24

April 2004

Sekelompok anak berkumpul di musholla gedung C3 asrama putra. Beberapa orang tampak sibuk mengatur kelompok lain yang lebih muda usianya. Kelompok tersebut duduk melingkar sesuai instruksi dari beberapa orang di depan, agaknya mereka adalah senior dari kelompok tersebut. Beberapa orang dalam kelompok tampak masih diam dan takut-takut. Namun ada juga di antara mereka yang sudah mulai berkenalan dan membuka percakapan dengan orang di sekitarnya.

Satu orang, tampaknya pemimpin dari para senior, mulai memberi isyarat untuk diam dan memperhatikan. Ia mulai menjelaskan bahwa ia adalah mahasiswa jurusan yang sama dengan kelompok tersebut, hanya berbeda satu tingkat di atas para anggota kelompok. Ia kemudian mulai memperkenalkan teman-teman yang berada di sekelilingnya. Mereka rupanya tidak bertujuan untuk melakukan ospek, melainkan hanya ingin melakukan perkenalan sekaligus memberikan gambaran mengenai kehidupan yang akan para mahasiswa baru jalani selama kurang lebih empat tahun ke depan.

Para kakak tingkat tersebut mengajak para mahasiswa baru untuk memperkenalkan dirinya masing-masing. Mereka dipersilahkan menyebut nama, asal daerah, dan alasan mengapa mereka masuk ke jurusan mereka, Ilmu Komputer. Satu per satu, para mahasiswa baru dalam kelompok mulai memperkenalkan diri mereka masing-masing. Alasan-alasan yang muncul dari mulut mereka rupanya cukup menarik. Ada yang karena jurusan ini adalah jurusan yang cukup favorit, ada yang memang benar-benar berminat untuk mempelajari lebih dalam, ada juga yang tidak memiliki alasan khusus, seolah masuk di jurusan ini adalah sebuah takdir yang telah ditetapkan oleh sang Maha Kuasa.

Akhirnya, giliran si Dudun akan datang sebentar lagi. Dia diam berpikir mengenai alasan apa yang akan dia sampaikan. Ketika gilirannya tiba, ia pun mulai berbicara.

Ehm, nama saya si Dudun.. Saya berasal dari ***, alasan saya masuk ilkom (ilmu komputer pen.) karena saya suka bermain game.

Tak dinyana, mata orang-orang yang berada di sekitar si Dudun tiba-tiba berbinar. Terlihat jelas bahwa mereka juga penggemar game. Beberapa saat setelah acara perkenalan tersebut selesai, mereka pun saling mendekat dan mulai berdiskusi mengenai masalah game. Dan cerita si Dudun pun dimulai.

Mei 2010

ARW : Kalau kamu sih, pemrograman mah pinter. Saya ga ngerti kalo disuruh bikin program.
SD: enggak juga kok bu. Saya ini orangnya pemalas.
SD: Begitu menemui kebosanan sedikit, saya malas untuk melanjutkan. Ya, akibatnya ilmu yang didapat kurang begitu lengkap.
ARW: ah masa sih.. jadi pengen liat wajahmu pas bosen..
SD: Lho, bukannya tiap hari liat ya?
ARW: Ha? jadi tiap hari bosan dong?

Juli 2008

“Ini mas mie ayamnya”
“Oh iya pak, terima kasih”, jawab si Dudun.

Si Dudun sedang duduk di dekat gerai telepon umum yang disulap menjadi warung mie ayam bersama beberapa temannya. Saat itu malam sudah mulai larut, namun jalanan yang melingkari kampus masih terlihat ramai. Di seberang jalan, berbagai macam jasa yang melayani segala kebutuhan mahasiswa masih buka. Jasa seperti rental komputer, Internet, dan fotokopi masih ramai dipenuhi mahasiswa meski waktu jelang tengah malam sudah berada dalam hitungan menit. Mahasiswa-mahasiswa tersebut masuk keluar, membawa tas dan map tebal, sepertinya berisikan tugas-tugas yang harus mereka kerjakan. Beberapa di antara para mahasiswa tersebut bahkan ada yang masih menggunakan sepatu, tanda ia belum pulang ke tempat tinggal mereka. Meski kelelahan tergambar di raut mereka, semua masih terlihat bersemangat untuk menyelesaikan tugasnya secepat dan sebaik mungkin.

Si Dudun memandangi semuanya dengan mata sayu. Temannya yang terus bicara di dekatnya pun tak dihiraukannya. Diam-diam dalam hati si Dudun, ia iri melihat semua mahasiswa tersebut. Bagaimana mereka bisa begitu bersemangat mengerjakan tugas mereka? Apa yang salah dengan dirinya sehingga kehilangan semangat itu? Bisakah semangat tersebut kembali kepadanya? Ataukah si Dudun salah jurusan? “Mungkin aku hanya terlalu letih dengan semua ini”, kata si Dudun dalam hati.

“Lho, mienya belum dimakan dun?”

Juli 2009

Suasana pagi masih terasa ketika si Dudun berjalan di pinggir salah satu ruas jalan tersibuk di kota itu. Kendaraan bermotor tak henti-hentinya melewati si Dudun yang berjalan santai. Para orang tua duduk di depan kemudi, sibuk mencari jalan tercepat agar bisa mengantar putra-putri mereka tepat waktu. Suara-suara burung yang berkicau di pagi itu pun hanya terdengar sesekali, terhalang suara kendaraan yang lalu lalang. Si Dudun berdiri di ujung zebra cross, bersiap untuk menyeberang jalan.

Kelas masih sepi. Si Dudun mencari tempat duduk favoritnya, di sisi kanan tengah. Ini adalah hari pertamanya. Tidak ada orang yang dia kenal di situ. Dia menduduki bangku tersebut. Tak lama, beberapa orang mulai berdatangan. Si Dudun mulai berinisiatif untuk mencari kawan. Melihat orang terdekat dari tempat duduknya, ia pun menyapa dengan tersenyum.

“Hai, saya Dudun”

Desember 2008

Kepada ilkomerz **, terutama para bloggernya..

gimana kalo kita bikin aggregator untuk blog??
bahannya gampang kok, cuman butuh hosting (gratisan bisa, kalo ada yang mau bayarin lebih bagus).
Kemarin udah coba-coba bikin dan lumayan sukses, tinggal diterapin aja..

Yang mau tolong list alamat blognya.. kalo bisa sama link ke RSS feednya sekalian..
Yang mo nyumbang bayarin hosting+domain.. japri ya..
Kalau pada ngga mau,, ……

Maret 2010

We are just strangers, met by the Internet

Oktober 2008

Ting tong

Bunyi bel pintu menandakan ada sms yang masuk ke hape si Dudun. Si Dudun dengan sedikit kesulitan meraih hapenya dan membaca pesan yang ada di dalamnya.

Mas, gimana? Rabu besok bisa ngajar enggak?

“Rupanya si Bapak belum tau kabarnya ya?”, pikir si Dudun. Dengan perlahan, tanpa beranjak dari tempat tidur, si Dudun mulai membalas pesan tersebut.

Maaf pak, saya tidak bisa mengajar. Saat ini saya sedang dirawat di rumah sakit di ***.

Awalnya si Dudun berharap si Bapak paling tidak menunjukkan rasa simpati dengan mengirimkan sms balasan. Namun setelah beberapa saat tidak ada sms masuk lagi, si Dudun pun mencoba introspeksi karena telah mengecewakan si Bapak. “Biarlah ini menjadi pelajaran untukku”, pikir si Dudun.

Mei 2009

Selamat ya Dun, bisa diterima di ***

Eh? Si Dudun sendiri pun belum tahu mengenai masalah ini. Segera setelah melihat wall-nya, ia menuju ke situs resmi dan melihat namanya terpampang di sana. Rasa gembira menyelimutinya, well tidak terlalu gembira, tapi semua harus disyukuri kan? Ia pun segera mencari informasi ke sana-sini dan mulai menunggu acceptance letter. “Beberapa bulan lagi petualangan baru si Dudun akan segera dimulai“, pikirnya.

Mei 2010

Sudah hampir setahun sejak pengumuman penerimaan si Dudun. Ia telah menempuh sejengkal petualangannya dan kini tinggal satu minggu lagi menjelang pertempuran. Sebentar lagi si Dudun akan mengalami ujian yang akan menentukan sejarahnya di dunia. Apakah yang akan terjadi? Sukseskah ia?

Tinggalkan komentar

3 Komentar

  1. selamat.🙂

    Balas
  2. Ini pengalaman pribadi yak ?😀

    Balas
  3. @dhila:
    terima kasih..🙂

    @miftahgeek:
    menurut mas miftah? he3…

    Balas

Ada apa di pikiranmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: