Teman vs Duit

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah artikel di Media Story. Artikel ini berisikan sedikit cerita di dalam buku autobiografi Paul Allen berjudul Idea Man. Sebagai tambahan informasi, Paul Allen mendirikan Microsoft tahun 1975 bersama Bill Gates. Cerita ini berisikan hubungan Paul Allen dengan Bill Gates yang merenggang selama menjalankan Microsoft. Berikut cuplikannya:

A fragment from the book, published by “Vanity Fair” magazine, tells how, in 1982, when Allen was suffering from cancer, Bill Gates tried to push him away from the company.

Bill Gates and Paul Allen founded Microsoft together. Although Allen thought that they are going to share the company in half, “Bill had other ideas in mind and he reserved 60% for him because he did more programming work. When the program was given to the NCR group, in return of 175,000 dollars, Gates claimed 64%”.

Microsoft Windows 1.0 page1Kutipan di atas sedikit banyak menggambarkan bagaimana kondisi pertemanan mereka setelah perusahaan itu didirikan dan menjadi besar. Uang menimbulkan kesenjangan dan membuat hubungan pertemanan mereka menjadi lebih jauh. Saya pun teringat cerita salah seorang teman saya, mas Awik, mengenai hal ini. Beliau bercerita pengalaman pribadinya tentang bagaimana pembagian keuangan yang tidak transparan pada proyek “teman” dapat membuat hubungan yang sebelumnya dekat dan hangat menjadi jauh dan dingin. Masing-masing pihak tidak ingin bertemu dengan pihak yang lain.

Namun demikian, memang mungkin tidak semua proyek “basah” bersama teman menjadi seperti ini. Ada banyak kasus di mana hal ini tidak terjadi. Salah satu contoh adalah hubungan antara Steve “Woz” Wozniak dengan Steve Jobs yang masih baik-baik saja hingga saat ini, meski Woz memilih untuk keluar dari Apple untuk menuruti impiannya.

Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini. Kita harus lebih berhati-hati dalam bermain “uang” dengan teman sendiri. Mungkin lebih baik jika kita bisa berlaku profesional dengan kontrak yang jelas dan transparansi pembagian keuntungan, meski itu dengan seorang teman. Hal ini mungkin bisa bermanfaat jika terjadi perselisihan di kemudian hari. Atau saran yang lebih ekstrim, lebih baik jangan bermain “uang” dengan teman. Bagaimana menurut pendapat anda?

Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

22 Komentar

  1. lebih baik jangan bermain “uang” dengan teman

    saya setuju dengan statemen yg ini, sebab saya pernah merasakan hal ini…
    salam kenal mas dari saya…

    Balas
    • sepertinya pengalaman seperti ini cukup banyak dijumpai ya mas?
      hehe.. salam kenal mas..🙂

      Balas
  2. Jobs dulu pernah ngibulin Woz juga loh.
    Jadi waktu itu Xerox pernah mengadakan lomba desain IC (atau apalah). Jobs minta tolong ke Woz, dealnya uang hadiahnya dibagi dua. Ternyata desain Wozniac menang. Tapi Jobs cuma ngasih 25% ke Woz😛

    Balas
  3. Business is business…. nothing personal.

    Asalkan bisa “men-sekuler-kan” pertemanan dengan bisnis, sepertinya ga jadi masalah. Tapi sepertinya susah sih emang… karena kalo sama teman, apalagi di jawa, ada budaya “karo konco ojo itung2an…” itu yang mungkin agak menjebak..
    Jadi kalo bisnis dengan teman, sebaiknya jangan sungkan untuk tetap profesional dan cermat..🙂

    Balas
    • halo kanaye..

      iya, memang harus tetep profesional meski itu dengan teman sendiri. Kontrak dan pembagian harus jelas di awal..😀

      Balas
  4. bisnis sama temen ya ada susahnya ada enaknya

    Balas
  5. Menurut saya hal ini mungkin saja terjadi. Masalah uang, perusahan, dan proyek kalau gak transparan bisa membuat persahabatan rusak. Memang, saling percaya adalah hal yang penting. Sangat penting. Salah satu pihak boleh curiga sama pihak lain, asal jangan memanfaatkan kebaikan (kepercayaan) untuk penipuan.😐

    Balas
  6. jangankan uang masalah pinjam-meminjam barang (apalagi uang) saja, bisa berakibat kesenjangan. *hasil dari baca Ranah 3 Warna.

    Balas
  7. T.T jadi teringat masa2 lalu. kesimpulannya: satu musuh itu terlalu banyak, dan 100 teman itu sangat sedikit. siapa yang bisa merubah teman jadi musuh? ya uang.
    satu kata, katakan tidak! untuk mengkomersilkan pertemanan dalam bentuk apapun. membayangkan saja ogah, misalkan gini, ada teman yg telah berpisah dg teman akrabnya lebih dari 5 tahun, e pas ketemu malah salah satu diantara mereka berusaha menghindar dari pandangan yang lain. hanya gara2 perselisihan masalah uang 5 tahun yang lalu. menyedihkan. bukankah seharusnya mereka saling berpeluk dan melepas rindu, T.T

    Balas
    • sabar mas…
      kalo yang bisa merubah musuh menjadi teman apa ya mas?😀

      Balas
      • kalau merubah musuh menjadi teman? hm.. apa ya? percintaan mungkin. dari benci menjadi cinta. haha..

  8. jaman skrg ya gtu emg banyak yg mentingin uang drpd temen

    Balas
    • iya mungkin mas.. tapi ga semua..
      masih ada orang-orang yang berada pada jalan yang benar..

      Balas
  9. “Mungkin lebih baik jika kita bisa berlaku profesional dengan kontrak yang jelas dan transparansi pembagian keuntungan, meski itu dengan seorang teman. Hal ini mungkin bisa bermanfaat jika terjadi perselisihan di kemudian hari”

    memang seharusnya begini, kawan!🙂

    Balas
  10. fi

     /  Mei 15, 2011

    ga punya uang buat dimainkan, ga mau kehilangan teman buat dipermainkan..
    *loh

    Balas

Ada apa di pikiranmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: