis oleh sahabat blogger di sini.

Wirausahawan Petani

Sebelumnya perkenankan saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1432 H. Saya mohon maaf jika ada tulisan dan komentar saya dalam  blog ini yang kurang berkenan di hati teman-teman blogger sekalian.

Saya membawa oleh-oleh dari perjalanan mudik tahun ini. Oleh-olehnya bukan berupa makanan, melainkan sebuah cerita. Ya, saya akan menceritakan dua orang sepupu saya yang berwirausaha. Bidang wirausaha yang mereka geluti mungkin agak jarang ditemui, yaitu bertani.

Sepupu petani saya yang pertama adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ia mengaku tidak mau disuruh-suruh oleh orang lain, sehingga ia memutuskan untuk menjalani hidup sebagai petani. Ia menggarap lahan pertanian milik keluarga dan telah berhasil beberapa kali panen. Berikut adalah cuplikan wawancara saya dengannya. (lebih…)

Gara-gara Feynman

Feynman? Siapa tuh?

Sejujurnya aku juga tak tahu sebelumnya. Pertemuan pertamaku dengannya terjadi beberapa bulan lalu secara tak sengaja. Saat itu, aku sedang mencari-cari toko buku yang mirip dengan model toko buku Barnes & Noble. Model yang kumaksud adalah model toko buku di mana pembeli bisa memilih dan membaca buku yang diinginkan dengan nyaman. Aku mendengar beberapa kabar bahwa ada toko buku seperti itu di dekat tempat aku menumpang hidup. Namanya MP Book Point.

Aku mengajak temanku untuk berkunjung ke toko buku ini. Ternyata, namanya telah berubah menjadi Mizan Book Corner. Di depan toko buku ini ternyata sedang ada diskon buku murah. Setelah melihat-lihat sebentar, kami pun memutuskan untuk masuk ke dalam toko. Toko ini ternyata tidak terlalu besar. Di samping kanan pintu masuk, terdapat kafe kecil. Buku Perahu Kertas menghiasi display utama toko. Aku masuk terus ke dalam dan menemukan ruangan yang disekat menjadi dua. Sebelah kiri untuk bagian novel dan buku umum, sedangkan sebelah kanan berisikan buku untuk anak-anak. Selain kedua ruangan itu, ada satu lagi ruangan di dalam untuk kegiatan yang sering diadakan oleh pihak toko. That’s all. Tidak ada ruangan lain selain kamar mandi dan musholla kecil. (lebih…)

Email!

AROBAZE

Aku percaya bahwa hidup itu adalah sebuah perjalanan. Perjalanan ini terdiri atas berbagai macam petualangan yang selalu dapat kita pilih sesuai dengan keinginan kita. Dari sekian banyak petualangan, ada satu petualangan yang ingin kubagi kali ini. Petualangan di dunia blog yang telah mengantarkanku membuka berbagai macam petualangan lain yang tak kalah mengasyikkan. Lalu kenapa judulnya Email? Sabar bung, silahkan berpetualang membaca tulisanku sampai selesai ^^.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, aku memiliki blog di sini (yang sedang anda baca sekarang). Selain itu, aku juga memiliki blog lain yang kugunakan untuk melatih kemampuan berbahasa Inggris. Blogku yang satu ini juga kugunakan untuk berpetualang dengan dunia WordPress. Aku belajar untuk instalasi dan mengatur WordPressku sendiri. Selain itu, aku juga berpetualang dengan dunia domain dan hosting yang berbayar. Sekedar untuk merasakan bagaimana caranya dan menggali ilmu dari mas-mas customer service yang senantiasa bersedia membantu (he3.. maaf telah merepotkan ^^). (lebih…)

Rubah atau Landak?

Saya yakin para pembaca tahu binatang yang bernama rubah atau landak. Kedua binatang ini ternyata memiliki arti yang khusus. Apakah arti khusus tersebut? Apakah perbedaan di antara keduanya?

Freeman J. Dyson, seorang fisikawan terkemuka, di dalam kata pengantar sebuah buku menulis perbedaannya sebagai berikut:

Ilmuwan besar ada dua macam–demikian menurut penyair abad ke-7 SM, Archilochus–tipe rubah dan tipe landak. Rubah tahu banyak trik, landak hanya tahu satu trik. Rubah suka mencoba semua hal, mudah bergonta-ganti perhatian. Landak hanya tertarik pada beberapa persoalan penting dan berkutat dengan persoalan-persoalan yang sama selama bertahun-tahun.
(Sumber: Feynman: Genius Fisika Paling Cool Sedunia, hal.5)

(lebih…)

Rusia di Jogja

Aku sebenarnya tidak suka dengan acara yang diadakan tanpa persiapan. Namun, ketika berada di jogja, dan temanku mengajak untuk menonton pertunjukan Rusia sesuai yang ditulis di koran, aku berkata dalam diri sendiri, mengapa tidak?

Dan di sinilah aku, di taman budaya kota Jogja. Di lantai bawah ada pameran lukisan, sedangkan di lantai atasnya pertunjukan dari Rusia akan diadakan. Sejenak kami masuk ke pameran lukisan, namun karena waktu pertunjukan akan segera dimulai, kami pun pergi ke lantai atas.

See? you can see nothing from this position, right?

See? you can see nothing from this position, right?

Ini adalah kali pertama aku masuk ke gedung ini. Ruangan ini berbentuk seperti aula pertunjukan dengan panggung besar di muka dikelilingi oleh deretan kursi yang berjajar rapi membentuk setengah lingkaran. Ruangan gelap, mungkin karena pertunjukan akan segera dimulai. Kami mengambil tempat duduk di tengah, dan ketika menyadari bahwa jarak ke panggung di luar jangkauan mata minus kami, kami pun maju hingga ke baris ketiga dari depan. Di posisi yang baru ini, kami baru menyadari bahwa acara ini adalah rangkaian dari acara Hari Kebudayaan Rusia. Pertunjukan ini adalah pertunjukan penutup di hari terakhir. Tak lama menunggu, acara pun dimulai. (lebih…)

AKOSS#1:Delapan Mahasiswa Bayangan (1)

Prolog

Cerita yang akan anda baca ini merupakan catatan perjalananku saat mengikuti Lomba ICT aka AKOSS di Semarang. AKOSS merupakan salah satu lomba penunjang PIMNAS XXI 2008. Penyelenggaraannya sendiri merupakan kali pertama dalam sejarah PIMNAS dan diharapkan kelanjutannya dalam PIMNAS selanjutnya.

Catatan yang akan anda baca ini hanya berupa coretan pendek berisikan opini diriku mengenai perjalanan ini. Rencananya catatan perjalanan ini akan kubagi menjadi dua episode. Bagian ini merupakan episode pertama, berisikan persiapan lomba dan dua hari pertama di Semarang. Bagian kedua nantinya akan berisikan kejadian dua hari terakhir, Closing Ceremony termasuk di dalamnya.

DISCLAIMER

Tulisan ini ditulis dengan menggunakan sudut pandangku. Segala kenarsisan yang mungkin akan terdapat pada tulisan ini mohon untuk dimaklumi. Have a nice read!! 😀

Hari 0

Hari ini, pukul delapan malam, rombongan PIMNAS IPB akan berangkat ke Semarang. Namun demikian, tim lomba ICT (rombongan Departemen Ilkom untuk lebih tepatnya) akan berkumpul terlebih dahulu pukul tujuh untuk mempersiapkan segala perlengkapan yang akan dibawa.

Rombongan IPB yang berasal dari Departemen Ilkom sebenarnya berjumlah tiga belas orang. Lima orang di antaranya mengikuti PKMT sedang delapan sisanya mengikuti lomba ICT. Dari tiga belas orang tersebut, satu orang dari tim PKMT tidak bisa ikut karena sakit (semoga lekas sembuh ya We..).Rombongan ini akan didampingi oleh dua orang dosen, yaitu Pak Firman dan Pak Hari.

Delapan orang peserta lomba ICT ini mendaftarkan diri ke dalam tiga kategori yang tersedia. Kategori tersebut adalah aplikasi Desktop, Web, dan kreasi Distro. Delapan orang dibagi ke dalam lima kelompok kecil. Tiga kelompok di kategori Web, dan satu kelompok pada kategori Desktop dan Distro.

Siang hari sebelum berangkat, aku membantu temanku yang masuk dalam kategori Distro untuk mempersiapkan komputer yang akan dia pakai. Insan, begitu ia dipanggil masih belum menemukan komputer Departemen yang cocok untuk menampilkan semua kemampuan distro INSANUX miliknya. Acara siap-siap ini untungnya mendapatkan dukungan dari Departemen, mulai dari Pak Jatmiko, Pak Firman, Pak Fatur, sampai Pak Pendi (Terima kasih banyak ya Pak!!). Acara ini akhirnya selesai mendekati Maghrib.

Badanku terasa segar setelah mandi. Rasa capek akibat acara siang hari tadi sudah berkurang. Aku masih punya waktu sekitar satu jam lagi sebelum kumpul di Departemen. Meski rombongan IPB baru akan berangkat pukul delapan, kami telah sepakat untuk berkumpul terlebih dahulu pukul tujuh. Kami mempersiapkan semua perlengkapan yang akan dibawa, lalu mengangkutnya ke GWW, titik keberangkatan.

Waktu satu jam yang tersisa kugunakan untuk mengecek email, blog, dan mempersiapkan barang-barang yang akan kubawa. Aku tak sabar untuk segera berangkat, karena kali ini, aku akan kembali ke kampung halamanku. Saat persiapan selesai, aku baru tersadar kalau bawaanku cukup banyak, satu buah backpack dan satu buah tas jinjing berisi pakaian. Untungnya, Syadid, teman satu kostku, berbaik hati mau mengantarku.

Ada empat orang Ilkom di kostku (ditambah dua orang penghuni gelap :p). Pandu, masuk dalam tim PKMT, dan aku akan ikut berangkat hari ini. Dua yang lain, Syadid dan Ferdi kebetulan memiliki kendaraan yang bisa dipinjam :D. Meski aku sudah memberitahu Pandu untuk berkumpul jam tujuh, ia memilih berangkat terlebih dahulu untuk mengerjakan urusannya.

Akhirnya aku pun berangkat ke Departemen. Syadid mengantarku dengan K 6441 YD-nya. Ketika melewati pintu masuk belakang IPB, Sebuah sepeda motor mencurigakan mengikuti kami. Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata itu adalah Ferdi!! Dia ternyata ikut juga untuk mengantarku. Rupanya ia memang sengaja membuat kami terkejut. Sambil tertawa-tawa karena berhasil mengejutkan kami, ia terus mengikuti kami. Ada rasa senang dan haru yang muncul ketika mengetahui mereka mengantarku (spesial terima kasih untuk Syadid and Ferdi).

Akhirnya, kami pun sampai Departemen. Hanya ada Mirza yang sudah datang, lain tidak. Pak Firman yang sedari siang menunggu di kantor mengatakan bahwa memang belum ada yang datang. Setelah memastikan ada anggota tim yang berada di GWW (which is Alvira), aku dan Mirza pun mengangkut perlengkapan kami ke sana. Dan sekali lagi, aku meminta bantuan para pengendara, Syadid dan Ferdi, yang bersedia menolong kami (Double Thanks!!).

Pukul delapan di GWW. Suasana masih agak sepi untuk ukuran jumlah orang yang akan berangkat dengan empat bis. Tidak adanya koordinasi sempat membuat bingung. Ada daftar yang bertuliskan nama dan bis yang akan dinaikinya. Rupanya tim ICT berbeda bis dengan tim PKMT. Delapan orang akan naik bis IV dan sisanya naik bis III. Meski demikian, kami masih sedikit kebingungan mengenai mekanisme pengangkutan perlengkapan. Pak Firman yang biasanya dapat kami tanyai tiba-tiba menghilang. Aku pun berinisiatif untuk menelepon beliau.

“Bapak sekarang ada di mana?”
“Saya sekarang sudah di dalam bis IV. Anak-anak suruh cepat masuk saja.”
gubrak!! Rupanya pak Firman sudah berada di dalam bis IV.

Dengan segera,aku mengajak rekan tim yang lain untuk mengangkut perlengkapan ke bagasi. Dan beberapa menit kemudian, kami pun sudah berada di dalam bis dan siap untuk berangkat.

Empat bis yang kami tumpangi adalah Pahala Kencana. Bis ini dikenal dengan bis yang menyediakan makan malam dalam separuh (atau seperempat ya?) perjalanan. Oleh karena itu, ketika official IPB memberikan makan malam, aku sempat curiga kalau bis ini nantinya tidak akan berhenti untuk makan malam. Teman-teman yang lain cuek dan langsung menghajar makan malam yang disediakan. Alih-alih makan, aku mencoba mengirimkan pikiranku ke alam mimpi secepat mungkin. I’m exhausted..

Bersambung…