Intip: Natty Narwhal dan Unity

UbuntuCoFHalo halo…

Akhirnya setelah sekian lama saya menulis lagi tentang komputer. Hehe.. Kali ini saya akan bercerita mengenai rilis Ubuntu yang terbaru, yaitu Ubuntu 11.04: Natty Narwhal. Rilis Ubuntu edisi ini sangatlah spesial (pake telor). Mengapa? Karena pada edisi ini untuk pertama kalinya Ubuntu akan menggunakan Unity shell sebagai desktop environment default menggantikan GNOME. Setelah beberapa kali melihat preview Unity di berbagai video di Youtube, akhirnya saya mencoba untuk melakukan instalasi Natty. (lebih…)

Aku dan Workspace

Setahun belakangan ini, aku sedang membiasakan menggunakan sistem operasi Linux untuk keperluan sehari-hari. Sebelum kulanjutkan cerita ini lebih jauh, aku tegaskan bahwa posisiku dalam perang dingin Open Source dan proprietary software adalah netral. Maksud netral di sini adalah aku menganggap masalah perang dingin ini adalah masalah pilihan, pilih sistem yang tepat sesuai dengan kebutuhan.

Oke, kembali ke cerita utama. Setahun belakangan ini, aku sedang membiasakan menggunakan sistem operasi Linux. Dari beberapa pilihan distro (distribusi) Linux yang beraneka ragam, ada tiga distro favorit yang pernah kugunakan, yaitu OpenSUSE, Fedora, dan Ubuntu. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku pun memilih distro favorit sejuta umat, yaitu Ubuntu. (lebih…)

#4 mod_rewrite enabled

Dalam kisah kali ini, si Dudun ingin belajar cara cepat dan mudah untuk membuat aplikasi web dengan PHP. Ia ingin mencoba desain MVC yang sedang naik daun untuk pengembangan perangkat lunak. Dari penjelajahannya di dunia internet, si Dudun mendapatkan informasi beberapa utilitas yang bisa digunakan. Salah satunya adalah CakePHP.

Memasuki halaman awal CakePHP dan membaca kalimat pembukanya yang kocak, membuat si Dudun tertarik untuk menggali lebih dalam. Bagaimanakah MVC di CakePHP bekerja. Untuk itu, dengan semangat 20081, si Dudun memulai petualangannya dengan mengunduh aplikasi dan tutorial pendukungnya. Pertama kali, ia ingin mencoba tutorial yang ditulis oleh Duanne O’Brien. Setelah semua siap, si Dudun pun mulai mengekstrak file CakePHP ke dalam Document Root webnya2. Pada desktop Ubuntunya3, si Dudun memasukkan file hasil ekstraksi ke dalam folder cake pada lokasi /var/www.

Sesuai dengan petunjuk tutorialnya, ia kemudian mengubah hak akses terhadap file-file tersebut dengan perintah:

# chmod 777 /var/www/cake -R

Sehingga nantinya file tersebut dapat diakses oleh web server4. Kemudian, dengan sigap ia membuka Firefox dan memasukkan alamat http://localhost/cake. Ia bersorak girang ketika halaman yang muncul menampilkan keterangan mengenai CakePHP.

gagal!!

Semangat si Dudun membara lebih panas dan ia pun melanjutkan membaca tutorialnya. Tiba-tiba si Dudun mengerutkan kening. Ia membaca bahwa jika halaman yang tampil masih seperti yang di atas berarti ada konfigurasi yang belum benar, yaitu mod_rewrite.

Si Dudun kemudian melakukan pengecekan sesuai dengan petunjuk si tutorial. Pertama, ia mengecek keberadaan file .htaccess di folder tempat ia menginstall cake. Ia mengetikkan beberapa perintah ke dalam terminal.

# cd /var/www/cake

# cat .htaccess

Pesan yang muncul sudah sesuai dengan yang dituliskan di dalam tutorial, yaitu:

<IfModule mod_rewrite.c>

RewriteEngine on

RewriteRule ^$ app/webroot/ [L]

RewriteRule (.*) app/webroot/$1 [L]

</IfModule>

Setelah pengecekan pertama selesai, ia melakukan pengecekan kedua. Is mod_rewrite enabled for the server?

Ia pun memasuki lokasi di mana file konfigurasi apache berada, yaitu di /etc/apache2. Pengalaman masa lalu mengajarkan si Dudun bahwa konfigurasi apache berada pada file httpd.conf. Namun, ketika ia membuka file tersebut ia terkesiap. Tak ada satu tulisan pun di sana. Kebingungan, si Dudun pun mencoba membuka file .conf yang lain. Ketika membuka apache2.conf, ia pun tersenyum. Rupanya file konfigurasi apache berada di sana.

Dengan menggunakan fasilitas pencarian kata dalam gedit, ia mencari baris konfigurasi mod_rewrite. Ternyata baris tersebut tidak ada.. Si Dudun menggaruk-garuk kepala kebingungan.

Pantang menyerah, si Dudun mencoba melakukan investigasi. Insting detektif si Dudun memerintahnya untuk membuka folder mods-enabled. Walaupun sudah melakukan interogasi terhadap semua file, ia masih belum menemukan lokasi konfigurasi mod_rewrite. Insting detektif kembali berteriak. Ia menginstruksikan si Dudun untuk membuka folder mods-available. Ketika mata si Dudun menemukan kata rewrite, ia langsung bersorak gembira. Setelah memastikan bahwa itu adalah file konfigurasi yang dimaksud, si Dudun memasukkan file rewrite.conf tersebut ke dalam folder mods-enable. Belakangan diketahui bahwa semua file konfigurasi pada folder mods-enable akan di load oleh file apache2.conf. Proses kopi-mengopi selesai. Si Dudun masih dibingungkan dengan perbedaan icon antara file lain dengan file rewrite.conf yang baru saja ditambahkannya. Ternyata file-file yang lain hanyalah berupa link yang menuju ke file konfigurasi di dalam mods-available. Namun demikian, si Dudun merasa bahwa ini bukanlah sebuah masalah. Setelah merestart apache5, ia pun me-refresh Firefox. Krik…krik.. tidak ada perubahan.

Penyelidikan dilanjutkan dengan melakukan pengecekan “Does the server allow .htaccess override?”. Kali ini ia mencoba mencari definisi mengenai akses web root. Insting detektif beraksi kembali. Kali ini, ia menyuruh si Dudun membuka folder sites-enabled. Setelah mengetahui bahwa isi di dalam folder ini merupakan sebuah link, si Dudun pun menelusuri link ini. Link tersebut ternyata menuju ke folder sites-available. Pada folder ini, si Dudun mencoba membuka file default. Setelah mengetahui bahwa ini adalah file yang dicari, si Dudun pun mengubah akses6 override web root menjadi:

<Directory /var/www/>

Options Indexes FollowSymLinks MultiViews

AllowOverride all

Order allow,deny

allow from all

# This directive allows us to have apache2's default start page

# in /apache2-default/, but still have / go to the right place

#RedirectMatch ^/$ /apache2-default/

</Directory>

Si Dudun kemudian merestart apache dan merefresh Firefoxnya lagi. Ia pun bersorak ketika Firefox akhirnya menampilkan halaman yang benar.

berhasil

Sambil mengusap keringat di dahinya, si Dudun pun sadar bahwa petualangannya baru saja dimulai.

1no offense untuk yang memiliki semangat 45.. 😛

2document root web atau web root adalah tempat web server mengakses file. Terkadang disebut juga sebagai htdocs. di Linux, biasanya konfigurasi apache mengarahkan kepada /var/www

3si Dudun sedang terbawa semangat open source ^^

4Pada tutorial yang si Dudun dapatkan disebutkan isu mengenai masalah sekuriti, namun tidak dibahas secara rinci.

5terkadang menggunakan fasilitas System > Administration > Service, atau dengan mengetikkan perintah apache2 -k restart pada terminal.

6untuk mengubah file ini, diperlukan akses sebagai root. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengedit file sebagai root, yaitu dengan mengetik sudo gedit /etc/apache2/sites-available/default.